Cyberchondria adalah perilaku abnormal dalam pencarian informasi kesehatan di internet yang meningkatkan kecemasan.[1] Istilah ini muncul pada awal 2000-an melalui artikel BBC News “‘Cyberchondria’ hits web users”[2]dan The Independent “Are you a cyberchondriac? You're only a mouse-click away from an instant diagnosis or a pill on the tongue”.[3] Cyberchondria Berasal dari kata hipokondria, ketakutan berlebih terhadap penyakit[4] dengan tambahan kata cyber yang mengaitkannya dengan dunia daring.

Fenomena ini dikaitkan dengan peningkatan stres serta penurunan persepsi terhadap kesejahteraan individu.[5] Individu yang mengalami cyberchondria cenderung meyakini dan melakukan diagnosis terhadap kondisi kesehatannya sendiri tanpa adanya klasifikasi langsung dari tenaga ahli kesehatan. Tindakan tersebut dapat menimbulkan kecemasan yang berkelanjutan.[6]

Faktor Penyebab Cyberchondria

sunting

Faktor penyebab cyberchondria meliputi psikologis, perilaku, lingkungan, dan demografi. Secara psikologis, perasaan rendah diri, kecemasan kesehatan, dan gangguan obsesif kompulsif meningkatkan kerentanan terhadap cyberchondria, hubungan antara faktor-faktor ini dapat membentuk siklus berulang yang memperburuk pandangan diri.[7] Selain itu, pengabaian data statistik (base rate neglect) membuat individu meyakini dirinya mengidap penyakit langka.[8] Secara perilaku, pencarian berulang informasi kesehatan membuat individu lebih jarang mencari bantuan profesional.[9] Faktor lingkungan seperti situasi pandemi COVID-19 memperkuat kecemasan dan ketergantungan terhadap informasi daring.[10] Secara demografis, perempuan lebih rentan karena faktor kognitif, keyakinan metakognitif, dan fluktuasi hormon,[11][12] sementara individu yang lebih tua cenderung lebih sedikit mengalaminya.[13]

Gejala Cyberchondria  

sunting

Penderita cyberchondria menunjukkan perilaku kompulsif, yaitu tindakan berulang untuk mencari kepastian terkait kondisi kesehatan meskipun justru meningkatkan kecemasan.[14] Individu sulit mengendalikan dorongan untuk terus mencari informasi kesehatan di internet guna memperoleh keyakinan.[5]

Perilaku ini muncul akibat pemikiran yang dipicu ketidaktahuan terhadap gejala somatik ringan. Penderita cenderung melebih-lebihkan gejala tersebut dan mendiagnosisnya sebagai penyakit serius seperti kanker atau jantung.[15] Pencarian informasi kesehatan dilakukan sebagai cara menghadapi kecemasan akibat ketakutan tersebut.[16]

Ketika menemukan informasi melalui pencarian daring, individu tersebut akan merasakan kelegaan sementara, namun rasa cemas dan tekanan justru meningkat pada pencarian berikutnya. Pola ini menunjukkan siklus berulang antara pencarian dan peningkatan kecemasan. Selain itu, individu dengan cyberchondria sering kali memprioritaskan aktivitas pencarian daring dibandingkan kepentingan lain dalam kehidupannya, bahkan ketika tindakan tersebut telah menimbulkan konsekuensi negatif. Perilaku ini terus berlanjut dan cenderung meningkat seiring waktu.[17]

Dampak Negatif  

sunting

Cyberchondria dapat mengakibatkan kesehatan mental seseorang menurun. Hal itu dimulai dengan paranoia yang ditimbulkan oleh rasa takut yang berlebihan mengenai penyakit diagnosis mandiri. Individu dapat mengalami stres dan kecemasan berlebih hingga depresi.[18] karena kesehatan mental mengalami penurunan, kesehatan fisik pun juga akan mengalami penurunan. Stres yang ditimbukan paranoia akan mengakibatkan seseorang sulit tidur. Dalam psikologis, kesehatan mental dapat memengaruhi fisiologis dalam prinsip mind-body.[19] Selain karena paranoia, rasa penasaran dan ingin tahu yang besar juga dapat menyebakan individu terjaga tanpa istirahat.

