Sindrom Tourette
Nama lainSindrom Tourette, gangguan Tourette, sindrom Gilles de la Tourette (GTS), gangguan kombinasi tik motorik multipel dan vokal [de la Tourette]
Seorang pria dengan jenggot gaya Edwardian yang pendek, berambut cepak, serta mengenakan mantel dan kerah bergaya Prancis sekitar tahun 1870.
Georges Gilles de la Tourette (1857–1904),
tokoh yang menjadi asal nama Sindrom Tourette
SpesialisasiPediatri, neurologi, psikiatri[1]
GejalaTik[2]
Awitan umumUmumnya pada masa anak-anak[2]
DurasiJangka panjang[3]
PenyebabGenetik dengan pengaruh lingkungan[4]
Metode diagnostikBerdasarkan riwayat dan gejala[2]
PenatalaksanaanEdukasi, terapi perilaku[2][5]
ObatBiasanya tidak ada, terkadang dengan pemberian obat-obatan neuroleptik dan noradrenergik[2]
PrognosisPada 80% kasus, tik membaik atau menghilang mulai akhir masa remaja[3]
FrekuensiSekitar 1% anak-anak dan remaja[6]
Antara 0,3% hingga 1,0% populasi keseluruhan[7]

Sindrom Tourette (TS) atau disebut sebagai Tourette saja, adalah sebuah gangguan motorik yang mulai terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja. Kondisi ini ditandai oleh adanya beberapa tik gerakan (motorik) dan setidaknya satu tik vokal (fonik). Tik yang umum meliputi berkedip, batuk, berdehem, mengendus, serta gerakan-gerakan pada wajah. Tik biasanya didahului oleh dorongan atau sensasi yang tidak diinginkan pada bagian tubuh yang terdampak, yang disebut sebagai dorongan premonitorik. Tik terkadang dapat ditekan untuk sementara waktu dan memiliki ciri khas yaitu berubah-ubah lokasi, kekuatan, dan frekuensinya. Sindrom Tourette berada pada ujung spektrum gangguan tik yang lebih berat. Tik sering kali tidak terdeteksi oleh pengamat biasa.

Dahulu, sindrom Tourette dianggap sebagai sebuah sindrom yang langka dan aneh serta secara populer dikaitkan dengan koprolalia (pengucapan kata-kata tidak senonoh atau ujaran-ujaran yang tidak sesuai norma sosial dan bersifat menghina). Saat ini, sindrom Tourette sudah tidak dianggap langka lagi; sekitar 1% anak-anak usia sekolah dan remaja diperkirakan menderita sindrom Tourette,[2] meskipun koprolalia hanya terjadi pada sebagian kecil kasus. Tidak terdapat pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis sindrom Tourette. Sindrom Tourette tidak selalu teridentifikasi dengan tepat karena sebagian besar kasus bersifat ringan dan tingkat keparahan tik berkurang pada sebagian besar anak seiring berjalannya masa remaja. Oleh karena itu, banyak kasus yang tidak terdiagnosis atau tidak pernah mendapatkan penanganan medis. Sindrom Tourette yang sangat berat pada orang dewasa, yang sering dilebih-lebihkan oleh media, jarang terjadi, tetapi pada sebagian kecil kasus, tik yang menyebabkan hendaya berat dapat menetap hingga usia dewasa.

Tidak ada terapi untuk menyembuhkan sindrom Tourette dan tidak ada satupun obat yang paling efektif untuk kondisi ini. Pada sebagian besar kasus, pemberian obat untuk tik tidak diperlukan, dan terapi perilaku merupakan terapi lini pertama. Edukasi merupakan bagian penting dari setiap rencana penanganan, dan penjelasan saja sering kali sudah memberikan keyakinan yang cukup bahwa tidak diperlukan penanganan lain.[2] Kondisi-kondisi lain, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktvitas (ADHD) dan gangguan obsesif kompulsif (OCD), lebih sering ditemukan pada pasien-pasien yang dirujuk ke praktik spesialis dibandingkan pada populasi umum penderita Tourette. Kondisi-kondisi penyerta ini sering kali menimbulkan gangguan fungsi yang lebih besar dibandingkan tik itu sendiri; sehingga, penting untuk secara tepat membedakan kondisi-kondisi penyerta tersebut dan menanganinya.

Sindrom Tourette dinamai oleh seorang ahli neurologi Prancis, Jean-Martin Charcot, berdasarkan nama asistennya, Georges Gilles de la Tourette, yang pada tahun 1885 menerbitkan sebuah laporan mengenai sembilan pasien dengan "gangguan tik konvulsif". Meskipun penyebab pasti sindrom Tourette belum diketahui, kondisi ini diduga melibatkan kombinasi faktor genetik dan faktor lingkungan. Mekanisme terjadinya sindrom Tourette tampaknya melibatkan disfungsi pada sirkuit saraf antara ganglia basalis dan struktur-struktur terkait di otak.

Klasifikasi

sunting

Mayoritas penelitian yang dipublikasikan mengenai sindrom Tourette berasal dari Amerika Serikat. Dalam penelitian dan praktik klinis terkait sindrom Tourette di dunia internasional, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) lebih dipilih dibandingkan klasifikasi World Health Organization (WHO),[7][8][9] yang dikritik dalam 2021 European Clinical Guidelines.[1]

Dalam revisi DSM kelima (DSM-5) yang diterbitkan tahun 2013, sindrom Tourette diklasifikasikan sebagai sebuah gangguan motorik (gangguan pada sistem saraf yang menyebabkan gerakan-gerakan abnormal dan involunter). Sindrom Tourette dimasukkan ke dalam kategori gangguan perkembangan saraf.[10] Sindrom Tourette berada pada ujung spektrum gangguan tik yang lebih berat. Penegakkan diagnosisnya membutuhkan adanya beberapa tik motorik dan setidaknya satu tik vokal yang terjadi selama lebih dari satu tahun, dan semuanya terjadi sebelum usia 18 tahun. Tik adalah gerakan tiba-tiba, berulang, nonritmis yang melibatkan kelompok-kelompok otot yang tersebar,[11] sementara tik vokal (fonik) melibatkan otot-otot laring, faring, oral, nasal, atau pernapasan untuk menghasilkan suara.[12][13] Terjadinya tik harus tidak dapat dijelaskan oleh kondisi medis lainnya atau penggunaan obat-obatan terlarang.[14]

Gamgguan tik lainnya meliputi tik motorik atau vokal persisten (kronis), yaitu salah satu jenis tik (motorik atau vokal, tapi tidak keduanya) telah terjadi selama lebih dari satu tahun; dan tik provisional, yaitu tik motorik atau vokal telah terjadi selama kurang dari satu tahun.[15][16] DSM-5 mengganti istilah "gangguan tik transien" dengan "gangguan tik provisional", karena mengakui bahwa kondisi "transien" hanya dapat dijelaskan secara retrospektif.[8][17][18] Beberapa ahli meyakini bahwa sindrom Tourette dan gangguan tik motorik atau vokal persisten (kronis) harus dianggap sebagai kondisi yang sama, karena tik vokal juga adalah tik motorik dalam hal tik vokal merupakan kontraksi otot dari otot-otot nasal atau pernapasan.[7][5][16]

Sindrom Tourette didefinisikan sedikit berbeda oleh WHO. [6][9] Dalam ICD-11, sindrom Tourette diklasifikasikan sebagai suatu penyakit sistem saraf dan gangguan perkembangan saraf,[19][20] dan hanya dibutuhkan satu tik motorik serta satu atau lebih tik vokal untuk penegakkan diagnosis.[21] ICD versi terdahulu menyebut kondisi ini sebagai "gangguan kombinasi tik vokal dan motorik multipel [de la Tourette]."[22]

Studi genetik mengindikasikan bahwa gangguan tik mencakup sebuah spektrum yang tidak tercermin dalam batasan yang jelas pada kerangka diagnosis saat ini.[14] Sejak tahun 2008, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa sindrom Tourette bukanlah sebuah kondisi tunggal dengan mekanisme yang jelas seperti yang dideskripsikan dalam berbagai sistem klasifikasi yang ada saat ini. Sebaliknya, berbagai penelitian tersebut berpendapat bahwa berbagai subtipe perlu diakui untuk membedakan "sindrom Tourette murni" dari sindrom Tourette yang disertai gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), atau gangguan-gangguan lainnya, serupa dengan bagaimana beberapa subtipe telah ditetapkan untuk kondisi-kondisi lain, seperti diabetes tipe 1 dan tipe 2.[6][14][21] Penjelasan lebih lanjut mengenai subtipe-subtipe ini masih membutuhkan pemahaman lebih menyeluruh mengenai faktor genetik dan penyebab-penyebab lain dari gangguan tik.[8]

Karakteristik

sunting

Tik

sunting
Contoh tik

Tik adalah gerakan atau suara yang terjadi "secara intermiten dan tidak dapat diprediksi di tengah aktivitas motorik normal",[23] yang tampak sebagai "perilaku normal yang menyimpang".[24] Tik yang berhubungan dengan sindrom Tourette berfluktuasi (naik dan turun); berubah-ubah jumlah, frekuensi, tingkat keparahan, lokasi anatomis, dan kompleksitasnya;[7] setiap penderita mengalami pola fluktuasi keparahan dan frekuensi yang unik. Tik juga dapat terjadi dalam pola "bouts of bouts" (yaitu, tik secara umum berfluktuasi dalam periode yang lebih panjang; dalam periode peningkatan, dapat terjadi ledakan singkat baik tik motorik maupun fonik), yang juga bervariasi antar individu.[25] Tingkat keparahan tik dapat bervariasi dalam rentang waktu beberapa jam, hari, atau minggu.[15] Tik dapat meningkat saat seseorang mengalami stress, kelelahan, ansietas, atau penyakit,[14][26] atau ketika seseorang sedang melakukan aktivitas santai seperti menonton TV. Tik terkadang berkurang saat seseorang tenggelam atau berfokus pada aktivitas seperti bermain alat musik.[14][27]

Berlawanan dengan gerakan abnormal terkait gangguan gerak lainnya, tik sindrom Tourette bersifat nonritmis, sering kali didahului oleh dorongan yang tidak diinginkan, dan dapat ditekan sementara.[25][28] Seiring waktu, sekitar 90% penderita sindrom Tourette merasakan suatu dorongan yang mendahului tik,[15] serupa dengan dorongan untuk bersin atau menggaruk rasa gatal. Dorongan dan sensasi yang mendahului munculnya tik disebut sebagai fenomena sensorik premonitorik atau dorongan premonitorik. Orang-orang menggambarkan dorongan untuk mengekspresikan tik tersebut sebagai penumpukan ketegangan, tekanan, atau energi[29][30] yang pada akhirnya mereka lepaskan secara sadar, seolah-olah mereka "harus melakukannya"[31] untuk meredakan sensasi tersebut[29] atau hingga terasa "pas".[31][32] Dorongan tersebut dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman pada bagian tubuh yang terkait dengan tik yang dihasilkan; tik yang terjadi merupakan respons yang meredakan dorongan di lokasi anatomis tik.[2][25] Contoh-contoh dorongan ini adalah perasaan memiliki sesuatu di tenggorokan, yang menimbulkan tik berdehem, atau perasaan tidak nyaman terlokalisir di bahu menimbulkan gerakan mengangkat bahu. Tik yang dilakukan dapat dirasakan sebagai cara untuk meredakan ketegangan atau sensasi yang dirasakan, serupa dengan menggaruk bagian yang gatal atau mengedip untuk mengurangi rasa tidak nyaman pada mata.[2][23] Beberapa penderita sindrom Tourette mungkin tidak menyadari adanya dorongan premonitorik yang berkaitan dengan tik. Anak-anak mungkin kurang menyadari dorongan tersebut dibandingkan orang dewasa,[15] tetapi kesadaran mereka cenderung meningkat seiring bertambahnya usia;[23] pada usia sepuluh tahun, sebagian besar anak telah mengenali dorongan premonitorik.[27]

Dorongan premonitorik yang mendahului tik memungkinkan tik yang akan terjadi untuk ditekan.[25] Akibat dorongan yang mendahuluinya, tik digambarkan bersifat semi-volunter atau unvoluntary,[2][23] bukan involuntary (tidak disadari) secara spesifik; tik dapat dialami sebagai respons yang bersifat voluntary (disadari) dan dapat ditekan terhadap dorongan premonitorik yang tidak diinginkan.[25][27] Kemampuan untuk menekan tik bervariasi antar individu, dan cenderung lebih berkembang pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak.[33] Penderita tik kadang mampu menekan terjadinya tik untuk jangka waktu yang terbatas, tetapi hal tersebut sering menimbulkan ketegangan atau kelelahan mental.[2][34] Penderita sindrom Tourette mungkin mencari tempat yang sepi untuk melepaskan dorongan yang telah ditekan, atau dapat terjadi peningkatan tik yang nyata setelah periode penekanan di sekolah atau tempat kerja.[15][24] Anak-anak mungkin menekan terjadinya tik saat berada di ruang praktik dokter, sehingga mereka perlu diamati ketika mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang diamati.[35]

Tik kompleks yang berhubungan dengan bicara meliputi koprolalia, ekolalia, dan palilalia. Koprolalia adalah pengungkapan spontan kata-kata atau frasa yang bersifat tabu atau tidak pantas secara sosial. Meskipun koprolalia adalah gejala sindrom Tourette yang paling sering diberitakan, hanya sekitar 10% penderita sindrom Tourette yang mengalaminya, dan koprolalia bukan termasuk kriteria diagnosis sindrom Tourette.[2][36] Ekolalia (mengulangi kata-kata orang lain) dan palilalia (mengulangi kata-kata diri sendiri) terjadi pada sebagian kecil kasus.[37] Tik motorik kompleks meliputi kopropraksia (gerakan-gerakan tidak senonoh atau terlarang, atau menyentuh secara tidak pantas), ekopraksia (mengulangi atau menirukan gerakan orang lain), dan palipraksia (mengulangi gerakan diri sendiri).[33]

Awitan dan perjalanan penyakit

sunting

Tidak terdapat kasus khas sindrom Tourette,[38] tetapi usia awitan dan tingkat keparahan gejala mengikuti pola yang cukup konsisten. Meskipun awitan dapat terjadi kapan saja sebelum usia 18 tahun, usia awitan tik yang khas adalah antara lima hingga tujuh tahun, dan biasanya terjadi sebelum masa remaja.[2] Sebuah penelitian tahun 1998 dari Yale Child Study Center menunjukkan bahwa keparahan tik meningkat seiring dengan bertambahnya usia sampai mencapai titik puncaknya antara usia 8 hingga 12 tahun.[39] Tingkat keparahan berkurang secara bertahap pada sebagian besar anak seiring mereka melalui masa remaja, dengan setengah hingga dua pertiga anak mengalami penurunan tik yang signifikan.[40]

Pada penderita sindrom Tourette, tik pertama yang muncul biasanya mengenai kepala, wajah, dan bahu, dan meliputi berkedip, gerakan pada wajah, mengendus, serta berdehem.[15] Tik vokal sering muncul beberapa bulan atau tahun setelah tik motorik, tetapi dapat juga muncul terlebih dahulu.[8][16] Pada individu yang mengalami tik dengan derajat lebih berat, dapat terjadi tik kompleks, yang meliputi gerakan "meluruskan lengan, menyentuh, mengetuk, melompat, meloncat, dan berputar".[15] Terdapat berbagai gerakan pada gangguan yang berbeda (misalnya gangguan spektrum autisme), seperti gerakan stimming (gerakan berulang untuk stimulasi diri) dan stereotipik.[41]

Tingkat keparahan gejala sangat bervariasi antar penderita Tourette, dan banyak kasus yang tidak terdeteksi.[2][6][16][37] Sebagian besar kasus bersifat ringan dan hampir tidak dapat terdeteksi;[42][43] banyak penderita sindrom Tourette yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami tik. Karena tik lebih sering muncul dalam lingkup privat, sindrom Tourette dapat tidak terdeteksi,[44] dan pengamat biasa mungkin tidak menangkap adanya tik.[36][45][46] Sebagian besar penelitian mengenai sindrom Tourette melibatkan laki-laki, yang memiliki prevalensi sindrom Tourette lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan berdasarkan jenis kelamin belum diteliti dengan memadai; sebuah tinjauan tahun 2021 berpendapat bahwa karakteristik dan progresivitas sindrom Tourette pada perempuan, khususnya pada usia dewasa, mungkin berbeda, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut.[47]

Sebagian besar individu dewasa dengan sindrom Tourette mengalami gejala ringan dan tidak mencari penanganan medis.[2] Meskipun tik menghilang pada sebagian besar penderita setelah masa remaja, beberapa bentuk gangguan tik yang paling berat dan mengganggu fungsi hidup dijumpai pada orang dewasa.[48] Pada beberapa kasus, apa yang tampaknya merupakan tik awitan dewasa bisa jadi merupakan tik awitan masa kanak-kanak yang timbul kembali.[48]

