| Lalat tentara hitam | |
|---|---|
| Hermetia illucens | |
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Arthropoda |
| Kelas: | Insecta |
| Ordo: | Diptera |
| Famili: | Stratiomyidae |
| Genus: | Hermetia |
| Spesies: | H. illucens
|
| Nama binomial | |
| Hermetia illucens Linnaeus 1758
| |
| Sinonim[1] | |
|
Daftar
| |
Lalat tentara hitam (LTH) (nama ilmiah: Hermetia illucens) adalah salah satu jenis lalat yang banyak ditemukan di tempat-tempat yang terdapat sampah organik.[2] Lalat tentara hitam (Bahasa Inggris: Black Soldier Fly, disingkat BSF) adalah termasuk kedalam golongan ordo Diptera, family Stratiomyidae dengan genus Hermetia.
Larva dari lalat ini (Larva LTH) banyak dimanfaatkan untuk mengelola limbah. Karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengurai sampah organik. Larva ini memanfaatkan limbah tersebut sebagai sumber makanannya. Kemampuan larva dalam memakan sampah organik karena dalam ususnya terdapat bakteri selulolitik yang menghasilkan enzim selulase yang berperan dalam hidrolisis selulosa.[3] Pemanfaatan sampah organik ini secara tidak langsung membantu mengurangi sampah tersebut sehingga berperan dalam penanganan limbah organik.[3]
Ciri-ciri
suntingLalat tentara hitam mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai tawon. Ukuran panjang tubuh lalat dewasa sekitar 16 mm dengan dominasi warna hitam. Dengan refleksi metalik mulai dari biru hingga hijau di dada dan terkadang warna ujung perut yang kemerahan. Kepalanya lebar dengan antena yang panjangnya dua kali panjang kepalanya. Kakinya berwarna hitam dengan tarsi keputihan. Sayapnya memiliki membran; pada waktu istirahat, mereka dilipat secara horizontal di perut dan tumpang tindih.[4]
Siklus hidup
suntingLTH memiliki siklus metamorfosis sempurna dan memiliki 5 fase siklus metamorfosis dalam hidupnya. Siklus hidup ini terjadi kurang lebih selama 40 hari, dimulai dari fase telur, larva, prepupa, pupa kemudian menjadi lalat dewasa atau yang biasa disebut imago.[5] Serangga saprofag ini dapat menjadi agen biokonversi karena dapat mengubah limbah organik menjadi produk yang bernilai seperti pupuk maupun pakan ternak.[6]
1. Lalat dewasa (Imago)
suntingMeskipun memiliki tubuh berwarna hitam dan cukup besar sehingga sering disamakan dengan tawon, LTH dikategorikan sebagai lalat karena memiliki dua pasang sayap yang khas pada Ordo Diptera. Lalat dewasa memiliki umur yang relatif singkat yaitu 5-8 hari. Sepanjang hidupnya LTH tidak makan, dan hanya mengandalkan nutrisi dari masa larva ataupun meminum air. [7]
2. Telur
suntingUkuran telur LTH cukup kecil dengan ukuran <1 mm dengan bentuk oval dengan warna krem kekuningan. Telur ini akan menetas menjadi larva muda (neonate) dengan optimal pada suhu 28-35°C dengan kelembapan 60%-80% pada substrat organik yang bernutrisi. [8]
3. Larva
suntingSetelah menetas dari telur maka fase selanjutnya adalah larva atau yang dikenal dengan Larva lalat tentara hitam (LLTH). Larva serangga ini mengalami 6 fase instar yang ditandai dengan perubahan ukuran dan warna kulit hingga mencapai ukuran 16-18 mm. Pada kondisi yang optimal dengan berat larva dapat mencapai sekitar 150-200 mg dalam kurun waktu > 7 hari. [7] Fase larva adalah fase yang paling produktif sebab larva dapat mengonsumi limbah organik bahkan hingga 3 kali lipatr bobot tubuhnya.
