Perang proksi / perang fraksi (Bahasa Inggris: proxy war) adalah perang antar dua negara atau aktor non-negara yang terjadi karena dorongan atau mewakili pihak lain yang tidak terlibat langsung di pertempuran.[1] Agar sebuah konflik dapat dikategorikan sebagai perang proksi, pihak yang berkonflik harus memiliki hubungan langsung yang sifatnya jangka panjang dengan faktor eksternal. Hubungan ini bisa berbentuk pendanaan, pelatihan militer, penyediaan senjata, serta bentuk dukungan lainnya yang dibutuhkan untuk membantu upaya perang. Aktor yang bertikai dalam sebuah perang proksi tidak hanya berupa pemerintahan sebuah negara, melainkan juga bisa aktor kekerasan non-negara seperti milisi, tentara bayaran, dan pihak ketiga lainnya.

Perang proksi tidak hanya berperang menggunakan kekuatan militer, tetapi juga melalui berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum. Perang proksi biasanya melibatkan konfrontasi antar dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung karena konflik secara langsung antar kedua kekuatan tersebut akan berisiko kehancuran yang jauh lebih besar. Perang ini sering terjadi pada saat Perang Dingin, di mana masing-masing Blok Barat dan Timur beradu pengaruh dan kepentingan secara tidak langsung lewat konflik di negara-negara berkembang yang ada di Afrika, Asia, atau Amerika Selatan. Dalam Perang Dingin, perang proksi menjadi metode yang marak digunakan karena konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dapat berujung pada perang nuklir yang memiliki dampak kerusakan masif.[2]

Beberapa konflik pada abad ke-21 sering dianalisis sebagai contoh perang proksi, seperti konflik di Suriah, Yaman, dan Ukraina. Dalam konflik tersebut, berbagai negara seperti Rusia, Iran, Turki, serta anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memberikan dukungan kepada pihak-pihak yang bertikai. Dukungan ini memungkinkan negara-negara tersebut memengaruhi arah konflik sekaligus menghindari eskalasi langsung yang dapat memperluas perang menjadi konfrontasi antarnegara besar.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ Osmańczyk, Jan Edmund: "Encyclopedia of the United Nations and International Agreements", halaman 1869. Routledge Books, 2002
  2. ^ "Proxy War". Zenius. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-06-08. Diakses tanggal 8 Juni 2021.
  3. ^ Rungxuo, Xu (2025-11-03). "Proxy wars in a multipolar world: mechanisms of strategic influence and power reconfiguration". www.tandfonline.com. doi:10.1080/01436597.2025.2568183. Diakses tanggal 2026-03-25.
  • Bernd Greiner / Christian Müller / Dierk Walter (Ed.): Heiße Kriege im Kalten Krieg. Hamburg 2006, ISBN 3-936096-61-9 (Review by H. Hoff, Review by I. Küpeli Diarsipkan 2013-04-26 di Wayback Machine.)
  • Scott L. Bills: The world deployed: US and Soviet military intervention and proxy wars in the Third World since 1945. From: Robert W. Clawson (Ed.): East West rivalry in the Third World. Wilmington 1986, p. 77-101.
  • Chris Loveman: Assessing the Phenomeon of Proxy Intervention. From Journal of Conflict, Security and Development, edition 2.3, Routledge 2002, pp 30–48.


📚 Artikel Terkait di Wikipedia

MDS Retailing

PT Multipolar Tbk membeli 48,2% saham milik Hari (kemudian menaikkannya menjadi 60%), sementara sebaliknya Hari mendapatkan 10% saham di Multipolar di

Organisasi Kerja Sama Shanghai

ISSN 1540-1650. "A/52/153 - S/1997/384 Russian-Chinese Joint Declaration on a Multipolar World and the Establishment of a New Intl. Order". web.archive.org. 2017-06-23

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara

dalam bentuk peningkatan perlombaan senjata di kawasan. Kontur dimensi multipolar yang kian kompleks mengharuskan tiap negara anggota ASEAN untuk adaptif

DFI Retail Nusantara

Hero Supermarket menjadi target akuisisi. Awalnya, Grup Lippo melalui PT Multipolar Tbk dan PT Matahari Putra Prima Tbk yang dikabarkan akan mengakuisisi

Walmart

berasal dari Arkansas. Bisnis yang ditangani oleh anak usaha PT Multipolar Tbk, PT Multipolar Perkasa ini berencana untuk membangun 5 gerai di Jabotabek dan

Angkatan Bersenjata Amerika Serikat

Subramanian, Krithika (17 Oktober 2015). The End of Globalization or a more Multipolar World? (Report). Credit Suisse AG. Diarsipkan dari asli tanggal 15 Februari

Rusia

geopolitik Rusia sering diperdebatkan, terutama dalam pandangan unipolar dan multipolar dalam sistem perpolitikan global. Rusia umumnya diterima sebagai kekuatan

Masuknya Kesultanan Utsmaniyah ke kancah Perang Dunia I

sebelumnya. Iklim politik internasional pada awal abad ke-20 bersifat multipolar, tanpa ada satu atau dua negara yang mendominasi. Multipolaritas secara