Kondisi penyerta

sunting
Tiga pria dan dua wanita berdiri di dekat Mona Lisa. Semuanya mengenakan pakaian formal, satu wanita mengenakan gaun merah muda yang mencolok.
André Malraux (tengah) adalah Menteri Budaya Prancis, penulis, dan petualang yang mungkin mengalami sindrom Tourette.[49][50][51]

Karena pasien-pasien dengan gejala ringan kecil kemungkinannya untuk dirujuk ke praktik spesialis, penelitian mengenai sindrom Tourette memiliki bias yang melekat terhadap kasus-kasus yang lebih berat.[52][53] Ketika gejala-gejala yang timbul cukup berat hingga mengharuskan dirujuknya pasien ke spesialis, ADHD dan OCD sering kali juga ikut ditemukan.[2] Di praktik spesialis, 30% penderita sindrom Tourette juga mengalami gangguan suasana hati atau kecemasan atau perilaku disruptif.[15][54] Dalam kondisi tanpa ADHD, gangguan tik tampak tidak berkaitan dengan perilaku disruptif atau gangguan fungsional,[55] sementara gangguan di sekolah, keluarga, atau hubungan dengan sesama lebih besar pada mereka yang memiliki kondisi komorbid.[24][56] Ketika ADHD terjadi bersama dengan tik, tingkat kejadian gangguan perilaku dan oppositional defiant disorder (gangguan pembangkangan oposisional) meningkat.[15] Perilaku agresif dan ledakan kemarahan pada penderita sindrom Tourette belum dipahami dengan baik; kondisi tersebut tidak berhubungan dengan tik derajat berat, tetapi berhubungan dengan adanya ADHD.[57] ADHD juga dapat berkontribusi terhadap tingkat kecemasan yang lebih tinggi, dan masalah agresi serta kontrol kemarahan lebih mungkin terjadi ketika OCD dan ADHD terjadi bersamaan dengan sindrom Tourette.[48]

Perilaku kompulsif yang menyerupai tik terdapat pada sebagian individu dengan OCD; "OCD terkait tik" dihipotesiskan sebagai subkelompok OCD, dibedakan dari OCD tidak terkait tik berdasarkan jenis dan karekteristik pikiran obsesif serta perilaku impulsifnya.[58] Dibandingkan dengan perilaku kompulsif yang lebih khas pada OCD tanpa tik yang berhubungan dengan kontamintasi, OCD terkait tik muncul dengan perilaku kompulsif yang lebih berupa "menghitung, pikiran agresif, simetris, dan menyentuh".[15] Perilaku kompulsif terkait OCD tanpa tik biasanya berhubungan dengan pikiran obsesif dan kecemasan, sementara perilaku kompulsif pada OCD terkait tik biasanya merupakan respons terhadap dorongan premonitorik.[15][59] Terdapat peningkatan kejadian kecemasan dan depresi pada orang dewasa dengan sindrom Tourette yang juga mengalami OCD.[48]

Antara 2,9% hingga 20% individu dengan sindrom Tourette yang diteliti di praktik-praktik spesialis memiliki gangguan spektrum autisme,[60] namun sebuah penelitian menunjukkan bahwa tingginya keterkaitan antara autisme dan sindrom Tourette sebagian mungkin diakibatkan oleh kesulitan dalam membedakan tik dengan perilaku menyerupai tik atau gejala-gejala OCD yang dijumpai pada penderita autis.[61]

Tidak semua penderita Tourette mengalami ADHD atau OCD atau kondisi komorbid lainnya, dan perkiraan angka kasus sindrom Tourette murni atau sindrom Tourette saja bervariasi antara 15% hingga 57%; [a] dalam populasi klinis, persentase yang tinggi dari mereka yang menjalani perawatan memang memiliki ADHD.[32][62] Anak-anak dan remaja dengan sindrom Tourette murni tidak berbeda secara signifikan dari teman sebaya mereka yang tidak menderita sindrom Tourette dalam penilaian perilaku agresif atau gangguan perilaku, maupun dalam ukuran adaptasi sosial.[6] Demikian pula, orang dewasa dengan sindrom Tourette murni tampaknya tidak mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial seperti yang ditemukan pada individu dengan sindrom Tourette yang disertai ADHD.[6]

Di antara para penderita dengan usia awitan yang lebih lanjut, lebih banyak ditemukan penyalahgunaan obat dan gangguan suasana hati, dan dapat dijumpai tik yang mencederai diri sendiri. Orang dewasa yang mengalami tik derajat berat dan sering kali tidak responsif terhadap terapi lebih mungkin untuk mengalami gangguan suasana hati dan OCD.[48] Koprolalia lebih sering terjadi pada individu dengan tik derajat berat dan beberapa kondisi komorbid.[33]

Fungsi neuropsikologis

sunting

Tidak ditemukan gangguan fungsi neuropsikologis yang bermakna di antara para penderita sindrom Tourette, tetapi berbagai kondisi yang menyertai tik dapat menimbulkan variasi dalam fungsi neurokognitif. Pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi komorbid dibutuhkan untuk menguraikan perbedaan neuropsikologis antara individu dengan sindrom Tourette saja dan mereka dengan kondisi komorbid.[56]

Hanya ditemukan sedikit gangguan pada kecerdasan intelektual, pengendalian perhatian, dan memori nonverbal; tetapi ADHD, gangguan komorbid lainnya, atau tingkat keparahan tik dapat menjelaskan adanya perbedaan tersebut. Berlawanan dengan temuan-temuan sebelumnya, integrasi visual-motorik dan kemampuan visuokonstruktif tidak ditemukan mengalami gangguan, sementara kondisi komorbid dapat memberikan pengaruh kecil terhadap kemampuan motorik. Kondisi komorbid dan tingkat keparahan tik juga dapat menjelaskan variasi hasil dalam kelancaran verbal, yang dapat sedikit terganggu. Mungkin terdapat gangguan ringan dalam kognisi sosial, tetapi tidak dalam kemampuan untuk merencanakan atau membuat keputusan.[56] Anak-anak dengan sindrom Tourette saja tidak menunjukkan defisit kognitif. Mereka lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya dalam tes koordinasi motorik berbatas waktu, dan penekanan tik secara terus-menerus dapat memberikan keuntungan dalam berpindah-pindah tugas karena meningkatnya kontrol inhibisi.[6][64]

Dapat ditemukan adanya kesulitan belajar, tetapi apakah gangguan tersebut disebabkan oleh tik atau kondisi komorbid masih menjadi perdebatan; penelitian-penelitian terdahulu yang melaporkan angka kesulitan belajar yang lebih tinggi tidak mengendalikan keberadaan kondisi komorbid dengan baik.[65] Sering kali terdapat kesulitan menulis dengan tangan, dan dilaporkan adanya kesulitan dalam ekspresi secara tertulis serta kemampuan matematika pada penderita sindrom Tourette yang disertai kondisi lain.[65]

Penyebab

sunting

Penyebab pasti sindrom Tourette belum diketahui, tetapi telah diketahui dengan baik bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan sama-sama berperan dalam kondisi ini.[14][15][66] Studi epidemiologi genetik telah menunjukkan bahwa sindrom Tourette memiliki tingkat heritabilitas yang tinggi,[67] dan 10 hingga 100 kali lebih mungkin ditemukan pada kerabat dekat dibandingkan pada populasi umum.[68] Pola pewarisan yang tepat belum diketahui; belum ada gen tunggal yang dapat diidentifikasi,[7] dan kemungkinan terdapat ratusan gen yang terlibat.[52][67][68] Studi asosiasi genom luas yang dipublikasikan pada tahun 2013[2] dan 2015[15] tidak menemukan hasil yang mencapai ambang signifikansi statistik.[2] Sebuah metaanalisis pada tahun 2019 hanya menemukan satu lokus yang signifikan pada genom luas di kromosom 13, tetapi temuan tersebut tidak dapat direplikasi pada sampel yang lebih luas.[69] Penelitian pada anak kembar menunjukkan bahwa 50–77% pasangan kembar identik sama-sama memiliki diagnosis sindrom Tourette, sedangkan angka tersebut hanya sebesar 10–23% pada pasangan kembar paternal.[14] Namun, tidak semua individu yang mewarisi kerentanan genetik akan menunjukkan gejala.[70][71] Beberapa mutasi genetik langka dengan penetransi tinggi telah ditemukan, namun hanya menjelaskan sebagian kecil kasus dalam keluarga tertentu, yaitu pada gen SLITRK1, HDC, dan CNTNAP2.[72]

Faktor psikososial atau faktor non-genetik lainnya, meskipun tidak menyebabkan sindrom Tourette, dapat memengaruhi tingkat keparahan sindrom Tourette pada individu yang rentan serta memengaruhi ekspresi gen yang diwariskan.[6][38][66][68] Peristiwa-peristiwa pranatal dan perinatal meningkatkan risiko munculnya gangguan tik atau komorbid OCD pada individu yang memiliki kerentanan genetik. Faktor-faktor tersebut meliputi usia ayah saat pembuahan; persalinan dengan bantuan forsep; stress atau mual berat selama masa kehamilan; dan konsumsi tembakau, kafein, alkohol, [6][21] dan ganja selama masa kehamilan.[2] Bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah atau memiliki skor APGAR yang rendah juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami sindrom Tourette. Pada bayi kembar prematur, bayi dengan berat badan lahir yang lebih rendah lebih mungkin mengalami sindrom Tourette.[6]

Proses autoimun dapat memengaruhi timbulnya tik atau memperburuknya. Baik OCD maupun gangguan tik dihipotesiskan muncul pada sebagian anak sebagai akibat dari proses autoimun pascainfeksi streptokokus.[73] Potensi efek tersebut dijelaskan dalam hipotesis yang kontroversial bernama PANDAS (pediatric autoimmune neuropsychiatric disorders associated with streptococcal infections), yang mengajukan lima kriteria diagnosis pada anak-anak.[74][75] Hipotesis PANDAS dan PANS (pediatric acute-onset neuropsychiatric syndrome) yang lebih baru menjadi fokus penelitian klinis dan laboratoris, tetapi tetap tidak terbukti kebenarannya.[74] Terdapat pula hipotesis yang lebih luas yang mengaitkan kelainan sistem imun dan disregulasi sistem imun dengan sindrom Tourette.[15][73]

Beberapa bentuk OCD mungkin memiliki keterkaitan genetik dengan sindrom Tourette,[32] meskipun faktor genetik pada OCD dengan tik dan tanpa tik dapat berbeda.[14] Namun, kaitan genetik antara ADHD dengan sindrom Tourette belum sepenuhnya dapat dipastikan.[54][64][76] Hingga tahun 2017, belum ditemukan kaitan genetik antara autisme dan sindrom Tourette.[48]

Mekanisme

sunting
Ganglia basalis pada pusat otak dan thalamus di sebelahnya. Ditampilkan juga struktur-struktur otak di sekitarnya.
Ganglia basalis]] dan thalamus diduga terlibat dalam proses terjadinya sindrom Tourette.

Mekanisme pasti yang memengaruhi kerentanan yang diwariskan terhadap Tourette belum diketahui secara jelas.[14] Tik diduga merupakan hasil dari disfungsi pada korteks otak besar dan area subkorteks otak: thalamus, ganglia basalis, dan korteks frontalis.[77] Model neuroanatomi menunjukkan adanya gangaguan pada sirkuit yang menghubungkan korteks dan subkorteks otak;[38] teknik pencitraan mengindikasikan keterlibatan korteks frontalis dan ganglia basalis.[52] Pada tahun 2010-an, studi pencitraan saraf dan penelitian otak postmortem, serta penelitian pada hewan dan penelitian genetik,[56][78] telah mengalami kemajuan dalam memahami mekanisme neurobiologis yang mendasari sindrom Tourette.[56] Penelitian-penelitian tersebut mendukung model ganglia basalis, di mana neuron di striatum diaktifkan dan menginhibisi keluaran dari ganglia basalis.[57]

Sirkuit cortico-striato-thalamo-cortical (CSTC), atau jalur saraf, memberi input dari korteks ke ganglia basalis. Sirkuit ini menghubungkan ganglia basalis dengan area otak lainnya untuk mentransfer informasi yang meregulasi perencanaan dan pengendalian gerakan, perilaku, pengambilan keputusan, dan proses belajar.[56] Perilaku diatur oleh koneksi silang yang memungkinkan integrasi informasi dari sirkuit-sirkuit ini.[56] Gerakan involunter dapat terjadi akibat gangguan pada sirkuit CTSC ini,[56] termasuk jalur sensorimotorik, limbik, bahasa, dan pengambilan keputusan. Kelainan pada sirkuit-sirkuit tersebut diduga menjadi penyebab timbulnya tik dan dorongan premonitorik.[79]

Ukuran nukleus kaudatus mungkin lebih kecil pada penderita tik dibandingkan pada individu yang tidak mengalami tik. Hal ini mendukung hipotesis adanya gangguan dalam sirkuit CSTC pada sindrom Tourette.[56] Kemampuan untuk menekan tik bergantung pada sirkuit otak yang berperan dalam mengatur inhibisi respons dan pengendalian kognitif terhadap perilaku motorik.[78] Anak-anak dengan sindrom Tourette ditemukan memiliki ukuran korteks prefrontal yang lebih besar, yang mungkin merupakan hasil dari proses adaptasi otak untuk membantu mengendalikan tik.[78] Tik juga diduga cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya usia karena kapasitas korteks frontalis meningkat.[78] Selain itu, sirkuit kortiko-ganglia basalis (CBG) juga dapat terganggu, yang berkontribusi terhadap timbulnya gejala sensorik, limbik, dan fungsi eksekutif.[15] Pelepasan dopamin di ganglia basalis lebih tinggi pada penderita Tourette, mengindikasikan adanya perubahan biokimiawi akibat transmisi dopaminergik yang berlebihan dan mengalami gangguan regulasi.[66]

Histamin dan reseptor H3 mungkin berperan dalam perubahan sirkuit saraf.[15][80][81][82] Penurunan kadar histamin pada reseptor H3 dapat menyebabkan peningkatan kadar neurotransmiter lainnya yang dapat memicu terjadinya tik.[83] Penelitian postmortem juga menunjukkan adanya gangguan regulasi pada pada proses neuroinflamasi.[14]

Diagnosis

sunting
Instrumen utama untuk skrining dan penilaian[84][85]
  • Yale Global Tic Severity Scale (YGTSS), direkomendasikan oleh berbagai pedoman internasional untuk menilai "frekuensi, intensitas, kompleksitas, distribusi, gangguan dan tingkat disabilitas" dari atau akibat tik[b]
  • Tourette Syndrome Clinical Global Impression (TS–CGI) dan Shapiro TS Severity Scale (STSS), untuk penilaian tik yang lebih singkat daripada YGTSS
  • Tourette's Disorder Scale (TODS), untuk menilai tik dan komorbiditas
  • Premonitory Urge for Tics Scale (PUTS), untuk individu berusia lebih dari 10 tahun
  • Motor tic, Obsessions and compulsions, Vocal tic Evaluation Survey (MOVES), untuk evaluasi tik kompleks dan perilaku lainnya
  • Autism—Tics, AD/HD, and other Comorbities (A–TAC), untuk skrining adanya kondisi lain

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5),[c] diagnosis sindrom Tourette dapat dibuat ketika seseorang menunjukkan tik motorik multipel dan satu atau lebih tik vokal dalam waktu satu tahun. Tik motorik dan vokal tidak harus terjadi dalam waktu yang bersamaan. Awitan tik harus terjadi sebelum usia 18 tahun dan tidak dapat dikaitkan terhadap efek dari kondisi lain atau penggunaan zat tertentu (seperti kokain).[10] Oleh karena itu, kondisi medis lainnya yang dapat disertai tik atau gerakan menyerupai tik, seperti autisme atau penyebab lain dari tik, harus disingkirkan.[87]

Para pasien yang dirujuk karena gangguan tik dievaluasi berdasarkan riwayat keluarga dengan tik, kerentanan terhadap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), gejala obsesif-kompulsif, dan sejumlah kondisi medis kronis, psikiatrik, dan neurologis lainnya.[88][89] Pada individu dengan awitan umum dan riwayat keluarga dengan tik atau gangguan obsesif kompulsif (OCD), pemeriksaan fisik dan neurologis dasar mungkin sudah memadai.[90] Tidak ada pemeriksaan medis atau skrining spesifik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis sindrom Tourette;[32] diagnosis sindrom Tourette biasanya dibuat berdasarkan pengamatan terhadap gejala individu dan riwayat keluarga[36] serta setelah menyingkirkan penyebab sekunder gangguan tik (tourettisme).[91]

Keterlambatan diagnosis sering terjadi karena para profesional salah meyakini sindrom Tourette sebagai sesuatu yang langka, selalu mencakup koprolalia, atau pasti menimbulkan hendaya berat.[92] Sejak tahun 2000, DSM telah mengakui bahwa banyak penderita sindrom Tourette yang tidak mengalami gangguan berat;[8][87][93] penegakkan diagnosis sindrom Tourette tidak memerlukan adanya koprolalia atau kondisi komorbid, seperti ADHD atau OCD.[36][92] Sindrom Tourette dapat salah didiagnosis karena spektrum keparahannya yang luas, mulai dari ringan (pada sebagian besar kasus) atau sedang, hingga berat (jarang terjadi, tetapi merupakan kasus yang dikenal secara luas dan sering diberitakan).[39] Sekitar 20% penderita sindrom Tourette tidak menyadari bahwa mereka mengalami tik.[38]