Rasa penasaran tersebut dapat berkembang menjadi obsesi untuk memastikan segala gejala yang berpotensi menjadi penyakit mematikan. Tatap layar pun dilakukan dalam durasi yang tidak sedikit sehingga adiksi gawai dapat dialami individu.[20] Karena begitu percaya dengan apapun hasil penelusuran di internet, misinformasi dapat terjadi jika individu tidak hati-hati dalam memilah informasi. Niat ingin memperingatkan orang terdekat untuk waspada tetapi hal tersebut dapat meyebarluaskan kesemasan dan ketakutan terhadap diagnosis gejala penyakit yang belum tentu benar.[21]

Kurangnya kontrol terhadap validitas dan kebenaran informasi adalah permasalahan utama dalam penyebaran informasi kesehatan daring. Internet memungkinkan siapa pun untuk menambahkan atau mengubah konten dengan tujuan tertentu, termasuk yang bersifat provokatif.[22] Akibatnya, individu yang mencari informasi mengenai penyakit tertentu dapat mengalami kebingungan dana kecemasan setelah membaca berbagai ulasan yang saling bertentangan.[23] Informasi yang ambigu, tidak memadai, atau saling bertentangan di internet berpotensi meningkatkan ketidakpastian dan tekanan psikologis.

Algoritma internet yang menyesuaikan hasil pencarian dengan preferensi pengguna dapat menimbulkan keyakinan keliru bahwa individu dapat melakukan diagnosis mandiri berdasarkan informasi daring. Perilaku tersebut berisiko menunda pencarian bantuan profesional, seperti konsultasi dengan dokter atau psikolog, serta menurunkan tingkat kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.[24] Pemahaman yang keliru terhadap informasi kesehatan juga dapat memengaruhi keyakinan seseorang mengenai kondisi mentalnya. Hasil pencarian daring berpotensi membentuk persepsi dan perilaku individu dalam mencari layanan kesehatan serta memengaruhi tingkat kepercayaan terhadap saran profesional.[1]

Dampak Positif

sunting

Pencarian informasi kesehatan secara daring dapat memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi tanpa memerlukan biaya besar.[1] Individu dapat memahami kondisi tubuh atau gejala yang dialami sebelum berkonsultasi dengan tenaga medis. Selain itu, pencarian daring juga membantu individu menemukan sumber dukungan psikologis, seperti layanan konseling daring, komunitas pendukung, dan sumber edukasi yang dapat mengurangi perasaan terisolasi.[25]

Pencarian informasi secara daring juga menimbulkan peningkatan literasi kesehatan, yaitu kemampuan individu untuk memahami dan menggunakan informasi kesehatan secara efektif. Literasi kesehatan yang tinggi memungkinkan individu menafsirkan informasi secara akurat dan membuat keputusan kesehatan yang tepat. Sebaliknya, tingkat literasi kesehatan yang rendah dapat meningkatkan kerentanan terhadap misinformasi, yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran berlebih terhadap kondisi kesehatan.[26]

Penanganan Cyberberchondria

sunting

Cyberchondria merupakan perilaku emosional akibat pencarian informasi berlebihan di internet yang meningkatkan kecemasan kesehatan. Salah satu metode efektif untuk menanganinya adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT).[27] CBT bekerja dengan mengurangi komponen perilaku dan emosional melalui peningkatan kesadaran terhadap frekuensi pencarian online serta pengendalian diri.[28]

Dalam penelitian Jill M. Newby dan Eion McElroy menunjukkan kelompok CBT mengalami penurunan perilaku cyberchondria signifikan dibandingkan kelompok kontrol. CBT membantu individu menafsirkan sensasi tubuh secara lebih rasional dan meningkatkan toleransi terhadap ketidakpastian. Dengan demikian, metode CBT dapat menurunkan kecemasan dan membantu individu berpikir lebih objektif setelah melakukan pencarian informasi.[28]