4. Prepupa
suntingFase prepupa ditandai dengan perubahan warna tubuh menjadi coklat kehitaman. Biasanya, prepupa akan bermigrasi ke tempat yang lebih kering untuk berlanjut ke fase hidup selanjutnya. Fase ini dapat berlangsung kurang lebih 7-10 hari bergantung dari jenis nutrisi pakan yang dikonsumsi dan keadaan lingkungan. [7]
5. Pupa
suntingPupa ditandai dengan perubahan warna menjadi lebih hitam dan tubuh yang tidak bergerak juga mengeras. Proses ini disebut dengan pupasi dan biasanya berlangsung dalam kurun waktu waktu 10 hari hingga satu bulan hingga pupa siap untuk berubah menjadi lalat dewasa (imago). Hal ini dapat terjadi karena proses metamorfosis sangat tergantung pada kondisi keadaan biotik dan abiotik dimana serangga berada. [7]
Larva Lalat Tentara Hitam
suntingLarva lalat tentara hitam (LLTH) biasanya ditemukan pada limbah organik yang telah membusuk. Biokonversi merupakan proses mengubah limbah organik menjadi produk yang berniali menggunakan agen biologis. Organisme yang umumnya berperan pada proses biokonversi ini adalah bakteri, jamur serta larva serangga (family: Chaliforidae, Mucidae, Stratiomydae).[9]
Fase hidup lalat tentara hitam rata-rata sekitar 7 hari. Lalat ini hanya minum, dan tidak memakan apa pun. Lalat Black Soldier tidak merupakan vector penyakit seperti lalat sampah yang hinggap di tumpukan sampah. Lalat ini bersih dan bersahabat dengan manusia berdasarkan manfaatnya. Seekor lalat Black Soldier betina mampu menghasilkan 500-900 telur dalam sekali perkawinannya, yang kemudian menetas dan menjadi larva.[10] Larva inilah yang disebut dengan maggot. Dalam sehari seekor maggot mampu mengkonsumsi makanan sebanyak dua kali dari berat beban tubuhnya. Makanan larva adalah sampah sampah organik, di mana sampah organik ini menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Dengan adanya maggot yang mengkonsumsi sampah organik, maka didapatlah manfaatnya yakni bisa menekan jumlah sampah organik yang ada di lingkungan kita seperti limbah dapur yakni sisa potongan sayur - sayuran, nasi basi dan sampah organik lainnya. Larva ini memanfaatkan limbah organik sebagai sumber makanannya.
Larva lalat tentara hitam mengandung protein dan asam amino yang lengkap, sehingga dapat digunakan sebagai sumber pakan alternatif yang baik untuk sebagian hewan ternak seperti unggas,ikan, serta sebagian hewan peliharaan seperti iguana, burung berkicau dan hewan peliharaan lainnya. Maggot juga mengandung anti jamur serta anti mikroba sehingga bila diasup oleh ikan akan tahan terhadap penyakit yang disebabkan jamur dan bakteria. Diluar itu, organ penyimpanan maggot yang disebut trophocytes berfungsi sebagai tempat menyimpan kandungan gizi yang ada pada media kultur yang dimakannya.[11]
Referensi
sunting- ^ ITIS Report
- ^ "Lalat Tentara Hitam Kurangi Sampah Organik". Pikiran Rakyat. 2018-03-09. Diakses tanggal 2018-05-24.
- ^ a b Supriyatna, Ateng (2016). "Screening and Isolation of Cellulolytic Bacteria from Gut of Black Soldier Flays Larvae (Hermetia illucens) Feeding with Rice Straw". Biosaintifika. 3. doi:10.15294/biosaintifika.v8i3.6762.
- ^ "Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly) Serangga yang Beragam Manfaat – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-03-07.
- ^ Admin (2022-05-30). "Maggot BSF : Kandungan dan Pemanfaatannya (Terbaru)". Cara Budidaya. Diakses tanggal 2023-03-07.
- ^ Purba, Intan Josefin (2025). MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS : Lewat Budidaya Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly). Yogyakarta: Pohon Cahaya. hlm. 100. ISBN MENGUBAH SAMPAH MENJADI EMAS : Lewat Budidaya Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c d Lievens, S.; Poma, G.; De Smet, J.; Van Campenhout, L.; Covaci, A.; Van Der Borght, M. (2021-07-02). "Chemical safety of black soldier fly larvae (Hermetia illucens), knowledge gaps and recommendations for future research: a critical review". Journal of Insects as Food and Feed. 7 (4): 383–396. doi:10.3920/JIFF2020.0081. ISSN 2352-4588.
- ^ Josefin Purba, Intan; Kinasih, Ida; Eka Putra, Ramadhani (2021-04-16). "Pertumbuhan Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens) dengan Pemberian Pakan Susu Kedaluwarsa dan Alpukat". Biotropika: Journal of Tropical Biology. 9 (1): 88–95. doi:10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.10.
- ^ Fahmi, Melta Rini; Hem, Saurin; Subamia, I. Wayan (2016-11-30). "POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN". Jurnal Riset Akuakultur. 4 (2): 221–232. doi:10.15578/jra.4.2.2009.221-232. ISSN 2502-6534.
- ^ "Black Soldier Fly (BSF) & Maggot BSF". MaggotBSF (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-28. Diakses tanggal 2020-10-04.
- ^ Azir, Akhmad (Juni 2017). "PRODUKSI DAN KANDUNGAN NUTRISI MAGGOT (Chrysomya Megacephala) MENGGUNAKAN KOMPOSISI MEDIA KULTUR BERBEDA" (PDF). Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan. 12 (1): 34–40.