Tik yang muncul pada awal perjalanan sindrom Tourette sering salah dianggap sebagai alergi, asma, gangguan penglihatan, dan kondisi lainnya. Dokter spesialis anak, alergi, dan mata termasuk pihak yang pertama kali melihat atau mengidentifikasi seorang anak mengalami tik,[7][37][94] meskipun sebagian besar tik diidentifikasi pertama kali oleh orang tua anak.[92] Batuk, berkedip, dan tik yang menyerupai kondisi lain yang tidak berhubungan seperti asma sering kali salah didiagnosis.[36] Di Britania Raya, terdapat keterlambatan rata-rata selama tiga tahun antara awitan gejala dan penegakkan diagnosis.[6]

Diagnosis banding

sunting

Tik yang muncul menyerupai tik pada sindrom Tourette, tetapi berkaitan dengan gangguan selain Tourette, dikenal sebagai tourettisme[95] dan disingkirkan dalam diagnosis banding untuk sindrom Tourette.[90] Gerakan abnormal yang terkait dengan chorea, distonia, mioklonus, dan diskinesia berbeda dengan tik pada Tourette karena gerakan-gerakan tersebut lebih ritmis, tidak dapat ditekan, dan tidak didahului oleh adanya dorongan yang tidak diinginkan.[25][28] Gangguan perkembangan dan gangguan spektrum autisme dapat bermanifestasi sebagai tik, gerakan stereotipik lainnya,[96] dan gangguan gerak stereotipik.[97][98] Gerakan stereotipik terkait autisme umumnya memiliki usia awitan yang lebih dini; lebih simetris, ritmis, dan bilateral; serta melibatkan ekstremitas (misalnya, mengepakkan tangan).[41]

Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan jika terdapat kondisi lain yang dapat menjelaskan terjadinya tik dengan lebih baik. Sebagai contoh, jika terdapat kebingungan diagnostik antara tik dengan aktivitas kejang, dapat dilakukan pemeriksaan EEG. Pemeriksaan MRI dapat menyingkirkan adanya kelainan otak, namun pemeriksaan pencitraan otak semacam itu biasanya tidak dibutuhkan.[88] Pengukuran kadar thyroid-stimulating hormone dalam darah dapat menyingkirkan kemungkinan hipotiroidisme, yang dapat menjadi penyebab tik. Jika terdapat riwayat penyakit hati pada anggota keluarga, dapat dilakukan pengukuran kadar tembaga serum dan seruloplasmin untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit Wilson.[90] Usia awitan umum sindrom Tourette adalah sebelum masa remaja.[2] Pada remaja dan orang dewasa dengan awitan tik yang tiba-tiba disertai gejala perilaku lainnya, pemeriksaan urin untuk mendeteksi kadar stimulan dapat dilakukan.[90]

Peningkatan episode perilaku menyerupai tik pada remaja (terutama pada remaja perempuan) dilaporkan di beberapa negara selama pandemi COVID-19.[21][94] Para peneliti menghubungkan fenomena ini dengan pengikut artis TikTok atau YouTube tertentu.[7][94] Dideskripsikan pada tahun 2006 sebagai psikogenik,[97] gerakan dengan awitan mendadak yang menyerupai tik disebut sebagai gangguan gerak fungsional[99] atau gerakan menyerupai tik fungsional.[94][d] Gerakan menyerupai tik fungsional dapat sulit dibedakan dari tik yang memiliki penyebab organik (alih-alih psikologis).[99][101] Kondisi ini dapat terjadi sendiri atau bersamaan pada individu dengan gangguan tik.[99][103] Tik jenis ini tidak konsisten dengan tik klasik dari sindrom Tourette dalam beberapa hal:[104] dorongan premonitorik (yang terdapat pada 90% individu dengan gangguan tik[100]) tidak ditemukan pada gerakan menyerupai tik fungsional; tidak ada kemampuan untuk menekan seperti pada gangguan tik;[99][100][101][102] tidak ada riwayat tik pada keluarga atau masa kanak-kanak, dan terdapat dominansi perempuan pada tik fungsional,[94] dengan kemunculan pertama pada usia yang lebih lambat dibandingkan biasanya;[99][100][101] awitan gejala lebih mendadak dibandingkan umumnya dengan gerakan yang lebih mudah dipengaruhi sugesti;[100] dan lebih sedikit komorbiditas OCD atau ADHD tetapi lebih banyak gangguan komorbid lainnya.[101] Tik fungsional "tidak sepenuhnya stereotipikal",[102] tidak merespons obat-obatan, tidak menampilkan pola fluktuatif klasik seperti pada tik Tourette,[99] dan tidak berkembang dalam pola yang khas, yaitu tik biasanya pertama kali muncul pada wajah dan kemudian secara bertahap pindah ke tungkai.[101]

Kondisi lain yang dapat menimbulkan tik meliputi Sydenham's chorea; distonia idiopatik; dan berbagai kondisi genetik seperti penyakit Huntington, neuroakantositosis, neurodegenerasi terkait pantotenat kinase, distrofi otot Duchenne, penyakit Wilson, dan sklerosis tuberosa. Kemungkinan lain meliputi kelainan kromosom seperti sindrom Down, sindrom Klinefelter, sindrom XYY, dan sindrom X rapuh. Penyebab tik yang didapat meliputi tik yang dipicu obat, trauma kepala, ensefalitis, stroke, dan keracunan karbon monoksida.[90][95] Perilaku mencederai diri sendiri yang ekstrem akibat sindrom Lesch-Nyhan dapat disalahartikan sebagai sindrom Tourette atau gerakan stereotipik, tetapi perilaku menyakiti diri sendiri jarang ditemukan pada sindrom Tourette bahkan pada kasus tik yang bersifat kekerasan.[41] Sebagian besar kondisi tersebut lebih jarang terjadi dibandingkan gangguan tik, dan anamnesis serta pemeriksaan yang menyeluruh sering kali cukup untuk menyingkirkannya tanpa perlu pemeriksaan medis atau skrining tambahan.[2][38][95]

Skrining untuk kondisi lain

sunting

Meskipun tidak seluruh kasus Tourette disertai dengan kondisi komorbid, sebagian besar yang mencari pertolongan medis menunjukkan gejala dari kondisi lain selain tik yang mereka alami.[64] ADHD dan OCD adalah komorbid yang paling sering dijumpai, tetapi gangguan spektrum autisme, gangguan kecemasan, gangguan suasana hati, gangguan kepribadian, gangguan pembangkangan oposisional, dan gangguan perilaku juga dapat ditemukan.[12] Kesulitan belajar dan gangguan tidur juga dapat ditemukan;[36] dilaporkan bahwa gangguan tidur dan migrain lebih sering terjadi dibandingkan pada populasi umum.[105][106] Evaluasi yang menyeluruh terhadap kondisi komorbid diperlukan apabila terdapat indikasi dari gejala dan gangguan yang timbul,[89][90] dan evaluasi yang cermat terhadap penderita sindrom Tourette mencakup skrining yang komprehensif terhadap kondisi-kondisi tersebut.[12][68]

Kondisi komorbid seperti OCD dan ADHD dapat menimbulkan hendaya yang lebih besar dibandingkan tik.[5][38] Perilaku disruptif, gangguan fungsi, atau gangguan kognitif pada penderita Tourette dan ADHD dapat lebih disebabkan oleh ADHD, menegaskan pentingnya identifikasi kondisi komorbid.[15][32][36][107] Anak-anak dan remaja dengan sindrom Tourette yang mengalami kesulitan belajar merupakan kandidat untuk menjalani tes psikoedukatif, khususnya bila anak tersebut juga mengalami ADHD.[88][89]

Tatalaksana

sunting

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan sindrom Tourette.[108] Tidak ada satupun obat yang terbukti paling efektif untuk sindrom Tourette,[2] dan tidak ada satupun obat yang mampu mengatasi seluruh gejala secara efektif. Sebagian besar obat yang diresepkan untuk kasus tik tidak disetujui secara khusus untuk penggunaan tersebut, dan tidak ada obat yang sepenuhnya bebas dari risiko efek samping yang signifikan.[5][109][110] Penatalaksanaan sindrom Tourette berfokus pada identifikasi gejala yang paling mengganggu atau menyebabkan hendaya, serta membantu penderita untuk mengelola kondisi tersebut.[36] Kondisi komorbid merupakan prioritas dalam tatalaksana[111] karena sering menjadi sumber hendaya yang lebih besar dibandingkan tik itu sendiri.[21] Penatalaksanaan sindrom Tourette bersifat individual dan melibatkan pengambilan keputusan bersama antara klinisi, pasien, keluarga pasien, dan pengasuh.[111][112] Pedoman praktik untuk tatalaksana tik dipublikasikan oleh American Academy of Neurology pada tahun 2019.[111]

Edukasi, pemberian dukungan, dan terapi psikoperilaku sering kali sudah cukup untuk sebagian besar kasus.[2][36][113] Secara khusus, psikoedukasi yang ditujukan kepada pasien, keluarga, dan komunitas di sekitarnya merupakan strategi utama penatalaksanaan.[114][115] Pendekatan watchful waiting (pemantauan tanpa intervensi aktif) dianggap sebagai pilihan yang dapat diterima bagi mereka yang tidak mengalami hendaya fungsional.[111] Tatalaksana gejala dapat meliputi terapi perilaku, terapi psikologis, dan terapi farmakologis. Intervensi farmakologis dicadangkan untuk gejala yang lebih berat, sementara psikoterapi atau terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu mengurangi depresi dan isolasi sosial serta meningkatkan dukungan keluarga.[36] Keputusan untuk menggunakan terapi perilaku atau terapi farmakologis biasanya diambil setelah pemberian edukasi dan intervensi suportif selama beberapa bulan serta telah jelas terbukti bahwa gejala tik bersifat berat secara persisten dan menjadi sumber hendaya baik terhadap kepercayaan diri, hubungan dengan keluarga atau teman sebaya, maupun prestasi di sekolah.[85]

Psikoedukasi dan dukungan sosial

sunting

Pengetahuan, edukasi, dan pemahaman merupakan komponen utama dalam penatalaksanaan gangguan tik.[36] Psikoedukasi merupakan langkah pertama dalam penanganan tik.[116][117] Orang tua umumnya merupakan pihak pertama yang menyadari adanya tik pada anak mereka.[92] Mereka biasanya akan merasa khawatir, menganggap bahwa diri mereka bertanggung jawab atas kondisi tersebut, atau merasa terbebani oleh berbagai informasi keliru mengenai Tourette.[116] Pemberian edukasi secara efektif mengenai diagnosis serta dukungan sosial kepada orang tua pasien dapat mengurangi kecemasan mereka. Dukungan tersebut juga dapat mengurangi kemungkinan anak mereka memperoleh pengobatan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan[118] atau mengalami perburukan tik yang dipicu kondisi emosional orang tua sang anak.[12]

Penderita sindrom Tourette dapat mengalami kesulitan dalam kehidupan sosial jika tik mereka dipandang sebagai suatu hal yang "aneh". Jika seorang anak mengalami tik yang menimbulkan disabilitas atau mengganggu fungsi sosial maupun akademik anak, psikoterapi suportif atau akomodasi di lingkungan sekolah dapat membantu.[91] Bahkan, anak-anak dengan tik yang lebih ringan sekalipun dapat merasa marah, depresi, atau memiliki kepercayaan diri yang rendah akibat meningkatnya ejekan, perundungan, penolakan dari teman sebaya, maupun stigma sosial. Kondisi ini dapat berujung pada penarikan diri dari pergaulan sosial. Sebagian anak merasa lebih berdaya dengan menyelenggarakan program peningkatan kesadaran tentang kondisi mereka bagi teman-teman sekelasnya.[68][112][119] Edukasi kepada guru dan staf sekolah mengenai karakteristik tik, pola fluktuasinya sepanjang hari, dampaknya pada anak, serta cara membedakan tik dari perilaku nakal juga dapat bermanfaat. Dengan memahami cara mengenali tik, orang dewasa dapat menghindari permintaan atau tuntutan agar anak menghentikan tik mereka,[34][119] karena proses penekanan tik dapat menimbulkan kelelahan, ketidaknyamanan, dan memerlukan upaya serta perhatian yang besar, serta dapat diikuti oleh peningkatan kembali frekuensi atau intensitas tik setelahnya.[34]

Orang dewasa dengan sindrom Tourette mungkin menarik diri dari pergaulan sosial untuk menghindari stigmatisasi dan diskriminasi akibat tik yang mereka alami.[120] Tergantung pada sistem layanan kesehatan di negara tempat mereka tinggal, mereka dapat memperoleh layanan sosial atau dukungan dari kelompok dukungan.[121]

Perilaku

sunting

Terapi perilaku dengan pelatihan pembalikan kebiasaan (HRT) dan pencegahan paparan dan respons (ERP) merupakan intervensi lini pertama dalam penatalaksanaan sindrom Tourette[21][117] dan telah terbukti efektif.[14] Karena tik dapat ditekan sampai batas tertentu, penderita sindrom Tourette yang menyadari adanya dorongan premonitorik sebelum terjadinya tik dapat dilatih untuk mengembangkan respons terhadap dorongan yang bersaing dengan tik.[15][122] Intervensi perilaku yang komprehensif untuk tik (CBIT) didasarkan pada HRT, yang merupakan terapi perilaku yang paling banyak diteliti untuk tik.[122] Para pakar sindrom Tourette masih memperdebatkan apakah peningkatan kesadaran anak terhadap tik melalui HRT/CBIT (alih-alih mengabaikan tik) dapat menyebabkan peningkatan jumlah tik di kemudian hari.[122]

Ketika terdapat perilaku disruptif yang berkaitan dengan kondisi komorbid, pelatihan pengendalian amarah dan parent management training dapat efektif.[6][123][124] CBT merupakan terapi yang bermanfaat apabila terdapat OCD.[15] Teknik relaksasi, seperti olahraga, yoga, dan meditasi dapat membantu mengurangi stress yang dapat memicu terjadinya tik. Selain HRT, sebagian besar intervensi perilaku untuk sindrom Tourette (misalnya, pelatihan relaksasi dan biofeedback) belum dievaluasi secara sistematis dan belum didukung secara empiris.[125]

Obat-obatan

sunting
Pil-pil berwarna putih pada meja, di sebelah botol dan label pil
Klonidin merupakan salah satu obat yang umumnya dicoba pertama kali ketika dibutuhkan pemberian obat untuk sindrom Tourette.[126]

Anak dengan tik umumnya datang untuk mendapat penanganan medis ketika tik mereka berada dalam tingkat keparahan yang tertinggi. Namun, karena kondisi tik bersifat fluktuatif, obat-obatan tidak langsung diberikan ataupun sering diubah.[38] Tik dapat berkurang dengan edukasi, penjelasan yang menenangkan, dan lingkungan yang suportif.[2][68] Apabila digunakan obat-obatan, tujuannya bukan untuk menghilangkan gejala sepenuhnya. Sebaliknya, digunakan dosis terendah yang mampu mengendalikan gejala tanpa menimbulkan efek samping yang merugikan, karena efek samping tersebut dapat lebih mengganggu dibandingkan gejala yang ditangani dengan obat.[38]

Golongan obat yang telah terbukti efektif untuk mengatasi tik, yaitu neuroleptik tipikal dan atipikal, dapat menimbulkan efek samping jangka pendek maupun jangka panjang.[109][110] Beberapa obat antihipertensi juga digunakan untuk pengobatan tik; penelitian menunjukkan efektivitas yang beragam, tetapi dengan profil efek samping yang lebih rendah dibandingkan neuroleptik.[14][126] Pada anak-anak, antihipertensi klonidin dan guanfasin biasanya dicoba terlebih dahulu; kedua obat tersebut juga dapat membantu mengatasi gejala ADHD,[68][126] meskipun bukti yang mendukung efektivitas kedua obat tersebut pada orang dewasa masih terbatas.[2] Pemberian neuroleptik risperidon dan aripiprazol dapat dicoba apabila antihipertensi tidak efektif,[5][68][109][110] dan pada orang dewasa, kedua neuroleptik tersebut umumnya merupakan terapi yang pertama kali dicoba.[2] Karena risiko efek samping yang lebih rendah, aripiprazol lebih dipilih daripada antipsikotik lainnya.[127] Obat yang paling efektif untuk mengatasi tik adalah haloperidol, namun obat tersebut memiliki risiko efek samping yang lebih tinggi.[68] Metilfenidat dapat digunakan untuk penatalaksnaan ADHD yang disertai dengan gangguan tik dan dapat dikombinasikan dengan klonidin.[15][68] Penghambat penyerapan kembali serotonin selektif (SSRI) digunakan untuk penatalaksanaan kecemasan dan OCD.[15]

