| Gunung Tsukuba | |
|---|---|
| 筑波山 | |
Pemandangan dari Chikusei, Ibaraki | |
| Titik tertinggi | |
| Ketinggian | 877 m (2.877 ft) |
| Masuk dalam daftar | 100 Gunung Terkenal Jepang |
| Koordinat | 36°13.31′N 140°06.24′E / 36.22183°N 140.10400°E |
| Geografi | |
| Letak | Tsukuba, Ibaraki, Jepang |
| Pegunungan | Pegunungan Yamizo |
| Geologi | |
| Jenis gunung | granit, gabro |

Gunung Tsukuba (筑波山, Tsukuba-san) adalah gunung setinggi 877 meter (2.877 ft) yang terletak di ujung utara Tsukuba, Prefektur Ibaraki, Jepang. Gunung ini merupakan salah satu gunung paling terkenal di Jepang, yang dikenal karena puncak gandanya, Nyotai-san (女体山, tubuh wanita) setinggi 877 meter (2.877 ft) dan Nantai-san (男体山, tubuh pria) setinggi 871 meter (2.858 ft). Banyak orang mendaki gunung yang disebut "gunung ungu" ini setiap tahun untuk menikmati pemandangan panorama dataran Kantō dari puncaknya. Pada hari-hari cerah, cakrawala Tokyo, Danau Kasumigaura, hingga Gunung Fuji dapat terlihat dari puncaknya. Jika sebagian besar gunung di Jepang adalah gunung berapi, Gunung Tsukuba merupakan gunung granit dan gabro nonvulkanik. Batu granit yang terkenal indah masih diproduksi di tambang-tambang di wilayah utara hingga saat ini.
Obat antipenolakan dan imunomodulator takrolimus diproduksi oleh bakteri tanah Streptomyces tsukubensis. Sementara nama takrolimus berasal dari "Tsukuba macrolide immunosuppressant".[1]
Etimologi
suntingFudoki dari Provinsi Hitachi (常陸国風土記, Hitachi no kuni Fudoki), sebuah buku geografi nasional yang diselesaikan pada tahun 721 M, mengatakan bahwa Gunung Tsukuba dinamai dari nama seorang bangsawan bernama Tsukuha no Mikoto (築箪命).[2] Menurut catatan ini, daerah sekitar Gunung Tsukuba dulunya disebut Ki no kuni (紀国). Di masa pemerintahan Mimaki no Sumeramikoto (美麻貴天皇) (Kaisar Sujin), Tsukuha no Mikoto dari klan Uneme (采女氏) diangkat sebagai gubernurnya. Ia mempunyai tekad yang kuat untuk menorehkan namanya dalam catatan sejarah, sehingga ia mengganti nama daerah ini menjadi "Tsukuha", yang sekarang diucapkan Tsukuba.[2]
Sejarah
sunting

Menurut legenda, ribuan tahun yang lalu, seorang dewa turun dari langit dan memohon dua gunung untuk menjadi tempatnya bermalam. Dengan puncaknya yang megah dan kerucutnya yang hampir sempurna, Gunung Fuji menolak, dengan pongah dan angkuh percaya bahwa ia tak butuh rahmat dewa tersebut. Gunung Tsukuba, di sisi lain, dengan rendah hati menyambut tamu terhormat itu, bahkan menawarkan makanan dan air. Kini, Gunung Fuji menjadi gunung yang dingin, sepi, dan tandus, sementara Gunung Tsukuba dipenuhi vegetasi dan warna-warni seiring pergantian musim.
Catatan sejarah kuno mengatakan bahwa leluhur suci bangsa Jepang diabadikan di sini, dewa laki-laki, Izanagi-no-Mikoto, di Gunung Nantai, dan dewa perempuan, Izanami-no-Mikoto, di Gunung Nyotai. Legenda mengatakan bahwa kedua dewa tersebut menikah dan melahirkan dewa-dewa lain, dan bahkan menciptakan Kepulauan Jepang.
Pada zaman dahulu, Gunung Nyotai menjadi lokasi kagai − festival panen yang berhubungan dengan kesuburan − yang memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam pernikahan di pegunungan dan mendorong pernikahan antara manusia. Sebuah puisi karya Takahashi no Mushimaro dalam antologi Man'yōshū menyiratkan bahwa festival-festival ini juga memperbolehkan perzinahan:[3]
「鷲住 筑波乃山之 裳羽服津乃 其津乃上尓 率而 未通女壮士之 徃集 加賀布嬥歌尓 他妻尓 吾毛交牟 吾妻尓 他毛言問 此山乎 牛掃神之 従来 不禁行事叙 今日耳者 目串毛勿見 事毛咎莫」
“Washi no sumu / Tsukuha no yama no / Mohakitsu no / sono tsu no ue ni / adomohite / wotome wotoko no / yukitsudohi / kagafu kagahi ni / hitozuma ni / ware mo majiramu / waga tsuma ni / hito mo kototohe / kono yama wo / ushihaku kami no / mukashi yori / isamenu waza zo / kefu nomi ha / megushi mo na miso / koto mo togamu na”
“Di Gunung Tsukuba / Tempat tinggal para elang / Dekat Sumur Mohakitsu, / Saling mencari, dalam nyanyian Kagai, / Aku akan mencari istri orang lain / Dan membiarkan orang lain merayu istriku. / Para dewa yang bersemayam di gunung-gunung ini / Telah mengizinkan ini / Sejak zaman dahulu; / Jangan membuat pengecualian hari ini / Dan jangan mencela para kekasih / Dan jangan menyalahkan mereka.”
Galeri
sunting-
Kereta Gantung Tsukuba menghubungkan kaki gunung.
-
Kereta Gantung Tsukuba.
-
Kuil Shinto di Gunung Tsukuba.
Referensi
sunting- ^ Ponner, B, Cvach, B (Fujisawa Pharmaceutical Co.): Protopic Update 2005
- ^ a b Takeda, Yukichi, ed. (1937), Fudoki (dalam bahasa Japanese), Tokyo: Iwanami Shoten (岩波書店), hlm. 49, ISBN 4-00-300031-5 Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ H. E. Plutschow (1990), Chaos and Cosmos. Ritual in Early and Medieval Japanese Literature, E. J. Brill, hlm. 120–122, ISBN 90-04-08628-5
Pranala luar
sunting- Mt. Tsukuba Area Geopark
- Mount Tsukuba - Ibaraki Prefectural Tourism & Local Products Association
- Mount Tsukuba Ropeway - Japan National Tourist Organization
- 筑波山 Diarsipkan 2018-02-01 di Wayback Machine. - Tsukuba Tourism and Convention Association (Japanese)