Hasil Kajian Jurnal

sunting

Studi kasus pada jurnal ‘The effect of cyberchondria on anxiety and surgical fear levels in surgical oncology patients’ [29] mencatat bahwa sebesar 66.9% pasien di klinik general, rumah sakit universitas di Turki terdampak negatif oleh informasi yang diperoleh secara daring setelah didiagnosa mengidap kanker. Hal tersebut mengakibatkan para pasien memilki ketakutan dan kecemasan terhadap kemungkinan pulih atau kehilangan organ. Studi ini menunjukan bahwa fenomena cyberchondria dapat memengaruhi status psikologi seseorang.

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Starcevic, Vladan (2017). "Cyberchondria: Challenges of Problematic Online Searches for Health-Related Information". Psychotherapy and Psychosomatics (dalam bahasa Inggris). 86 (3): 129–133. doi:10.1159/000465525. ISSN 0033-3190.
  2. ^ "'Cyberchondria' hits web users" (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2001-04-13. Diakses tanggal 2025-10-11.
  3. ^ "UBS Warburg jumps to third place in European M&A league". The Independent (dalam bahasa Inggris). 2000-10-04. Diakses tanggal 2025-10-11.
  4. ^ "KBBI Daring". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 2025-10-11.
  5. ^ a b Santoro, Gianluca; Starcevic, Vladan; Scalone, Andrea; Cavallo, Josephin; Musetti, Alessandro; Schimmenti, Adriano (2022-09-12). "The Doctor Is In(ternet): The Mediating Role of Health Anxiety in the Relationship between Somatic Symptoms and Cyberchondria". Journal of Personalized Medicine (dalam bahasa Inggris). 12 (9): 1490. doi:10.3390/jpm12091490. ISSN 2075-4426. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  6. ^ Doherty-Torstrick, Emily R.; Walton, Kate E.; Fallon, Brian A. (2016). "Cyberchondria: Parsing Health Anxiety From Online Behavior". The Academy of Psychosomatic Medicine. 57 (4): 390–400. doi:10.1016/j.psym.2016.02.002.
  7. ^ Bajcar, Beata; Babiak, Jolanta (2021-06-01). "Self-esteem and cyberchondria: The mediation effects of health anxiety and obsessive–compulsive symptoms in a community sample". Current Psychology (dalam bahasa Inggris). 40 (6): 2820–2831. doi:10.1007/s12144-019-00216-x. ISSN 1936-4733.
  8. ^ Nicolai, Jennifer; Moshagen, Morten; Schillings, Katharina; Erdfelder, Edgar (2022-10-01). "The role of base-rate neglect in cyberchondria and health anxiety". Journal of Anxiety Disorders. 91: 102609. doi:10.1016/j.janxdis.2022.102609. ISSN 0887-6185.
  9. ^ Mathes, Brittany M.; Norr, Aaron M.; Allan, Nicholas P.; Albanese, Brian J.; Schmidt, Norman B. (2018-03-01). "Cyberchondria: Overlap with health anxiety and unique relations with impairment, quality of life, and service utilization". Psychiatry Research. 261: 204–211. doi:10.1016/j.psychres.2018.01.002. ISSN 0165-1781.
  10. ^ "Cyberchondria in the time of the COVID‐19 pandemic" (dalam bahasa Inggris). doi:10.1002/hbe2.233. PMC 7753572. PMID 33363277.
  11. ^ Bahrami, Fatemeh; Yousefi, Naser (2011). "Females are more anxious than males: a metacognitive perspective". Iranian Journal of Psychiatry and Behavioral Sciences. 5 (2): 83–90. ISSN 1735-8639. PMC 3939970. PMID 24644451.
  12. ^ Farhane-Medina, Naima Z.; Luque, Bárbara; Tabernero, Carmen; Castillo-Mayén, Rosario (2022-10-01). "Factors associated with gender and sex differences in anxiety prevalence and comorbidity: A systematic review". Science Progress (dalam bahasa Inggris). 105 (4): 00368504221135469. doi:10.1177/00368504221135469. ISSN 0036-8504. PMC 10450496. PMID 36373774.
  13. ^ Laato, Samuli; Islam, A. K. M. Najmul; Islam, Muhammad Nazrul; Whelan, Eoin (2020-05-03). "What drives unverified information sharing and cyberchondria during the COVID-19 pandemic?". European Journal of Information Systems. 29 (3): 288–305. doi:10.1080/0960085X.2020.1770632. ISSN 0960-085X.
  14. ^ Starcevic, Vladan; Berle, David (2013-02-01). "Cyberchondria: towards a better understanding of excessive health-related Internet use". Expert Review of Neurotherapeutics. 13 (2): 205–213. doi:10.1586/ern.12.162. ISSN 1473-7175. PMID 23368807.