Lainnya

sunting

Pendekatan kedokteran komplementer dan alternatif, seperti modifikasi pola makan, neurofeedback, serta tes dan kontrol alergi memiliki daya tarik yang besar bagi masyarakat, tetapi tidak terbukti bermanfaat dalam penatalaksanaan sindrom Tourette.[128][129] Meskipun tidak didukung oleh bukti ilimah yang memadai, hingga dua pertiga orang tua, pengasuh, dan penderita sindrom Tourette menggunakan pendekatan pola makan dan terapi alternatif, dan tidak selalu memberitahukannya kepada dokter mereka.[26][112]

Bukti bahwa pemberian tetrahidrokanabinol dapat mengurangi tik masih lemah,[5] dan bukti yang ada belum cukup untuk mendukung penggunaan obat-obatan berbasis ganja dalam pengobatan sindrom Tourette.[111][130] Tidak ada bukti kuat yang mendukung penggunaan akupuntur maupun stimulasi magnetik transkranial, demikian pula pada penggunaan imunoglobulin intravena, pertukaran plasma, atau antibiotik untuk pengobatan PANDAS.[6]

Stimulasi otak dalam (DBS) telah menjadi pilihan yang valid bagi penderita dengan gejala berat yang tidak merespons terapi dan penatalaksanaan konvensional,[66] meskipun hal ini masih tergolong terapi eksperimental.[131] Pemilihan kandidat yang mungkin mendapat manfaat dari DBS adalah hal yang menantang, dan rentang batas bawah usia yang layak untuk menjalani operasi masih belum jelas.[12] Prosedur ini berpotensi bermanfaat pada kurang dari 3% pasien.[1] Sampai tahun 2019, titik pada otak yang ideal untuk menjadi target terapi belum dapat diidentifikasi.[111][132]

Kehamilan

sunting

Sekitar seperempat perempuan melaporkan terjadinya peningkatan tik sebelum menstruasi; tetapi, berbagai penelitian tidak menunjukkan hasil yang konsisten dalam perubahan frekuensi atau tingkat keparahan tik yang berkaitan dengan kehamilan[133][134] maupun kadar hormon.[135] Secara keseluruhan, gejala pada perempuan menunjukkan respons yang lebih baik terhadap haloperidol dibandingkan pada laki-laki.[133]

Sebagian besar perempuan dapat menghentikan konsumsi obat-obatan selama masa kehamilan tanpa kesulitan yang berarti.[136] Apabila dibutuhkan, obat-obatan diberikan dalam dosis serendah mungkin.[135] Selama masa kehamilan, penggunaan neuroleptik dihindari jika memungkinkan karena adanya risiko komplikasi kehamilan.[134] Jika diperlukan, olanzapin, risperidon, dan kuetiapin merupakan obat-obatan yang paling sering digunakan karena semuanya tidak terbukti menyebabkan kelainan pada janin.[134] Sebuah laporan menyatakan bahwa haloperidol dapat digunakan selama masa kehamilan,[136] meskipun obat ini dapat melewati plasenta.[134]

Jika tik derajat berat berpotensi mengganggu pemberian anestesi lokal, pilihan anestesi lainnya dapat dipertimbangkan.[134] Neuroleptik dosis rendah mungkin tidak memengaruhi bayi yang disusui, tetapi sebagian besar obat dihindari pada masa menyusui.[134] Klonidin dan amfetamin dapat ditemukan pada air susu ibu.[135]

Prognosis

sunting
Top half of a male athlete who appears to be running
Tim Howard, yang pada tahun 2019 dideskripsikan oleh seorang staf penulis untuk Los Angeles Times sebagai "kiper terhebat sepanjang sejarah sepakbola AS",[137] mengaitkan kesuksesannya dalam dunia olahraga dengan sindrom Tourette yang dialaminya.[138]

Sindrom Tourette adalah sebuah gangguan spektrum dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.[91] Gejala sindrom Tourette umumnya berkurang seiring anak melewati masa remaja.[66] Pada sebuah kelompok yang terdiri atas 10 anak pada usia rata-rata ketika tik mencapai tingkat keparahan tertinggi (sekitar usia 10 atau 11 tahun), hampir empat di antaranya akan mengalami remisi lengkap saat dewasa. Empat anak lainnya akan tetap mengalami tik minimal atau ringan saat dewasa, tetapi tidak mencapai remisi penuh. Dua anak sisanya akan mengalami tik sedang hingga berat saat dewasa, meskipun hanya dalam kasus yang jarang gejala mereka pada masa dewasa lebih berat dibandingkan pada masa kanak-kanak.[40]

Terlepas dari tingkat keparahan gejalanya, penderita sindrom Tourette memiliki angka harapan hidup yang normal.[139] Pada sebagian orang, gejala dapat menetap seumur hidup dan bersifat kronis, tetapi kondisi ini tidak bersifat degeneratif ataupun mengancam nyawa.[139] Tingkat kecerdasan pada individu dengan sindrom Tourette murni mengikuti distribusi normal, meskipun mungkin terdapat sedikit perbedaan pada individu yang memiliki kondisi komorbid.[21][65] Tingkat keparahan tik pada awal masa kehidupan tidak dapat memprediksi tingkat keparahan tik di kemudian hari.[36] Tidak ada metode yang dapat diandalkan untuk memprediksi perjalanan gejala pada individu tertentu,[105] tetapi prognosisnya secara umum baik.[105] Pada usia 14 hingga 16 tahun, ketika periode keparahan tik yang tertinggi biasanya sudah terlewati, perkiraan prognosis yang lebih terpercaya dapat dibuat.[120]

Tik mungkin berada dalam tingkat keparahan tertingginya ketika diagnosis dibuat, dan sering kali membaik ketika keluarga dan teman penderita mulai lebih memahami kondisi tersebut.[15][40] Berbagai penelitian melaporkan bahwa hampir delapan dari sepuluh anak dengan sindrom Tourette mengalami penurunan tingkat keparahan tik ketika mereka mencapai usia dewasa,[15][40] dan sebagian orang dewasa yang masih mengalami tik mungkin tidak menyadari bahwa mereka masih mengalaminya. Sebuah penelitian yang menggunakan rekaman video untuk mendokumentasikan tik pada orang dewasa menemukan bahwa sembilan dari sepuluh orang dewasa masih mengalami tik, dan setengah orang dewasa yang mengganggap diri mereka telah bebas dari tik menunjukkan adanya tik ringan.[15][140]

Kualitas hidup

sunting

Penderita sindrom Tourette mengalami dampak baik dari tik itu sendiri maupun dari upaya yang dilakukan untuk menekannya.[141] Tik pada kepala dan mata dapat mengganggu aktivitas membaca atau menyebabkan sakit kepala, sedangkan tik yang kuat dapat mengakibatkan cedera regangan berulang.[142] Tik yang berat juga dapat menyebabkan nyeri atau cedera; sebagai contoh, pernah dilaporkan adanya sebuah kasus langka herniasi diskus servikal akibat tik pada leher.[48][68] Beberapa individu mungkin belajar untuk menyamarkan tik yang dianggap tidak dapat diterima secara sosial atau mengalihkan energi tik mereka ke dalam kegiatan yang bersifat produktif.[37]

Keluarga dan lingkungan yang mendukung umumnya memberikan keterampilan bagi penderita sindrom Tourette untuk mengelola gangguan yang mereka alami.[141][143][144] Hasil yang dicapai pada masa dewasa lebih berhubungan dengan seberapa besar dampak yang ia rasakan dari pengalaman mengalami tik saat masih anak-anak dibandingkan tingkat keparahan tik yang sebenarnya. Seseorang yang salah dimengerti, dihukum, atau diejek di rumah atau sekolah cenderung memiliki luaran yang lebih buruk dibandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh pengertian.[37] Efek jangka panjang dari perundungan dan ejekan dapat memengaruhi harga diri, kepercayaan diri, dan bahkan pilihan serta peluang pekerjaan.[141][145] Komorbiditas ADHD dapat sangat memengaruhi kesejahteraan anak dalam seluruh aspek kehidupannya, dan dampaknya dapat berlangsung hingga masa dewasa.[141]

Faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup penderita berubah-ubah sepanjang waktu karena perjalanan alami gangguan tik yang bersifat fluktuatif, berkembangnya strategi koping, dan bertambahnya usia. Karena gejala ADHD cenderung membaik seiring bertambahnya usia seseorang, orang dewasa melaporkan dampak negatif yang lebih kecil terhadap kehidupan kerja mereka dibandingkan dampak yang dilaporkan anak-anak terhadap kehidupan pendidikan mereka.[141] Tik memberikan dampak yang lebih besar terhadap fungsi psikososial orang dewasa, termasuk beban finansial, dibandingkan pada anak-anak.[120] Orang dewasa juga lebih sering melaporkan mengalami penurunan kualitas hidup akibat depresi atau kecemasan.[141] Dibandingkan pada anak-anak, depresi memberikan beban yang lebih besar daripada tik terhadap kualitas hidup orang dewasa.[120] Dampak gejala OCD tampaknya berkurang seiring dengan semakin efektifnya strategi koping saat bertambahnya usia.[141]

Epidemiologi

sunting

Sindrom Tourette merupakan sebuah kondisi yang sering terjadi namun juga sering tidak terdiagnosis[7] yang terjadi pada seluruh kelompok sosial, ras, dan etnis.[6][32][36][146] Sindrom Tourette 3–4 kali lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan.[62] Prevalensi kasus yang diamati lebih tinggi pada anak-anak dibandingkan dewasa karena tik cenderung membaik atau berkurang seiring bertambahnya usia seseorang dan penegakkan diagnosis mungkin tidak lagi diperlukan untuk banyak orang dewasa.[39] Hingga 1% populasi mengalami gangguan tik, termasuk tik kronis maupun transien (provisional atau tidak spesifik) pada masa kanak-kanak.[55] Tik kronis terjadi pada 5% anak dan tik transien terjadi pada 20% anak.[62][124]

Banyak penderita tik yang tidak tahu mereka mengalami tik[21] atau tidak mencari diagnosis kondisi mereka, sehingga studi epidemiologi mengenai sindrom Tourette mencerminkan bias pengambilan sampel terhadap penderita dengan kondisi komorbid.[52] Prevalensi sindrom Tourette yang dilaporkan bervariasi tergantung sumber, usia, dan jenis kelamin sampel penelitian; prosedur pengambilan sampel; serta sistem diagnostik,[32] dengan rentang antara 0,15–3,0 pada anak-anak dan remaja.[62] Pada tahun 2017, Sukhodolsky, et al. menulis bahwa perkiraan terbaik prevalensi sindrom Tourette pada anak adalah 1,4%.[62] Baik Robertson[42] maupun Stern menyatakan bahwa prevalensi sindrom Tourette pada anak adalah 1%.[2] Prevalensi sindrom Tourette pada populasi umum diperkirakan sebesar 0,3–1,0%.[7] Menurut data sensus pada pergantian abad, perkiraan prevalensi tersebut setara dengan setengah anak dengan sindrom Tourette di Amerika Serikat dan setengah anak dengan sindrom Tourette di Britania Raya, meskipun gejala-gejala kondisi tersebut pada banyak individu dengan usia lebih tua akan hampir sulit dikenali.[e]

Sindrom Tourette dulu dianggap langka: pada tahun 1972, National Institutes of Health (NIH) AS percaya bahwa terdapat kurang dari 100 kasus di Amerika Serikat,[147] dan sebuah data register tahun 1973 melaporkan hanya terdapat 485  kasus di seluruh dunia.[148] Namun, berbagai penelitian yang dipublikasikan sejak tahun 2000 secara konsisten menunjukkan bahwa prevalensi sindrom Tourette jauh lebih tinggi.[149] Menyadari bahwa tik sering kali tidak terdiagnosis dan sulit untuk dideteksi,[f] berbagai studi yang lebih baru menggunakan pengamatan langsung di ruang kelas serta berbagai sumber informasi (orang tua, guru, dan pengamat terlatih), sehingga kasus yang tercatat lebih banyak dibandingkan pada studi-studi terdahulu.[113][152] Seiring dengan bergesernya ambang diagnosis dan metodologi penilaian ke arah pengenalan kasus-kasus yang lebih ringan, estimasi prevalensi pun meningkat.[149]

Karena tingginya prevalensi sindrom Tourette pada laki-laki, data mengenai sindrom Tourette pada perempuan masih terbatas sehingga sulit untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, diperlukan kehati-hatian dalam menerapkan kesimpulan mengenai karakteristik dan penatalaksanaan tik pada perempuan yang didasarkan pada studi yang sebagian besar melibatkan laki-laki.[47] Sebuah tinjauan tahun 2021 menyatakan bahwa pasien perempuan mungkin mengalami puncak gejala pada usia yang lebih lanjut dibandingkan laki-laki, dengan tingkat remisi yang lebih rendah seiring berjalannya waktu, serta prevalensi kecemasan dan gangguan suasana hati yang lebih tinggi.[47]

Sejarah

sunting
Sebuah lukisan yang menggambarkan kuliah kedokteran pada abad ke-19. Di bagian depan kelas, seorang wanita pingsan ke dalam pelukan seorang laki-laki di belakangnya, sementara perempuan lainnya, kemungkinan seorang perawat, bergegas untuk memberikan pertolongan. Seorang laki-laki yang lebih tua, sang profesor, berdiri di sebelah perempuan yang pingsan tersebut dan memberi isyarat seolah-olah sedang menjelaskan suatu hal. Sekitar dua lusin siswa laki-laki menyaksikan peristiwa tersebut.
Jean-Martin Charcot adalah seorang ahli neurologi dan profesor asal Prancis yang menamai sindrom Tourette berdasarkan nama asistennya, Georges Gilles de la Tourette. Dalam lukisan A Clinical Lesson at the Salpêtrière (1887), André Brouillet menggambarkan suasana dari sebuah kuliah medis yang disampaikan oleh Charcot (tokoh yang berdiri di tengah lukisan) serta menampilkan de la Tourette di antara hadirin (duduk di barisan depan dan mengenakan celemek).

Seorang dokter asal Prancis, Jean Marc Gaspard Itard, melaporkan kasus pertama sindrom Tourette pada tahun 1825,[153] dengan mendeskripsikan Marquise de Dampierre, seorang bangsawati terkemuka pada masanya.[154][155] Pada tahun 1884, Jean-Martin Charcot, seorang dokter Prancis yang berpengaruh, mengutus murid[156] sekaligus asistennya, Georges Gilles de la Tourette, untuk mempelajari pasien-pasien dengan gangguan gerak di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière, dengan tujuan untuk mengidentifikasi suatu kondisi yang berbeda dari histeria dan chorea.[157] Pada tahun 1885, Gilles de la Tourette menerbitkan sebuah laporan mengenai sembilan orang dengan "gangguan tik konvulsif" dalam Study of a Nervous Affliction, dan menyimpulkan bahwa suatu kategori klinis terbaru harus dibuat.[158][159] Eponim tersebut kemudian diberikan oleh Charcot untuk menghormati Gilles de la Tourette, yang kelak menjadi residen senior Charcot.[35][160]

Setelah deskripsi-deskripsi pada abad ke-19 tersebut, pandangan psikogenik menjadi dominan, dan hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam penjelasan maupun penanganan tik hingga jauh memasuki abad ke-20.[35] Kemungkinan bahwa gangguan gerak, termasuk sindrom Tourette, memiliki penyebab organik mulai dikemukakan ketika epidemi ensefalitis letargika pada tahun 1918–1926 dikaitkan dengan meningkatnya kasus gangguan tik.[35][161]

Selama tahun 1960-an hingga 1970-an, seiring mulai diketahuinya efek menguntungkan haloperidol terhadap tik, pendekatan psikoanalitik terhadap sindrom Tourette pun dipertanyakan.[97][162] Titik balik terjadi pada tahun 1965, ketika Arthur K. Shapiro, yang dijuluki sebagai "bapak penelitian gangguan tik modern",[163] menggunakan haloperidol untuk menangani seorang penderita Tourette, dan menerbitkan sebuah tulisan ilmiah yang mengkritisi pendekatan psikoanalitik.[161] Pada tahun 1975, The New York Times memuat artikel dengan tajuk "Bizarre outbursts of Tourette's disease victims linked to chemical disorder in brain" (terjemahan: "Ledakan aneh pada korban penyakit Tourette terkait dengan gangguan kimiawi di otak"), dan Shapiro menyatakan: "Gejala-gejala aneh penyakit ini hanya dapat ditandingi oleh anehnya metode pengobatan yang digunakan untuk menanganinya."[164]

Selama tahun 1990-an, muncul pandangan yang lebih netral mengenai sindrom Tourette, yang memandang bahwa predisposisi genetik berinteraksi dengan faktor non-genetik dan faktor lingkungan.[35][165][166] Revisi DSM keempat (DSM-IV) pada tahun 1994 menambahkan syarat diagnostik berupa "adanya distres yang nyata atau gangguan yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya". Hal tersebut memicu keberatan dari para pakar dan peneliti sindrom Tourette. Mereka menekankan bahwa banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengalami sindrom Tourette atau merasa terganggu akibat tik yang mereka alami. Akibatnya, para klinisi dan peneliti kembali menggunakan kriteria terdahulu dalam riset maupun praktik klinis.[8] Pada tahun 2000, American Psychiatric Association merevisi kriteria diagnosis tersebut dalam revisi teks keempat DSM (DSM-IV-TR) dengan menghapus persyaratan adanya gangguan fungsi[87] setelah mengakui bahwa para klinisi kerap menjumpai penderita sindrom Tourette yang tidak mengalami stress maupun gangguan fungsi.[93]

Masyarakat dan budaya

sunting
Potret setengah badan seorang pria bertubuh besar dengan wajah berisi, sedang menyipitkan mata, mengenakan pakaian cokelat dan wig abad ke-18
Samuel Johnson ca 1772. Johnson mungkin mengalami sindrom Tourette.

