Teori Flogiston
Georg Ernst Stahl
Georg Ernst Stahl
Georg Ernst Stahl (1659–1734), tokoh utama pengembang teori flogiston.
PencetusJohann Joachim Becher
Tokoh utamaGeorg Ernst Stahl, Henry Cavendish, Joseph Priestley
EraAbad ke-17 dan ke-18
Digantikan olehTeori Oksidasi (Antoine Lavoisier)

Teori flogiston (dari Yunani Kuno φλογιστόν phlogistón "terbakar") adalah sebuah teori ilmiah usang yang memberikan postulat bahwa terdapat elemen serupa api yang disebut flogiston yang terkandung di dalam benda-benda yang dapat terbakar dan dilepaskan selama pembakaran.[1]

Meskipun kini dianggap salah, teori ini mendominasi pemikiran kimia selama hampir satu abad (1667–1770-an) dan berfungsi sebagai transisi penting dari era alkimia menuju kimia modern berbasis eksperimen.[2]

Sejarah dan Konsep

sunting

Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Johann Joachim Becher pada tahun 1667 melalui bukunya Physica Subterranea. Becher menyebutnya sebagai terra pinguis (tanah berminyak). Konsep ini kemudian disempurnakan menjadi "flogiston" oleh Georg Ernst Stahl pada awal abad ke-18.

Inti Teori

sunting

Menurut Stahl, semua benda yang dapat terbakar terdiri dari bagian-bagian penyusun, salah satunya adalah flogiston. Proses kimia yang terjadi dijelaskan sebagai berikut:

  • Pembakaran: Ketika sebuah benda terbakar, flogiston dilepaskan dari benda tersebut ke udara. Sisa pembakaran yang tertinggal (seperti abu) dianggap sebagai zat murni yang sudah kehilangan flogistonnya.
  • Kalsinasi: Logam dianggap terdiri dari kals (oksida logam) dan flogiston. Pemanasan logam akan melepaskan flogiston dan menyisakan kals.
  • Udara: Udara dianggap hanya berperan sebagai media pengangkut. Jika udara sudah jenuh dengan flogiston, api akan padam.

Masalah dan Paradoks Massa

sunting

Seiring perkembangan teknik pengukuran, para kimiawan menemukan bahwa ketika beberapa logam dibakar, massa residu yang dihasilkan justru lebih berat daripada logam aslinya.[3] Secara logika, jika sebuah benda kehilangan sesuatu (flogiston), massanya seharusnya berkurang. Para pendukung teori ini sempat mengajukan hipotesis spekulatif bahwa flogiston memiliki "berat negatif".

Runtuhnya Teori

sunting

Akhir dari teori flogiston dipicu oleh penemuan Oksigen dan kerja keras Antoine Lavoisier antara tahun 1770 hingga 1785.[4] Lavoisier membuktikan bahwa: 1. Pembakaran membutuhkan gas dari udara (oksigen). 2. Pertambahan massa logam berasal dari penggabungan logam dengan oksigen. 3. Hukum kekekalan massa: massa total zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama.

Relevansi Modern

sunting

Meskipun salah secara substansi, teori ini memiliki kemiripan struktur dengan konsep modern. Pelepasan flogiston dalam pembakaran secara mekanis mirip dengan pelepasan elektron dalam reaksi oksidasi-reduksi kimia modern.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ Wisniak, J. (2023). "Phlogiston: The Rise and Fall of a Theory". Education in Chemistry.
  2. ^ Chang, H. (2012). Is Water H2O? Evidence, Realism and Pluralism. Springer Science & Business Media.
  3. ^ a b Schurz, G. (2022). Structural Correspondence and Scientific Realism. Routledge.
  4. ^ McEvoy, J. G. (2010). The Search for Chemical Metaphysics in the Chymical Revolution. Foundations of Chemistry.

Bacaan Lanjutan

sunting
  • Conant, J.B. (1950). The Overthrow of the Phlogiston Theory. Harvard University Press.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Joseph Priestley

of Phlogiston Established, and That of the Composition of Water Refuted, yang ia perluas ke dalam sebuah buku pada tahun 1803. Doctrine of Phlogiston memberikan

Georg Ernst Stahl

Ia meninggal di Berlin. Dalam bidang kimia, Stahl diingat akan teori phlogiston. Ia juga memainkan peranan penting dalam biokimia. Stahl juga membuat

Nitrogen

unterschiedenen Flußigkeiten bestehe, von welchen die eine die Eigenschaft das Phlogiston anzuziehen gar nicht äussere, die andere aber zur solchen Attraction eigentlich

Richard Lubbock

McKie, Douglas (1937-10-15). "Historical studies on the phlogiston theory.—I. The levity of phlogiston". Annals of Science. 2 (4): 361–404. doi:10.1080/00033793700200691

Daniel Rutherford

"Rediscovery of the Elements: Daniel Rutherford, nitrogen, and the demise of phlogiston," The Hexagon (of Alpha Chi Sigma), 106 (1): 4–8. Available on-line at:

Doorways in the Sand

Ohio. Alex Heatley (October 5, 2011). "Interview with Roger Zelazny". Phlogiston 44. Diakses tanggal 26 February 2013. "Author Information: Roger Zelazny"

Sejarah ilmu

pengenalan tentang oksigen dan hukum kekekalan massa, yang membantah Teori phlogiston. Teori bahwa semua materi terbuat dari atom, yang merupakan unsur terkecil

Marie-Anne Paulze Lavoisier

Penerjemahan ini termasuk pada karya Richard Kirwan berjudul Essay on Phlogiston yang membahas keberadaan flogiston, yang diyakini terdapat dalam semua