  15. ^ Perrault, Evan K.; Hildenbrand, Grace M.; McCullock, Seth P.; Schmitz, Katie J.; Lambert, Natalie J. (2020-01-01). "Online information seeking behaviors of breast cancer patients before and after diagnosis: From website discovery to improving website information". Cancer Treatment and Research Communications. 23: 100176. doi:10.1016/j.ctarc.2020.100176. ISSN 2468-2942.
  16. ^ "Account Suspended". ejournal.gunadarma.ac.id. doi:10.35760/psi.2023.v16i2.7920. Diakses tanggal 2025-10-11.
  17. ^ Vismara, Matteo; Caricasole, Valentina; Starcevic, Vladan; Cinosi, Eduardo; Dell'Osso, Bernardo; Martinotti, Giovanni; Fineberg, Naomi A. (2020). "Is cyberchondria a new transdiagnostic digital compulsive syndrome? A systematic review of the evidence". Comprehensive Psychiatry. 99. doi:10.1016/j.comppsych.2020.152167.
  18. ^ Maksimenko, Aleksandr A.; Александрович, Максименко Александр; Maksimenko, Aleksandr A.; Zolotareva, Alena A.; Анатольевна, Золотарева Алена; Zolotareva, Alena A.; Kashirskiy, Dmitry V.; Валерьевич, Каширский Дмитрий (2025-08-01). "From Screens to Sleeplessness: How Digital Stressors Are Linked to Sleep Characteristics in the Russian Population". Ekologiya cheloveka (Human Ecology) (dalam bahasa Rusia). 32 (3): 207–218. doi:10.17816/humeco646356. ISSN 2949-1444.
  19. ^ Schultz, Duane P. (2013). A History of Modern Psychology (Edisi 2nd ed). Burlington: Elsevier Science. ISBN 978-1-4832-7008-1.
  20. ^ Angkasa, Renaldy; Juanta, Palma; Halim, Gabriella (2025-06-15). "Analisis Hubungan Lama Pengunaan Gadget dengan Tingkat Stress Mahasiswa". INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi (dalam bahasa Inggris). 4 (3): 265–271. doi:10.55123/insologi.v4i3.4839. ISSN 2828-4984.
  21. ^ PURWANTO, PURWANTO; Harahap, Dedy Ansari; Amanah, Dita; Gunarto, Muji (2021). "Efek Beban Informasi Media Sosial terhadap Respon Psikologis dan Niat Isolasi Mandiri serta Pembelian Tidak Biasa Selama Pandemi Covid-19". Jurnal Manajemen (Edisi Elektronik) (dalam bahasa Inggris). 12 (2): 144–163. ISSN 2301-4628.
  22. ^ Islah, Fadhil Maliky; Akhdisholikhah, Riza; Afifah, Yasmin Nur; Satyaputri, Sharita; Afiatin, Tina (2023). Riset-riset dalam cyberpsychology. Sleman: Zahir Publishing. ISBN 978-623-466-192-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ^ Fitri, Annisa; Ulfa, Fara; Jannah, Putri Miftahul (2024). "Gambaran Cyberchondria Pada Remaja". PERSEPSI: Jurnal Riset Mahasiswa Psikologi. 3 (1). ISSN 2986-1470. ;
  24. ^ Pawar, Priya; Kamat, Ashok; Salimath, Gavishiddhayya; Jacob, Kiran Rose; Kamath, Rajesh (2022). "Prevalence of Cyberchondria among Outpatients with Metabolic Syndrome in a Tertiary Care Hospital in Southern India". The Scientific World Journa. 2022 (1). doi:10.1155/2022/3211501. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  25. ^ Al-Dmour, Hani; Masa'deh, Ra'ed; Salman, Amer; Abuhashesh, Mohammad; Al-Dmour, Rand (2020). "Influence of Social Media Platforms on Public Health Protection Against the COVID-19 Pandemic via the Mediating Effects of Public Health Awareness and Behavioral Changes: Integrated Model". Journal of Medical Internet Research. 22 (8). doi:10.2196/19996. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  26. ^ Sert, Kardelen; Altındağ, Erkut; Öngel, Gökten (2025). "Between knowledge and anxiety: 'Unveiling the impact of cyberchondria and health literacy on academics' quality of life in foundation universities". International Journal of Innovative Research and Scientific Studies. 8 (4): 997–1012. doi:10.53894/ijirss.v8i4.7984.
  27. ^ Rahim, Aiman; Naz, Humaira (2023-09-30). "Efficacy of CBT in the Management of Cyberchondria: A Comparative Study". Human Nature Journal of Social Sciences (dalam bahasa Inggris). 4 (3): 265–275. doi:10.71016/hnjss/gqzgw248. ISSN 2788-5240.
  28. ^ a b Newby, Jill M.; McElroy, Eoin (2020-01-01). "The impact of internet-delivered cognitive behavioural therapy for health anxiety on cyberchondria". Journal of Anxiety Disorders. 69: 102150. doi:10.1016/j.janxdis.2019.102150. ISSN 0887-6185.
  29. ^ Polat, Hatice; Kapıkıran, Gürkan; Kartal, Mert (2025-04). "The effect of cyberchondria on anxiety and surgical fear levels in surgical oncology patients". Current Psychology (dalam bahasa Inggris). 44 (7): 6531–6540. doi:10.1007/s12144-025-07639-9. ISSN 1046-1310.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Outlook