Tidak semua penderita Tourette menginginkan pengobatan atau penyembuhan, khususnya jika hal tersebut berarti mereka dapat kehilangan aspek lain dari diri mereka dalam prosesnya.[116][167] Dua peneliti, James F. Leckman dan Donald J. Cohen, meyakini bahwa mungkin terdapat keunggulan laten yang berkaitan dengan kerentanan genetik seseorang terhadap perkembangan sindrom Tourette yang dapat memiliki nilai adaptif, seperti peningkatan kewaspadaan serta perhatian yang lebih besar terhadap detail dan lingkungan sekitar.[168][169]

Di antara penyandang sindrom Tourette, terdapat musisi, atlet, pembicara publik, dan kaum profesional dari berbagai bidang kehidupan yang berprestasi.[92][170] Atlet Tim Howard, yang digambarkan oleh Chicago Tribune sebagai "sosok yang langka—seorang pahlawan sepak bola Amerika",[171] dan oleh Tourette Syndrome Association disebut sebagai "individu dengan sindrom Tourette yang paling terkenal di dunia",[172] menyatakan bahwa kondisi neurologis yang ia alami memberikan persepsi yang lebih tajam dan fokus yang lebih tinggi yang berkontribusi terhadap kesuksesannya di lapangan.[138]

Samuel Johnson adalah seorang tokoh sejarah yang kemungkinan besar mengalami sindrom Tourette, sebagaimana ditunjukkan oleh tulisan-tulisan sahabatnya, James Boswell.[173][174] Johnson menulis A Dictionary of the English Language pada tahun 1747, dan ia adalah seorang penulis, penyair, serta kritikus yang sangat produktif. Di sisi lain, hanya sedikit bukti yang mendukung spekulasi bahwa[175][176] Mozart mengidap sindrom Tourette.[177] Aspek tik vokal yang berpotensi berupa koprolalia tidak dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga tulisan-tulisan skatalogis Mozart tidak dapat untuk dijadikan bukti yang relevan; riwayat medis sang komponis yang tersedia juga tidak lengkap; efek dari kondisi lainnya dapat disalahartikan; dan "bukti adanya tik motorik dalam kehidupan Mozart masih diragukan".[178]

Kemungkinan pengggambaran sindrom Tourette atau gangguan tik dalam karya fiksi sebelum penelitian Gilles de la Tourette antara lain adalah pada tokoh "Mr. Pancks" dalam Little Dorrit karya Charles Dickens dan "Nikolai Levin" dalam Anna Karenina karya Leo Tolstoy.[179] Industri hiburan telah dikritik karena sering menggambarkan penderita sindrom Tourette sebagai orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan sosial dan seolah-olah hanya mengalami tik berupa koprolalia, sehingga memperkuat kesalahpahaman publik dan stigma terhadap penderita Tourette.[180][181][182] Gejala koprolalia pada sindrom Tourette juga sering dijadikan bahan acara bincang-bincang radio dan televisi di AS[183] maupun di media Britania Raya.[184] Liputan media yang mendapat perhatian tinggi masyarakat sering kali berfokus pada terapi yang keamanan dan efektivitasnya belum terbukti, seperti stimulasi otak dalam, dan banyak orang tua juga mencoba berbagai terapi alternatif yang efektivitas dan efek sampingnya belum diteliti secara memadai.[185]

Film I Swear yang dirilis tahun 2025 didasarkan pada kisah nyata John Davidson, seorang pria Skotlandia yang mengalami sindrom Tourette berat.

Arah penelitian

sunting

Penelitian sejak tahun 1999 telah meningkatkan pemahaman mengenai sindrom Tourette dalam bidang genetika, pencitraan saraf, neurofisiologi, dan neuropatologi. Namun, masih terdapat sejumlah pertanyaan mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengklasifikasikan sindrom Tourette dan seberapa erat kaitan kondisi ini dengan gangguan gerak atau psikatrik lainnya.[6][14][15][16] Dengan mencontoh terobosan genetika yang dicapai melalui upaya penelitian berskala besar pada gangguan perkembangan saraf lainnya, tiga kelompok berikut bekerja sama dalam penelitian genetika sindrom Tourette:

  • The Tourette Syndrome Association International Consortium for Genetics (TSAICG)
  • Tourette International Collaborative Genetics Study (TIC Genetics)
  • European Multicentre Tics in Children Studies (EMTICS)

Dibandingkan dengan kemajuan yang telah dibuat dalam penemuan gen pada gangguan perkembangan saraf atau kesehatan mental tertentu, seperti autisme, skizofrenia, dan gangguan bipolar, skala penelitian terkait sindrom Tourette di Amerika Serikat masih tertinggal akibat masalah pendanaan.[186]

Lihat juga

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ Menurut Dale (2017), seiring berjalannya waktu, 15% individu dengan tik hanya mengalami sindrom Tourette saja (85% penderita Tourette akan mengalami setidaknya satu kondisi komorbid).[15] Dalam sebuah tinjauan pustaka tahun 2017, Sukhodolsky, et al. menyatakan bahwa 37% individu dalam sampel klinis mengalami sindrom Tourette murni.[62] Denckla (2006) melaporkan bahwa suatu telaah terhadap rekam medis pasien menunjukkan bahwa sekitar 40% individu dengan sindrom Tourette memiliki sindrom Tourette saja.[63][64] Dure dan DeWolfe (2006) melaporkan bahwa 57% dari 656 individu yang datang dengan gangguan tik mengalami tik tanpa disertai kondisi lainnya.[24]
  2. ^ YGTSS dianggap sebagai standar baku dalam penilaian tik.[7]
  3. ^ Tidak ada perubahan pada revisi teks ke-5 tahun 2022, DSM-5-TR.[86]
  4. ^ Gangguan gerak tanpa penyebab organik telah disebut dengan berbagai istilah dari waktu ke waktu, seperti histerikal, psikogenik, dan gangguan gerakan psikogenik;[100][101] DSM-5 mengklasifikasikan mereka ke dalam gangguan gejala neurologis fungsional/gangguan konversi.[102]
  5. ^ Rentang prevalensi sebesar 0,1–1% menghasilkan perkiraan bahwa terdapat 53.000–530.000 anak usia sekolah yang mengalami sindrom Tourette di Amerika Serikat, berdasarkan data sensus tahun 2000.[55] Di Britania Raya, perkiraan prevalensi sebesar 1,0% berdasarkan data sensus tahun 2001 menunjukkan bahwa sekitar setengah juta penduduk berusia lima tahun atau lebih mengalami sindrom Tourette, meskipun gejala pada individu lebih tua mungkin hampir tidak dikenali.[43] Prevalensi sindrom Tourette lebih tinggi pada populasi yang menjalani pendidikan khusus.[42]
  6. ^ Perbedaan antara perkiraan prevalensi saat ini dengan sebelumnya bersumber dari beberapa faktor: bias kepastian yang disebabkan oleh sampel yang diambil dari kasus-kasus yang dirujuk secara klinis; metode penilaian yang gagal mendeteksi kasus-kasus yang lebih ringan; dan penggunaan kriteria serta ambang batas diagnostik yang berbeda.[149] Sebelum tahun 2020, hanya terdapat sedikit penelitian berbasis komunitas berskala luas yang dipublikasikan. Sebagian besar penelitian epidemiologi terdahulu hanya melibatkan individu yang dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tersier atau klinik spesialis.[52][150] Individu dengan gejala ringan mungkin tidak mencari pengobatan dan para dokter mungkin menghindari penegakkan diagnosis sindrom Tourette secara resmi pada anak-anak karena kekhawatiran adanya stigmatisasi.[44] Berbagai penelitian tersebut juga rentan terhadap kesalahan lebih lanjut karena intensitas dan ekspresi genetik tik dapat bervariasi, sering kali intermiten, dan tidak selalu dikenali oleh para klinisi, penderita sindrom Tourette, anggota keluarga, teman, maupun guru.[38][151]

Referensi

sunting
  1. ^ a b c Müller-Vahl KR, Szejko N, Verdellen C, et al. (Juli 2021). "European clinical guidelines for Tourette syndrome and other tic disorders: summary statement". Eur Child Adolesc Psychiatry. 31 (3): 377–382. doi:10.1007/s00787-021-01832-4. PMC 8940881. PMID 34244849. S2CID 235781456.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa Stern JS (Agustus 2018). "Tourette's syndrome and its borderland" (PDF). Pract Neurol (Tinjauan sejarah). 18 (4): 262–270. doi:10.1136/practneurol-2017-001755. PMID 29636375. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Desember 2018. Diakses tanggal 30 November 2018.
  3. ^ a b "Tourette syndrome fact sheet". National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 6 Juli 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Desember 2018. Diakses tanggal 30 November 2018.
  4. ^ Qi Y, Zheng Y, Li Z, Liu Z, Xiong L (2019). "Genetic Studies of Tic Disorders and Tourette Syndrome". Methods Mol Biol. 2011: 547–571. doi:10.1007/978-1-4939-9554-7_32. PMID 31273721. Kutipan asli: "Previous family and twin studies have shown that the majority of cases of TS are inherited. TS was previously thought to have an autosomal dominant pattern of inheritance. However, several decades of research have shown that this is unlikely the case. Instead, TS most likely results from a variety of genetic and environmental factors, not changes in a single gene." Terjemahan kutipan: "Berbagai studi terhadap keluarga atau anak kembar menunjukkan bahwa mayoritas kasus TS diwariskan. Sebelumnya, TS diperkirakan memiliki pola pewarisan autosomal dominan. Namun, beberapa dekade penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut kemungkinan besar tidak demikian. Sebaliknya, TS kemungkinan besar merupakan hasil dari berbagai faktor genetik dan faktor lingkungan, bukan akibat perubahan dalam satu gen tunggal."
  5. ^ a b c d e f Pringsheim T, Holler-Managan Y, Okun MS, et al. (Mei 2019). "Comprehensive systematic review summary: Treatment of tics in people with Tourette syndrome and chronic tic disorders". Neurology (Tinjauan). 92 (19): 907–915. doi:10.1212/WNL.0000000000007467. PMC 6537130. PMID 31061209.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Hollis C, Pennant M, Cuenca J, et al. (Januari 2016). "Clinical effectiveness and patient perspectives of different treatment strategies for tics in children and adolescents with Tourette syndrome: a systematic review and qualitative analysis Diarsipkan 3 Juni 2022 di Wayback Machine.". Health Technology Assessment. Southampton (UK): NIHR Journals Library. 20 (4): 1–450. DOI:10.3310/hta20040. ISSN 1366-5278.
  7. ^ a b c d e f g h i j Szejko N, Robinson S, Hartmann A, et al. (Oktober 2021). "European clinical guidelines for Tourette syndrome and other tic disorders-version 2.0. Part I: assessment". Eur Child Adolesc Psychiatry. 31 (3): 383–402. doi:10.1007/s00787-021-01842-2. PMC 8521086. PMID 34661764.
  8. ^ a b c d e f Robertson MM, Eapen V (Oktober 2014). "Tourette's: syndrome, disorder or spectrum? Classificatory challenges and an appraisal of the DSM criteria". Asian Journal of Psychiatry (Tinjauan). 11: 106–113. doi:10.1016/j.ajp.2014.05.010. PMID 25453712.
  9. ^ a b Liu ZS, Cui YH, Sun D, et al. (2020). "Current status, diagnosis, and treatment recommendation for tic disorders in China". Front Psychiatry. 11: 774. doi:10.3389/fpsyt.2020.00774. PMC 7438753. PMID 32903695. Kutipan asli: "The CCMD-3, DSM-5, and ICD-11 diagnostic criteria for tics are almost the same. Currently, the DSM-5 is mostly used in clinical practice around the world, including China." Terjemahan kutipan: "Kriteria diagnostik untuk tik dalam CCMD-3, DSM-5, dan ICD-11 hampir sama. Saat ini, DSM-5 adalah pedoman yang paling banyak digunakan dalam praktik klinis di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok."
  10. ^ a b "Tourette's Disorder, 307.23 (F95.2)". Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Edisi ke-5). American Psychiatric Association. 2013. hlm. 81. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ Martino D, Hedderly T (Februari 2019). "Tics and stereotypies: A comparative clinical review". Parkinsonism Relat. Disord. (Tinjauan). 59: 117–124. doi:10.1016/j.parkreldis.2019.02.005. PMID 30773283. S2CID 73486351.
  12. ^ a b c d e Martino D, Pringsheim TM (Februari 2018). "Tourette syndrome and other chronic tic disorders: an update on clinical management". Expert Rev Neurother (Tinjauan). 18 (2): 125–137. doi:10.1080/14737175.2018.1413938. PMID 29219631. S2CID 205823966.
  13. ^ Jankovic J (September 2017). "Tics and Tourette syndrome" (PDF). Practical Neurology: 22–24. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 Maret 2019. Diakses tanggal 24 Maret 2019.
  14. ^ a b c d e f g h i j k l m Fernandez TV, State MW, Pittenger C (2018). "Tourette disorder and other tic disorders". Neurogenetics, Part I (Tinjauan). Handbook of Clinical Neurology. Vol. 147. hlm. 343–354. doi:10.1016/B978-0-444-63233-3.00023-3. ISBN 978-0-444-63233-3. PMID 29325623. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z Dale RC (Desember 2017). "Tics and Tourette: a clinical, pathophysiological and etiological review". Curr. Opin. Pediatr. (Tinjauan). 29 (6): 665–673. doi:10.1097/MOP.0000000000000546. PMID 28915150. S2CID 13654194.
  16. ^ a b c d e Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 242.
  17. ^ "Neurodevelopmental disorders". American Psychiatric Association. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Mei 2011. Diakses tanggal 29 Desember 2011.
  18. ^ "Highlights of changes from DSM-IV-TR to DSM-5" (PDF). American Psychiatric Association. 2013. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 3 Februari 2013. Diakses tanggal 5 Juni 2013.
  19. ^ Reed GM, First MB, Kogan CS, et al. (Februari 2019). "Innovations and changes in the ICD-11 classification of mental, behavioural and neurodevelopmental disorders". World Psychiatry. 18 (1): 3–19. doi:10.1002/wps.20611. PMC 6313247. PMID 30600616. Kutipan asli: "Finally, chronic tic disorders, including Tourette syndrome, are classified in the ICD-11 chapter on diseases of the nervous system, but are cross-listed in the grouping of neurodevelopmental disorders because of their high co-occurrence (e.g., with ADHD) and typical onset during the developmental period." Terjemahan kutipan: "Pada akhirnya, gangguan tik kronis, termasuk sindrom Tourette, diklasifikasikan dalam bab penyakit sistem saraf dalam ICD-11, tetapi juga dicantumkan silang dalam kelompok gangguan perkembangan saraf akibat sering disertai dengan kondisi lain (misalnya dengan ADHD) serta memiliki awitan yang khas pada masa perkembangan."
  20. ^ "8A05.00 Tourette syndrome". World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Agustus 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2022. Diseases of the nervous system --> Tic disorders: "onset during the developmental period"
  21. ^ a b c d e f g h Ueda K, Black KJ (2021). "Recent progress on Tourette syndrome". Fac Rev. 10: 70. doi:10.12703/r/10-70. PMC 8442002. PMID 34557874.
  22. ^ "International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision: Chapter V: Mental and behavioural disorders". World Health Organization. 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2020. Diakses tanggal 7 Agustus 2020. Lihat juga ICD versi 2007. Diarsipkan 4 Maret 2012 di Wayback Machine.
  23. ^ a b c d "Definitions and classification of tic disorders. The Tourette Syndrome Classification Study Group". Arch. Neurol. (Pendukung riset). 50 (10): 1013–1016. Oktober 1993. doi:10.1001/archneur.1993.00540100012008. PMID 8215958. Diarsipkan dari asli tanggal 26 April 2006.
  24. ^ a b c d Dure LS, DeWolfe J (2006). "Treatment of tics". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 191–196. PMID 16536366.
  25. ^ a b c d e f Hashemiyoon R, Kuhn J, Visser-Vandewalle V (Januari 2017). "Putting the pieces together in Gilles de la Tourette Syndrome: exploring the link between clinical observations and the biological basis of dysfunction". Brain Topogr (Tinjauan). 30 (1): 3–29. doi:10.1007/s10548-016-0525-z. PMC 5219042. PMID 27783238.
  26. ^ a b Ludlow AK, Rogers SL (Maret 2018). "Understanding the impact of diet and nutrition on symptoms of Tourette syndrome: A scoping review". J Child Health Care (Tinjauan). 22 (1): 68–83. doi:10.1177/1367493517748373. hdl:2299/19887. PMID 29268618.
  27. ^ a b c Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 243.
  28. ^ a b Jankovic J (2001). "Differential diagnosis and etiology of tics". Adv Neurol (Tinjauan). 85: 15–29. PMID 11530424.
  29. ^ a b Prado HS, Rosário MC, Lee J, Hounie AG, Shavitt RG, Miguel EC (Mei 2008). "Sensory phenomena in obsessive-compulsive disorder and tic disorders: a review of the literature". CNS Spectr (Tinjauan dan metaanalisis). 13 (5): 425–432. doi:10.1017/s1092852900016606. PMID 18496480. S2CID 5694160. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Februari 2012.
  30. ^ Bliss J (Desember 1980). "Sensory experiences of Gilles de la Tourette syndrome". Arch. Gen. Psychiatry. 37 (12): 1343–1347. doi:10.1001/archpsyc.1980.01780250029002. PMID 6934713.
  31. ^ a b Kwak C, Dat Vuong K, Jankovic J (Desember 2003). "Premonitory sensory phenomenon in Tourette's syndrome". Mov. Disord. 18 (12): 1530–1533. doi:10.1002/mds.10618. PMID 14673893. S2CID 8152205.
  32. ^ a b c d e f g Swain JE, Scahill L, Lombroso PJ, King RA, Leckman JF (Agustus 2007). "Tourette syndrome and tic disorders: a decade of progress". J Am Acad Child Adolesc Psychiatry (Tinjauan). 46 (8): 947–968. doi:10.1097/chi.0b013e318068fbcc. PMID 17667475. S2CID 343916.
  33. ^ a b c Ludolph AG, Roessner V, Münchau A, Müller-Vahl K (November 2012). "Tourette syndrome and other tic disorders in childhood, adolescence and adulthood". Dtsch Ärztebl Int (Tinjauan). 109 (48): 821–828. doi:10.3238/arztebl.2012.0821. PMC 3523260. PMID 23248712.
  34. ^ a b c Müller-Vahl (2013), hlm. 629.
  35. ^ a b c d e Black KJ (30 Maret 2007). "Tourette syndrome and other tic disorders". eMedicine. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Agustus 2009. Diakses tanggal 10 Agustus 2009.
  36. ^ a b c d e f g h i j k l m Singer HS (2011). "Tourette syndrome and other tic disorders". Hyperkinetic Movement Disorders (Tinjauan sejarah). Handbook of Clinical Neurology. Vol. 100. Elsevier. hlm. 641–657. doi:10.1016/B978-0-444-52014-2.00046-X. ISBN 978-0-444-52014-2. PMID 21496613. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Juga lihat Singer HS (Maret 2005). "Tourette's syndrome: from behaviour to biology". Lancet Neurol (Tinjauan). 4 (3): 149–59. doi:10.1016/S1474-4422(05)01012-4 (tidak aktif 12 Juli 2025). PMID 15721825. S2CID 20181150. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
  37. ^ a b c d e Leckman JF, Bloch MH, King RA, Scahill L (2006). "Phenomenology of tics and natural history of tic disorders". Adv Neurol (Tinjauan sejarah). 99: 1–16. PMID 16536348.
  38. ^ a b c d e f g h i Zinner SH (November 2000). "Tourette disorder". Pediatr Rev (Tinjauan). 21 (11): 372–383. doi:10.1542/pir.21-11-372. PMID 11077021. S2CID 7774922.
  39. ^ a b c Leckman JF, Zhang H, Vitale A, et al. (Juli 1998). "Course of tic severity in Tourette syndrome: the first two decades" (PDF). Pediatrics (Pendukung riset). 102 (1 Pt 1): 14–19. doi:10.1542/peds.102.1.14. PMID 9651407. S2CID 24743670. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 13 Januari 2012.
  40. ^ a b c d Fernandez TV, State MW, Pittenger C (2018). "Tourette disorder and other tic disorders". Neurogenetics, Part I (Tinjauan). Handbook of Clinical Neurology. Vol. 147. hlm. 343–354. doi:10.1016/B978-0-444-63233-3.00023-3. ISBN 978-0-444-63233-3. PMID 29325623. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Mengutip Bloch (2013), hlm. 109: No tics when they reach adulthood, 37%; minimal 18%; mild 26%; moderate 14%; worse 5%.
  41. ^ a b c Rapin I (2001). "Autism spectrum disorders: relevance to Tourette syndrome". Adv Neurol (Tinjauan). 85: 89–101. PMID 11530449.
  42. ^ a b c Robertson MM (Februari 2011). "Gilles de la Tourette syndrome: the complexities of phenotype and treatment". Br J Hosp Med (Lond). 72 (2): 100–107. doi:10.12968/hmed.2011.72.2.100. PMID 21378617.
  43. ^ a b Robertson MM (November 2008). "The prevalence and epidemiology of Gilles de la Tourette syndrome. Part 1: the epidemiological and prevalence studies". J Psychosom Res (Tinjauan). 65 (5): 461–472. doi:10.1016/j.jpsychores.2008.03.006. PMID 18940377.
  44. ^ a b Knight T, Steeves T, Day L, Lowerison M, Jette N, Pringsheim T (Agustus 2012). "Prevalence of tic disorders: a systematic review and meta-analysis". Pediatr. Neurol. (Tinjauan). 47 (2): 77–90. doi:10.1016/j.pediatrneurol.2012.05.002. PMID 22759682.
  45. ^ Kenney C, Kuo SH, Jimenez-Shahed J (Maret 2008). "Tourette's syndrome". Am Fam Physician (Tinjauan). 77 (5): 651–658. PMID 18350763.
  46. ^ Black KJ, Black ER, Greene DJ, Schlaggar BL (2016). "Provisional Tic Disorder: What to tell parents when their child first starts ticcing". F1000Res (Tinjauan). 5: 696. doi:10.12688/f1000research.8428.1. PMC 4850871. PMID 27158458.
  47. ^ a b c Garris J, Quigg M (Oktober 2021). "The female Tourette patient: sex differences in Tourette disorder". Neurosci Biobehav Rev (Tinjauan). 129: 261–268. doi:10.1016/j.neubiorev.2021.08.001. PMID 34364945. S2CID 236921688.
  48. ^ a b c d e f g Robertson MM, Eapen V, Singer HS, et al. (Februari 2017). "Gilles de la Tourette syndrome" (PDF). Nat Rev Dis Primers (Tinjauan). 3 (1) 16097. doi:10.1038/nrdp.2016.97. PMID 28150698. S2CID 38518566. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 22 Juli 2018. Diakses tanggal 22 April 2020.
  49. ^ Kammer T (2007). "Mozart in the neurological department – who has the tic?" (PDF). Dalam Bogousslavsky J, Hennerici MG (ed.). Neurological Disorders in Famous Artists - Part 2 (Biografi sejarah). Frontiers of Neurology and Neuroscience. Vol. 22. Basel: Karger. hlm. 184–192. doi:10.1159/000102880. ISBN 978-3-8055-8265-0. PMID 17495512. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2012.
  50. ^ Todd O (2005). Malraux: A Life. Alfred A. Knopf. hlm. 7. ISBN 978-0-375-40702-4.
  51. ^ Guidotti TL (Mei 1985). "André Malraux: a medical interpretation". J R Soc Med (Biografi sejarah). 78 (5): 401–406. doi:10.1177/014107688507800511. PMC 1289723. PMID 3886907.
  52. ^ a b c d e Bloch M, State M, Pittenger C (April 2011). "Recent advances in Tourette syndrome". Curr. Opin. Neurol. (Tinjauan). 24 (2): 119–125. doi:10.1097/WCO.0b013e328344648c. PMC 4065550. PMID 21386676.
  53. ^ Lihat juga
  54. ^ a b Hirschtritt ME, Lee PC, Pauls DL, et al. (April 2015). "Lifetime prevalence, age of risk, and genetic relationships of comorbid psychiatric disorders in Tourette syndrome". JAMA Psychiatry. 72 (4): 325–333. doi:10.1001/jamapsychiatry.2014.2650. PMC 4446055. PMID 25671412.
  55. ^ a b c Scahill L, Williams S, Schwab-Stone M, Applegate J, Leckman JF (2006). "Disruptive behavior problems in a community sample of children with tic disorders". Adv Neurol (Studi komparatif). 99: 184–190. PMID 16536365.
  56. ^ a b c d e f g h i Morand-Beaulieu S, Leclerc JB, Valois P, et al. (Agustus 2017). "A review of the neuropsychological dimensions of Tourette syndrome". Brain Sci (Tinjauan). 7 (8): 106. doi:10.3390/brainsci7080106. PMC 5575626. PMID 28820427.
  57. ^ a b Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 245.
  58. ^ Hounie AG, do Rosario-Campos MC, Diniz JB, et al. (2006). "Obsessive-compulsive disorder in Tourette syndrome". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 22–38. PMID 16536350.
  59. ^ Katz TC, Bui TH, Worhach J, Bogut G, Tomczak KK (2022). "Tourettic OCD: Current understanding and treatment challenges of a unique endophenotype". Front Psychiatry. 13 929526. doi:10.3389/fpsyt.2022.929526. PMC 9363583. PMID 35966462.
  60. ^ Cravedi E, Deniau E, Giannitelli M, et al. (2017). "Tourette syndrome and other neurodevelopmental disorders: a comprehensive review". Child Adolesc Psychiatry Ment Health (Tinjauan). 11 (1) 59. doi:10.1186/s13034-017-0196-x. PMC 5715991. PMID 29225671.
  61. ^ Darrow SM, Grados M, Sandor P, et al. (Juli 2017). "Autism spectrum symptoms in a Tourette's disorder sample". J Am Acad Child Adolesc Psychiatry (Studi komparatif). 56 (7): 610–617.e1. doi:10.1016/j.jaac.2017.05.002. PMC 5648014. PMID 28647013.
  62. ^ a b c d e f Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 244.
  63. ^ Denckla MB (Agustus 2006). "Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD) comorbidity: a case for "pure" Tourette syndrome?". J. Child Neurol. (Tinjauan). 21 (8): 701–703. doi:10.1177/08830738060210080701. PMID 16970871. S2CID 44775472.
  64. ^ a b c d Denckla MB (2006). "Attention deficit hyperactivity disorder: the childhood co-morbidity that most influences the disability burden in Tourette syndrome". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 17–21. PMID 16536349.
  65. ^ a b c Pruitt & Packer (2013), hlm. 636–637.
  66. ^ a b c d e Baldermann JC, Schüller T, Huys D, et al. (2016). "Deep brain stimulation for Tourette syndrome: a systematic review and meta-analysis". Brain Stimul (Tinjauan). 9 (2): 296–304. doi:10.1016/j.brs.2015.11.005. PMID 26827109. S2CID 22929403.
  67. ^ a b Cavanna AE (November 2018). "The neuropsychiatry of Gilles de la Tourette syndrome: The état de l'art". Rev. Neurol. (Paris) (Tinjauan). 174 (9): 621–627. doi:10.1016/j.neurol.2018.06.006. PMID 30098800. S2CID 51966823.
  68. ^ a b c d e f g h i j k Efron D, Dale RC (Oktober 2018). "Tics and Tourette syndrome". J Paediatr Child Health (Tinjauan). 54 (10): 1148–1153. doi:10.1111/jpc.14165. hdl:11343/284621. PMID 30294996. S2CID 52934981.
  69. ^ Yu D, Sul JH, Tsetsos F, et al. (Maret 2019). "Interrogating the genetic determinants of Tourette's syndrome and other tic disorders through genome-wide association studies". Am J Psychiatry (Metaanalisis). 176 (3): 217–227. doi:10.1176/appi.ajp.2018.18070857. PMC 6677250. PMID 30818990.
  70. ^ van de Wetering BJ, Heutink P (Mei 1993). "The genetics of the Gilles de la Tourette syndrome: a review". J. Lab. Clin. Med. (Tinjauan). 121 (5): 638–645. PMID 8478592.
  71. ^ Paschou P (Juli 2013). "The genetic basis of Gilles de la Tourette Syndrome". Neurosci Biobehav Rev (Tinjauan). 37 (6): 1026–1039. doi:10.1016/j.neubiorev.2013.01.016. PMID 23333760. S2CID 10515751.
  72. ^ Barnhill J, Bedford J, Crowley J, Soda T (2017). "A search for the common ground between Tic; Obsessive-compulsive and Autism Spectrum Disorders: part I, Tic disorders". AIMS Genet (Tinjauan). 4 (1): 32–46. doi:10.3934/genet.2017.1.32. PMC 6690237. PMID 31435502.
  73. ^ a b Hsu CJ, Wong LC, Lee WT (Januari 2021). "Immunological dysfunction in Tourette syndrome and related disorders". Int J Mol Sci (Tinjauan). 22 (2): 853. doi:10.3390/ijms22020853. PMC 7839977. PMID 33467014.
  74. ^ a b Wilbur C, Bitnun A, Kronenberg S, Laxer RM, Levy DM, Logan WJ, Shouldice M, Yeh EA (Mei 2019). "PANDAS/PANS in childhood: Controversies and evidence". Paediatr Child Health. 24 (2): 85–91. doi:10.1093/pch/pxy145. PMC 6462125. PMID 30996598.
  75. ^ Sigra S, Hesselmark E, Bejerot S (Maret 2018). "Treatment of PANDAS and PANS: a systematic review". Neurosci Biobehav Rev. 86: 51–65. doi:10.1016/j.neubiorev.2018.01.001. PMID 29309797. S2CID 40827012.
  76. ^ Hirschtritt ME, Darrow SM, et al. (Januari 2018). "Genetic and phenotypic overlap of specific obsessive-compulsive and attention-deficit/hyperactive subtypes with Tourette syndrome". Psychol Med. 48 (2): 279–293. doi:10.1017/S0033291717001672. PMC 7909616. PMID 28651666. S2CID 26353939.
  77. ^ Walkup, Mink & Hollenback (2006), hlm. xv.
  78. ^ a b c d Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 246.
  79. ^ Cox JH, Seri S, Cavanna AE (Mei 2018). "Sensory aspects of Tourette syndrome" (PDF). Neurosci Biobehav Rev (Tinjauan). 88: 170–176. doi:10.1016/j.neubiorev.2018.03.016. PMID 29559228. S2CID 4640655. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 1 Desember 2020. Diakses tanggal 18 Maret 2020.
  80. ^ Rapanelli M, Pittenger C (Juli 2016). "Histamine and histamine receptors in Tourette syndrome and other neuropsychiatric conditions". Neuropharmacology (Tinjauan). 106: 85–90. doi:10.1016/j.neuropharm.2015.08.019. PMID 26282120. S2CID 20574808.
  81. ^ Rapanelli M (Februari 2017). "The magnificent two: histamine and the H3 receptor as key modulators of striatal circuitry". Prog. Neuropsychopharmacol. Biol. Psychiatry (Tinjauan). 73: 36–40. doi:10.1016/j.pnpbp.2016.10.002. PMID 27773554. S2CID 23588346.
  82. ^ Bolam JP, Ellender TJ (Juli 2016). "Histamine and the striatum". Neuropharmacology (Tinjauan). 106: 74–84. doi:10.1016/j.neuropharm.2015.08.013. PMC 4917894. PMID 26275849.
  83. ^ Sadek B, Saad A, Sadeq A, Jalal F, Stark H (Oktober 2016). "Histamine H3 receptor as a potential target for cognitive symptoms in neuropsychiatric diseases". Behav. Brain Res. (Tinjauan). 312: 415–430. doi:10.1016/j.bbr.2016.06.051. PMID 27363923. S2CID 40024812.
  84. ^ Martino D, Pringsheim TM, Cavanna AE, et al. (Maret 2017). "Systematic review of severity scales and screening instruments for tics: Critique and recommendations". Mov. Disord. (Tinjauan). 32 (3): 467–473. doi:10.1002/mds.26891. PMC 5482361. PMID 28071825.
  85. ^ a b Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 248.
  86. ^ "DSM-5-TR Fact Sheets" (PDF). American Psychiatric Association. 2022. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 Agustus 2022. Diakses tanggal 9 Juli 2022.
  87. ^ a b c Walkup JT, Ferrão Y, Leckman JF, Stein DJ, Singer H (Juni 2010). "Tic disorders: some key issues for DSM-V" (PDF). Depress Anxiety (Tinjauan). 27 (6): 600–610. doi:10.1002/da.20711. PMID 20533370. S2CID 5469830. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 Januari 2012.
  88. ^ a b c Scahill L, Erenberg G, Berlin CM, et al. (April 2006). "Contemporary assessment and pharmacotherapy of Tourette syndrome". NeuroRx (Tinjauan). 3 (2): 192–206. doi:10.1016/j.nurx.2006.01.009. PMC 3593444. PMID 16554257.
  89. ^ a b c Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 247.
  90. ^ a b c d e f Bagheri MM, Kerbeshian J, Burd L (April 1999). "Recognition and management of Tourette's syndrome and tic disorders". Am Fam Physician (Tinjauan). 59 (8): 2263–2272, 2274. PMID 10221310. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Maret 2005.
  91. ^ a b c "What is Tourette syndrome?" (PDF). Tourette Association of America. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2020. Diakses tanggal 19 Januari 2020.
  92. ^ a b c d e Müller-Vahl (2013), hlm. 625.
  93. ^ a b "Summary of Practice: Relevant changes to DSM-IV-TR". American Psychiatric Association. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Mei 2008. Diakses tanggal 29 Desember 2011.
  94. ^ a b c d e Horner O, Hedderly T, Malik O (Agustus 2022). "The changing landscape of childhood tic disorders following COVID-19". Paediatr Child Health (Oxford). 32 (10): 363–367. doi:10.1016/j.paed.2022.07.007. PMC 9359930. PMID 35967969.
  95. ^ a b c Mejia NI, Jankovic J (Maret 2005). "Secondary tics and tourettism" (PDF). Braz J Psychiatry. 27 (1): 11–17. doi:10.1590/s1516-44462005000100006. PMID 15867978. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 Juni 2007.
  96. ^ Ringman JM, Jankovic J (Juni 2000). "Occurrence of tics in Asperger's syndrome and autistic disorder". J. Child Neurol. (Laporan kasus). 15 (6): 394–400. doi:10.1177/088307380001500608. PMID 10868783. S2CID 8596251.
  97. ^ a b c Jankovic J, Mejia NI (2006). "Tics associated with other disorders". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 61–68. PMID 16536352.
  98. ^ Freeman RD. "Tourette's syndrome: minimizing confusion". Roger Freeman, MD, blog. Diarsipkan dari asli tanggal 11 April 2006. Diakses tanggal 8 Februari 2006.
  99. ^ a b c d e f Ganos C, Martino D, Espay AJ, Lang AE, Bhatia KP, Edwards MJ (Oktober 2019). "Tics and functional tic-like movements: Can we tell them apart?" (PDF). Neurology (Tinjauan). 93 (17): 750–758. doi:10.1212/WNL.0000000000008372. PMID 31551261. S2CID 202761321. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 Juni 2022. Diakses tanggal 3 April 2022.
  100. ^ a b c d e Baizabal-Carvallo JF, Fekete R (2015). "Recognizing uncommon presentations of psychogenic (functional) movement disorders". Tremor Other Hyperkinet Mov (N Y) (Tinjauan). 5: 279. doi:10.7916/D8VM4B13. PMC 4303603. PMID 25667816.
  101. ^ a b c d e f Thenganatt MA, Jankovic J (Agustus 2019). "Psychogenic (functional) movement disorders". Continuum (Minneap Minn) (Tinjauan). 25 (4): 1121–1140. doi:10.1212/CON.0000000000000755. PMID 31356296. S2CID 198984465.
  102. ^ a b c Espay AJ, Aybek S, Carson A, et al. (September 2018). "Current concepts in diagnosis and treatment of functional neurological disorders". JAMA Neurol (Tinjauan). 75 (9): 1132–1141. doi:10.1001/jamaneurol.2018.1264. PMC 7293766. PMID 29868890.