memberikan kemampuan navigasi di seluruh halaman tanpa harus menggunakan mouse, kemampuan untuk mencari pesan-pesan pengguna yang mengandung syntax query

Five Nights at Freddy's 3

at Freddy's 3 (FNaF 3) adalah permainan video horor kesintasan point-and-click yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Scott Cawthon. Ini adalah angsuran

Windows Vista

dalam infrastruktur keamanan, peningkatan bagi instalasi program aplikasi ("ClickOnce" dan Windows Installer 4.0), model baru untuk device driver ("Windows

Perpustakaan Nasional Republik Ceko

8 May 2014. "National Library's rare prints and manuscripts at the click of a mouse". Radio Prague. 24 November 2005. Diakses tanggal 8 May 2014. Tucker

Orang Skotlandia

globe." Macniven, Duncan (March 2004). "Find your ancestors in the click of a mouse". scotland.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-05-02. Diakses tanggal

React

react-dom/profiling; menambahkan event onAuxClick untuk browser; menambahkan movementX dan movementY fields ke mouse events; menambahkan tangentialPressure

25 (album Adele)

serta kolaborasi baru dengan Max Martin dan Shellback, Greg Kurstin, Danger Mouse, the Smeezingtons, Samuel Dixon, dan Tobias Jesso Jr. 25 menerima ulasan

Douglas Engelbart

preservation of the Augment system SRI mouse Diarsipkan 2008-09-28 di Wayback Machine. Nerd TV, Inventer of the mouse hour long video interview by Robert