  103. ^ Malaty IA, Anderson S, Bennett SM, et al. (Oktober 2022). "Diagnosis and management of functional tic-like phenomena". J Clin Med. 11 (21): 6470. doi:10.3390/jcm11216470. PMC 9656241. PMID 36362696.
  104. ^ Frey J, Black KJ, Malaty IA (2022). "TikTok Tourette's: are we witnessing a rise in functional tic-like behavior driven by adolescent social media use?". Psychol Res Behav Manag. 15: 3575–3585. doi:10.2147/PRBM.S359977. PMC 9733629. PMID 36505669.
  105. ^ a b c Singer HS (Maret 2005). "Tourette's syndrome: from behaviour to biology". Lancet Neurol (Tinjauan). 4 (3): 149–159. doi:10.1016/S1474-4422(05)01012-4 (tidak aktif 12 Juli 2025). PMID 15721825. S2CID 20181150. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
  106. ^ Jiménez-Jiménez FJ, Alonso-Navarro H, García-Martín E, Agúndez JA (Oktober 2020). "Sleep disorders in tourette syndrome". Sleep Med Rev (Tinjauan). 53 101335. doi:10.1016/j.smrv.2020.101335. PMID 32554211. S2CID 219467176.
  107. ^ Spencer T, Biederman J, Harding M, et al. (Oktober 1998). "Disentangling the overlap between Tourette's disorder and ADHD". J Child Psychol Psychiatry (Studi komparatif). 39 (7): 1037–1044. doi:10.1111/1469-7610.00406. PMID 9804036.
  108. ^ Morand-Beaulieu S, Leclerc JB (Januari 2020). "[Tourette syndrome: Research challenges to improve clinical practice]". Encephale (dalam bahasa Prancis). 46 (2): 146–52. doi:10.1016/j.encep.2019.10.002. PMID 32014239. S2CID 226212092.
  109. ^ a b c Frey J, Malaty IA (Februari 2022). "Tourette Syndrome treatment updates: a review and discussion of the current and upcoming literature". Curr Neurol Neurosci Rep. 22 (2): 123–142. doi:10.1007/s11910-022-01177-8. PMC 8809236. PMID 35107785.
  110. ^ a b c Seideman MF, Seideman TA (2020). "A review of the current treatment of Tourette syndrome". J Pediatr Pharmacol Ther. 25 (5): 401–412. doi:10.5863/1551-6776-25.5.401. PMC 7337131. PMID 32641910.
  111. ^ a b c d e f Pringsheim T, Okun MS, Müller-Vahl K, et al. (Mei 2019). "Practice guideline recommendations summary: Treatment of tics in people with Tourette syndrome and chronic tic disorders". Neurology (Tinjauan). 92 (19): 896–906. doi:10.1212/WNL.0000000000007466. PMC 6537133. PMID 31061208.
  112. ^ a b c Müller-Vahl (2013), hlm. 628.
  113. ^ a b Stern JS, Burza S, Robertson MM (Januari 2005). "Gilles de la Tourette's syndrome and its impact in the UK". Postgrad Med J (Tinjauan). 81 (951): 12–19. doi:10.1136/pgmj.2004.023614. PMC 1743178. PMID 15640424. Kutipan asli: "Reassurance, explanation, supportive psychotherapy, and psychoeducation are important and ideally the treatment should be multidisciplinary. In mild cases the previous methods may be all that is required, supplemented with contact with the Tourette Syndrome Association where the patient or parents wish." Terjemahan kutipan: "Memberikan ketenangan, penjelasan, psikoterapi suportif, dan psikoedukasi adalah hal yang penting dan secara ideal penanganannya harus bersifat multidisipliner. Pada kasus ringan, metode-metode tersebut mungkin sudah cukup, dengan tambahan kontak dengan Asosiasi Sindrom Tourette di tempat yang pasien atau orang tua pasien inginkan."
  114. ^ Robertson MM (Maret 2000). "Tourette syndrome, associated conditions and the complexities of treatment". Brain (Tinjauan). 123 (Pt 3): 425–462. doi:10.1093/brain/123.3.425. PMID 10686169.
  115. ^ Peterson BS, Cohen DJ (1998). "The treatment of Tourette's syndrome: multimodal, developmental intervention". J Clin Psychiatry (Tinjauan). 59 (Suppl 1): 62–74. PMID 9448671. Kutipan asli: 'Because of the understanding and hope that it provides, education is also the single most important treatment modality that we have in TS." Terjemahan kutipan: "Akibat pemahaman dan harapan yang diberikannya, edukasi juga merupakan satu-satunya modalitas terapi yang paling penting yang kita miliki dalam [penanganan] TS." Lihat juga Zinner 2000, PMID 11077021.
  116. ^ a b c Müller-Vahl (2013), hlm. 623.
  117. ^ a b Andrén P, Jakubovski E, Murphy TL, et al. (Juli 2021). "European clinical guidelines for Tourette syndrome and other tic disorders-version 2.0. Part II: psychological interventions". Eur Child Adolesc Psychiatry. 31 (3): 403–423. doi:10.1007/s00787-021-01845-z. PMC 8314030. PMID 34313861.
  118. ^ Müller-Vahl (2013), hlm. 626; Kutipan asli: "Quite often, the unimpaired child receives medical treatment to reduce tics, when instead the parents should more appropriately receive psychoeducation and social support to better cope with the condition" Terjemahan kutipan: Sering kali, anak yang tidak mengalami hendaya menerima terapi medis untuk mengurangi tik, padahal yang lebih tepat adalah para orang tua yang seharusnya menerima psikoedukasi dan dukungan sosial agar dapat lebih baik dalam menghadapi kondisi tersebut.".
  119. ^ a b Pruitt & Packer (2013), hlm. 646–647.
  120. ^ a b c d Müller-Vahl (2013), hlm. 627.
  121. ^ Müller-Vahl (2013), hlm. 633.
  122. ^ a b c Fründt O, Woods D, Ganos C (April 2017). "Behavioral therapy for Tourette syndrome and chronic tic disorders". Neurol Clin Pract (Tinjauan). 7 (2): 148–156. doi:10.1212/CPJ.0000000000000348. PMC 5669407. PMID 29185535.
  123. ^ Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 250.
  124. ^ a b Bloch MH, Leckman JF (Desember 2009). "Clinical course of Tourette syndrome". J Psychosom Res (Tinjauan). 67 (6): 497–501. doi:10.1016/j.jpsychores.2009.09.002. PMC 3974606. PMID 19913654.
  125. ^ Woods DW, Himle MB, Conelea CA (2006). "Behavior therapy: other interventions for tic disorders". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 234–240. PMID 16536371.
  126. ^ a b c Sukhodolsky et al. (2017), hlm. 251.
  127. ^ Roessner V, Eichele H, Stern JS, et al. (November 2021). "European clinical guidelines for Tourette syndrome and other tic disorders-version 2.0. Part III: pharmacological treatment". Eur Child Adolesc Psychiatry. 31 (3): 425–441. doi:10.1007/s00787-021-01899-z. PMC 8940878. PMID 34757514. S2CID 243866351.
  128. ^ Zinner SH (Agustus 2004). "Tourette syndrome—much more than tics" (PDF). Contemporary Pediatrics. 21 (8): 22–49. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 September 2007. Diakses tanggal 20 Mei 2019.
  129. ^ Kumar A, Duda L, Mainali G, Asghar S, Byler D (2018). "A comprehensive review of Tourette syndrome and complementary alternative medicine". Curr Dev Disord Rep (Tinjauan). 5 (2): 95–100. doi:10.1007/s40474-018-0137-2. PMC 5932093. PMID 29755921.
  130. ^ Black N, Stockings E, Campbell G, et al. (Desember 2019). "Cannabinoids for the treatment of mental disorders and symptoms of mental disorders: a systematic review and meta-analysis". Lancet Psychiatry. 6 (12): 995–1010. doi:10.1016/S2215-0366(19)30401-8. PMC 6949116. PMID 31672337.
  131. ^ Szejko N, Worbe Y, Hartmann A, et al. (Oktober 2021). "European clinical guidelines for Tourette syndrome and other tic disorders-version 2.0. Part IV: deep brain stimulation". Eur Child Adolesc Psychiatry. 31 (3): 443–461. doi:10.1007/s00787-021-01881-9. PMC 8940783. PMID 34605960. S2CID 238254975.
  132. ^ Viswanathan A, Jimenez-Shahed J, Baizabal Carvallo JF, Jankovic J (2012). "Deep brain stimulation for Tourette syndrome: target selection". Stereotact Funct Neurosurg (Tinjauan). 90 (4): 213–224. doi:10.1159/000337776. PMID 22699684. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2017. Diakses tanggal 25 Januari 2020.
  133. ^ a b Rabin ML, Stevens-Haas C, Havrilla E, Devi T, Kurlan R (Februari 2014). "Movement disorders in women: a review". Mov. Disord. (Tinjauan). 29 (2): 177–183. doi:10.1002/mds.25723. PMID 24151214. S2CID 27527571.
  134. ^ a b c d e f Ba F, Miyasaki JM (2020). "Movement disorders in pregnancy". Neurology and Pregnancy: Neuro-Obstetric Disorders (Tinjauan). Handbook of Clinical Neurology. Vol. 172. hlm. 219–239. doi:10.1016/B978-0-444-64240-0.00013-1. ISBN 978-0-444-64240-0. PMID 32768090. S2CID 226513843. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  135. ^ a b c García-Ramos R, Santos-García D, Alonso-Cánovas, et al. (Maret 2021). "Management of Parkinson's disease and other movement disorders in women of childbearing age: Part 2". Neurologia (Engl Ed) (Tinjauan) (dalam bahasa Spanyol). 36 (2): 159–168. doi:10.1016/j.nrl.2020.05.012. hdl:2445/175997. ISSN 0213-4853. PMID 32980194. S2CID 224905452.
  136. ^ a b Kranick SM, Mowry EM, Colcher A, Horn S, Golbe LI (April 2010). "Movement disorders and pregnancy: a review of the literature". Mov. Disord. (Tinjauan). 25 (6): 665–671. doi:10.1002/mds.23071. PMID 20437535. S2CID 41160705.
  137. ^ Baxter K (5 Oktober 2019). "Column: Tim Howard, whose career is likely to end Sunday, will retire as the best U.S. goalkeeper ever". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Desember 2019. Diakses tanggal 28 Desember 2019.
  138. ^ a b Howard T (6 Desember 2014). "Tim Howard: Growing up with Tourette syndrome and my love of football". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 15 November 2016. Diakses tanggal 21 Maret 2015.
  139. ^ a b Novotny M, Valis M, Klimova B (2018). "Tourette syndrome: a mini-review". Front Neurol (Tinjauan). 9: 139. doi:10.3389/fneur.2018.00139. PMC 5854651. PMID 29593638.
  140. ^ Pappert EJ, Goetz CG, Louis ED, Blasucci L, Leurgans S (Oktober 2003). "Objective assessments of longitudinal outcome in Gilles de la Tourette's syndrome". Neurology. 61 (7): 936–940. doi:10.1212/01.wnl.0000086370.10186.7c. PMID 14557563. S2CID 7815576.
  141. ^ a b c d e f g Evans J, Seri S, Cavanna AE (September 2016). "The effects of Gilles de la Tourette syndrome and other chronic tic disorders on quality of life across the lifespan: a systematic review". Eur Child Adolesc Psychiatry (Tinjauan). 25 (9): 939–948. doi:10.1007/s00787-016-0823-8. PMC 4990617. PMID 26880181.
  142. ^ Abi-Jaoude et al. (2009), hlm. 564.
  143. ^ Leckman & Cohen (1999), hlm. 37. Kutipan asli: "For example, individuals who were misunderstood and punished at home and at school for their tics or who were teased mercilessly by peers and stigmatized by their communities will fare worse than a child whose interpersonal environment was more understanding and supportive." Terjemahan kutipan: Sebagai contoh, individu yang salah dimengerti dan dihukum di rumah maupun di sekolah akibat tik yang mereka alami, atau individu yang diejek tanpa henti oleh teman-temannya, dan memperoleh stigma dari komunitasnya, akan memiliki luaran yang lebih buruk dibandingkan anak yang memiliki lingkungan interpersonal yang lebih pengertian dan suportif."
  144. ^ Cohen DJ, Leckman JF, Pauls D (1997). "Neuropsychiatric disorders of childhood: Tourette's syndrome as a model". Acta Paediatr Suppl. 422. Scandinavian University Press: 106–111. doi:10.1111/j.1651-2227.1997.tb18357.x. PMID 9298805. S2CID 19687202. Kutipan asli: "The individuals with TS who do the best, we believe, are: those who have been able to feel relatively good about themselves and remain close to their families; those who have the capacity for humor and for friendship; those who are less burdened by troubles with attention and behavior, particularly aggression; and those who have not had development derailed by medication." Terjemahan kutipan: "Individu dengan TS yang melakukan yang terbaik, kami yakini, adalah: mereka yang mampu memiliki perasaan yang relatif baik mengenai diri mereka sendiri dan tetap dekat dengan keluarga mereka; mereka yang memiliki kapasitas untuk bercanda dan untuk menjalin pertemanan; mereka yang tidak terlalu terbebani oleh masalah perhatian dan perilaku, khususnya agresi; dan mereka yang perkembangannya tidak terganggu oleh pengobatan."
  145. ^ Müller-Vahl (2013), hlm. 630.
  146. ^ Gulati, S (2016). "Tics and Tourette Syndrome – Key Clinical Perspectives: Roger Freeman (ed)". Indian J Pediatr. 83 (11): 1361. doi:10.1007/s12098-016-2176-1. Kutipan asli: "Tic disorder is a common neurodevelopmental disorder of childhood. It is one of the commonest condition encountered by a pediatrician in office practice, especially in developed countries." Terjemahan kutipan: "Gangguan tik adalah gangguan perkembangan saraf umum pada masa kanak-kanak. Kondisi ini merupakan salah satu kondisi yang paling sering dijumpai oleh dokter anak di praktik mereka, khususnya di negara-negara maju."
  147. ^ Cohen, Jankovic & Goetz (2001), hlm. xviii.
  148. ^ Abuzzahab FE, Anderson FO (Juni 1973). "Gilles de la Tourette's syndrome; international registry". Minn Med. 56 (6): 492–496. PMID 4514275.
  149. ^ a b c Scahill L. "Epidemiology of tic disorders" (PDF). Medical letter: 2004 retrospective summary of TS literature. Tourette Syndrome Association. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Desember 2010. Diakses tanggal 11 Juni 2007.
  150. ^ Lihat juga Zohar AH, Apter A, King RA, et al (1999). "Epidemiological studies" dalam Leckman & Cohen (1999), hlm. 177–192.
  151. ^ Hawley JS (23 Juni 2008). "Tourette syndrome". eMedicine. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Agustus 2009. Diakses tanggal 10 Agustus 2009.
  152. ^ Leckman JF (November 2002). "Tourette's syndrome". Lancet (Tinjauan). 360 (9345): 1577–1586. doi:10.1016/S0140-6736(02)11526-1. PMID 12443611. S2CID 27325780.
  153. ^ Itard J (1825). "Mémoire sur quelques functions involontaires des appareils de la locomotion, de la préhension et de la voix". Arch Gen Med. 8: 385–407. Seperti yang dikutip dalam Newman S (September 2006). "'Study of several involuntary functions of the apparatus of movement, gripping, and voice' by Jean-Marc Gaspard Itard (1825)" (PDF). History of Psychiatry. 17 (67 Pt 3): 333–339. doi:10.1177/0957154X06067668. PMID 17214432. S2CID 44541188. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 Januari 2020. Diakses tanggal 25 Januari 2020.
  154. ^ Walusinski (2019), hlm. 167–169.
  155. ^ "What is Tourette syndrome?". Tourette Syndrome Association. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Januari 2012. Diakses tanggal 14 Januari 2012.
  156. ^ Walusinski (2019), hlm. xvii–xviii, 23.
  157. ^ Rickards H, Cavanna AE (Desember 2009). "Gilles de la Tourette: the man behind the syndrome". Journal of Psychosomatic Research. 67 (6): 469–474. doi:10.1016/j.jpsychores.2009.07.019. PMID 19913650.
  158. ^ Gilles de la Tourette G, Goetz CG, Llawans HL (1982). "Étude sur une affection nerveuse caractérisée par de l'incoordination motrice accompagnée d'echolalie et de coprolalie". Advances in Neurology: Gilles de la Tourette Syndrome. 35: 1–16. Seperti yang didiskusikan dalam Black KJ (30 Maret 2007). "Tourette syndrome and other tic disorders". eMedicine. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Agustus 2009. Diakses tanggal 10 Agustus 2009.
  159. ^ Robertson MM, Reinstein DZ (1991). "Convulsive tic disorder: Georges Gilles de la Tourette, Guinon and Grasset on the phenomenology and psychopathology of Gilles de la Tourette syndrome" (PDF). Behavioural Neurology. 4 (1): 29–56. doi:10.1155/1991/505791. PMID 24487352. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 November 2020. Diakses tanggal 17 Juni 2020.
  160. ^ Walusinski (2019), hlm. xi, 398: "Interne: Dokter yang bertugas di rumah sakit. Para interne tinggal di rumah sakit dan bertanggung jawab atas diagnosis dan terapi pasien. Chef de Clinique: Dokter atau residen senior. Pada tahun 1889, saat Gilles de la Tourette merupakan Chef de Clinique di bawah bimbingan Charcot ... ".
  161. ^ a b Blue T (2002). Tourette syndrome. Essortment, Pagewise Inc. Diakses tanggal 10 Agustus 2009.
  162. ^ Rickards H, Hartley N, Robertson MM (September 1997). "Seignot's paper on the treatment of Tourette's syndrome with haloperidol. Classic Text No. 31". Hist Psychiatry (Biografi sejarah). 8 (31 Pt 3): 433–436. doi:10.1177/0957154X9700803109. PMID 11619589. S2CID 2009337.
  163. ^ Gadow KD, Sverd J (2006). "Attention deficit hyperactivity disorder, chronic tic disorder, and methylphenidate". Adv Neurol (Tinjauan). 99: 197–207. PMID 16536367.
  164. ^ Brody JE (29 Mei 1975). "Bizarre outbursts of Tourette's disease victims linked to chemical disorder in brain". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Februari 2020. Diakses tanggal 19 Januari 2020.
  165. ^ Kushner (2000), hlm. 142–143, 187, 204, 208–212.
  166. ^ Cohen DJ, Leckman JF (Januari 1994). "Developmental psychopathology and neurobiology of Tourette's syndrome". J Am Acad Child Adolesc Psychiatry (Tinjauan). 33 (1): 2–15. doi:10.1097/00004583-199401000-00002. PMID 8138517. Kutipan asli: "[Pathogenesis of tic disorders involves] interactions among genetic factors, neurobiological substrates, and environmental factors in the production of the clinical phenotypes. The genetic vulnerability factors that underlie Tourette's syndrome and other tic disorders undoubtedly influence the structure and function of the brain, in turn producing clinical symptoms. Available evidence ... also indicates that a range of epigenetic or environmental factors ... are critically involved in the pathogenesis of these disorders." Terjemahan kutipan: "[Patogenesis gangguan tik melibatkan] interaksi antara faktor genetik, substrat neurobiologis, dan faktor lingkungan dalam produksi fenotip klinis. Faktor kerentanan genetik yang mendasari sindrom Tourette dan gangguan tik lainnya tidak diragukan lagi memengaruhi struktur dan fungsi otak, yang pada akhirnya menimbulkan gejala klinis. Bukti yang tersedia ... juga menunjukkan bahwa berbagai faktor epigenetik atau faktor lingkungan ... berperan sangat penting dalam patogenesis gangguan-gangguan tersebut."
  167. ^ Leckman & Cohen (1999), hlm. 408.
  168. ^ Leckman & Cohen (1999), hlm. 18–19, 148–151, 408.
  169. ^ Müller-Vahl (2013), hlm. 624; Kutipan asli: "... a few 'positive' aspects may be closely linked to TS. People with TS, for example, may have positive personality characteristics and talents such as punctuality, correctness, conscientiousness, a sense of justice, quick comprehension, good intelligence, creativity, musicality, and athletic abilities. For that reason, some people with TS even hesitate when asked whether they wish the disorder would disappear completely." Terjemahan kutipan: "...beberapa aspek 'positif' mungkin berkaitan erat dengan TS. Individu dengan TS, sebagai contoh, dapat memiliki karakteristik kepribadian dan bakat yang positif seperti ketepatan waktu, ketelitian, kehati-hatian, rasa keadilan, daya tangkap yang cepat, tingkat kecerdasan yang baik, kreativitas, bakat musik, dan bakat olahraga. Oleh karena itu, beberapa individu dengan TS bahkan ragu ketika ditanya apakah mereka ingin gangguan tersebut benar-benar hilang".
  170. ^ Portraits of adults with TS. Tourette Syndrome Association. Diakses tanggal 16 Juli 2011, versi archive.org dibuat tanggal 21 Desember 2011.
  171. ^ Keilman J (22 Januari 2015). "Reviews: The Game of Our Lives by David Goldblatt, The Keeper by Tim Howard". Chicago Tribune. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 21 Maret 2015.
  172. ^ Tim Howard receives first-ever Champion of Hope Award from the National Tourette Syndrome Association. Diarsipkan 30 Maret 2015 di Wayback Machine. Tourette Syndrome Association. 14 Oktober 2014. Diakses tanggal 21 Maret 2015.
  173. ^ Samuel Johnson. Tourette Syndrome Association. Diakses tanggal 7 April 2005, versi archive.org dibuat tanggal 30 Desember 2011.
  174. ^ Pearce JM (Juli 1994). "Doctor Samuel Johnson: 'the great convulsionary' a victim of Gilles de la Tourette's syndrome". J R Soc Med (Biografi sejarah). 87 (7): 396–399. doi:10.1177/014107689408700709. PMC 1294650. PMID 8046726.
  175. ^ Powell H, Kushner HI (2015). "Mozart at play: the limitations of attributing the etiology of genius to tourette syndrome and mental illness". Prog. Brain Res. (Biografi sejarah). 216: 277–291. doi:10.1016/bs.pbr.2014.11.010. PMID 25684294.
  176. ^ Bhattacharyya KB, Rai S (2015). "Famous people with Tourette's syndrome: Dr. Samuel Johnson (yes) & Wolfgang Amadeus Mozart (may be): Victims of Tourette's syndrome?". Ann Indian Acad Neurol. 18 (2): 157–161. doi:10.4103/0972-2327.145288. PMC 4445189. PMID 26019411.
  177. ^ Simkin B (1992). "Mozart's scatological disorder". BMJ (Biografi sejarah). 305 (6868): 1563–1567. doi:10.1136/bmj.305.6868.1563. PMC 1884718. PMID 1286388. Lihat juga: Simkin, Benjamin. Medical and musical byways of Mozartiana. Fithian Press. 2001. ISBN 1-56474-349-7 Review Diarsipkan 7 Desember 2005 di Wayback Machine., Diakses tanggal 14 Mei 2007.
  178. ^ Mozart:
  179. ^ Voss H (Oktober 2012). "The representation of movement disorders in fictional literature". J. Neurol. Neurosurg. Psychiatry (Tinjauan). 83 (10): 994–999. doi:10.1136/jnnp-2012-302716. PMID 22752692. S2CID 27902880.
  180. ^ Calder-Sprackman S, Sutherland S, Doja A (Maret 2014). "Tourette syndrome in film and television". The Canadian Journal of Neurological Sciences. 41 (2): 226–232. doi:10.1017/S0317167100016620. PMID 24534035. S2CID 39288755.
  181. ^ Lim Fat MJ, Sell E, Barrowman N, Doja A (2012). "Public perception of Tourette syndrome on YouTube". Journal of Child Neurology. 27 (8): 1011–1016. CiteSeerX 10.1.1.997.9069. doi:10.1177/0883073811432294. PMID 22821136. S2CID 21648806.
  182. ^ Holtgren B (11 Januari 2006). "Truth about Tourette's not what you think". Cincinnati Enquirer. Kutipan asli: "As medical problems go, Tourette's is, except in the most severe cases, about the most minor imaginable thing to have. ... the freak-show image, unfortunately, still prevails overwhelmingly. The blame for the warped perceptions lies overwhelmingly with the video media—the Internet, movies and TV. If you search for 'Tourette' on Google or YouTube, you'll get a gazillion hits that almost invariably show the most outrageously extreme examples of motor and vocal tics. Television, with notable exceptions such as Oprah, has sensationalized Tourette's so badly, for so long, that it seems beyond hope that most people will ever know the more prosaic truth." Terjemahan kutipan: "Sebagai suatu masalah medis, Tourette adalah, kecuali dalam kasus-kasus yang paling parah, merupakan suatu kondisi yang paling ringan yang dapat dialami seseorang. ... citra pertunjukkan orang aneh, sayangnya, masih sangat mendominasi. Kesalahan atas persepsi yang menyimpang tersebut sebagian besar terletak pada media video—Internet, film, dan TV. Jika anda menelusuri kata 'Tourette' di Google atau YouTube, anda akan mendapat sangat banyak hasil yang hampir selalu menampilkan contoh-contoh tik motorik dan vokal yang paling ekstrem. Tayangan televisi, dengan beberapa pengecualian seperti Oprah, telah menyesensasionalkan Tourette sedemikian parah dan dalam waktu yang begitu lama, sehingga tampaknya tidak ada harapan bagi sebagian besar orang untuk pernah memahami kenyataan yang lebih biasa dan tidak sensasional [dari sindrom Tourette]."
  183. ^ Media AS:
  184. ^ Guldberg H (26 Mei 2006). "Stop celebrating Tourette's". Spiked. Diarsipkan dari asli tanggal 14 Maret 2017. Diakses tanggal 26 Desember 2006.
  185. ^ Swerdlow NR (September 2005). "Tourette syndrome: current controversies and the battlefield landscape". Curr Neurol Neurosci Rep. 5 (5): 329–331. doi:10.1007/s11910-005-0054-8. PMID 16131414. S2CID 26342334.
  186. ^ Fernandez TV, State MW, Pittenger C (2018). "Tourette disorder and other tic disorders". Neurogenetics, Part I (Tinjauan). Handbook of Clinical Neurology. Vol. 147. hlm. 343–354. doi:10.1016/B978-0-444-63233-3.00023-3. ISBN 978-0-444-63233-3. PMID 29325623. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Kutipan asli: "Regardless of whether the focus is on discovering rare or common sequence or structural genetic variation, it is clear that large collections of biomaterials (likely in the tens of thousands) that are accessible by multiple research groups will be essential for success. Three consortia are now beginning to work toward this goal (TSAICG and TIC Genetics in the United States, and EMTics in the European Union); there is active collaboration among these groups, which will also be essential for success. However, the scale of the funded collection efforts, particularly in the United States, remains quite modest compared to other neuropsychiatric disorders in which there has been success in gene discovery." Terjemahan kutipan: Terlepas dari apakah fokusnya adalah menemukan variasi sekuens atau struktur genetik yang langka atau umum, jelas bahwa pengumpulan biomaterial dalam jumlah besar (kemungkinan mencapai puluhan ribu sampel) yang dapat diakses oleh berbagai kelompok peneliti akan menjadi hal penting bagi keberhasilan. Saat ini, tiga konsorsium (TSAICG dan TIC Genetics di Amerika Serikat, serta EMTics di Uni Eropa) mulai bekerja untuk mencapai tujuan tersebut; terdapat kolaborasi aktif antarkelompok tersebut yang juga menjadi hal penting bagi keberhasilan. Namun, skala upaya pengumpulan sampel yang didanai, khususnya di Amerika Serikat, masih relatif terbatas dibandingkan dengan gangguan neuropsikiatri lainnya yang telah berhasil mencapai kemajuan dalam penemuan gen."

Sumber buku

sunting
  • Abi-Jaoude E, Kideckel D, Stephens R, et al. (2009). "Tourette syndrome: a model of integration". Dalam Carlstedt RA (ed.). Handbook of Integrative Clinical Psychology, Psychiatry, and Behavioral Medicine: Perspectives, Practices, and Research. New York: Springer Publishing Company. ISBN 978-0-8261-1095-4.
  • Cohen DJ, Jankovic J, Goetz CG, ed. (2001). Tourette Syndrome. Advances in Neurology. Vol. 85. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 0-7817-2405-8.
  • Kushner HI (2000). A Cursing Brain?: The Histories of Tourette Syndrome. Harvard University Press. ISBN 0-674-00386-1.
  • Leckman JF, Cohen DJ (1999). Tourette's Syndrome—Tics, Obsessions, Compulsions: Developmental Psychopathology and Clinical Care. New York: John Wiley & Sons, Inc. ISBN 978-0-471-16037-3.
  • Martino D, Leckman JF, ed. (2013). Tourette syndrome. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-979626-7.
    • Bloch MH (2013). "Clinical course and adult outcome in Tourette syndrome". Dalam Martino D, Leckman JF (ed.). Tourette syndrome. Oxford University Press. hlm. 107–120.
    • Müller-Vahl KR (2013). "Information and social support for patients and families". Dalam Martino D, Leckman JF (ed.). Tourette syndrome. Oxford University Press. hlm. 623–635.
    • Pruitt SK, Packer LE (2013). "Tourette syndrome". Dalam Martino D, Leckman JF (ed.). Information and support for educators. Oxford University Press. hlm. 636–655.
  • Sukhodolsky DG, Gladstone TR, Kaushal SA, Piasecka JB, Leckman JF (2017). "Tics and Tourette Syndrome". Dalam Matson JL (ed.). Handbook of Childhood Psychopathology and Developmental Disabilities Treatment. Autism and Child Psychopathology Series. Springer. hlm. 241–256. doi:10.1007/978-3-319-71210-9_14. ISBN 978-3-319-71209-3.
  • Walkup JT, Mink JW, Hollenback PJ, ed. (2006). Advances in Neurology, Tourette Syndrome. Vol. 99. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 0-7817-9970-8.
  • Walusinski O (2019). Georges Gilles de la Tourette: Beyond the Eponym, a Biography. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-063603-6.

Bacaan lebih lanjut

sunting
  • McGuire JF, Murphy TK, Piacentini J, Storch EA (2018). The Clinician's Guide to Treatment and Management of Youth with Tourette Syndrome and Tic Disorders. Academic Press. ISBN 978-0-12-811980-8.
Klasifikasi