Njio Tjoen Ean
楊春淵
Majoor der Chinezen di Ambon
Mulai menjabat
1918
Informasi pribadi
Lahir15 Juli 1860
Ambon, Hindia Belanda
Meninggal15 Agustus 1925
PekerjaanPejabat kolonial, pendidik, penerjemah
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Njio Tjoen Ean (Hanzi: 楊春淵; lahir sekitar 15 Juli 1860 – 15 Agustus 1925) adalah seorang pejabat kolonial Tionghoa Indonesia, pendidik, dan penerjemah yang menjabat sebagai Majoor der Chinezen di Ambon pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Ia berperan sebagai perantara utama antara pemerintah kolonial dan komunitas Tionghoa setempat, serta dikenal atas kontribusinya dalam bidang pendidikan, kegiatan sosial, dan penerjemahan teks-teks klasik Konfusianisme ke dalam bahasa Melayu.

Kehidupan awal dan keluarga

sunting

Njio Tjoen Ean lahir di Ambon sekitar tahun 1860. Ia merupakan putra dari Njio Tjang Tjoan, yang menjabat sebagai Kapitein der Chinezen di Ambon pada periode 1856–1891. Setelah wafatnya sang ayah, Njio Tjoen Ean melanjutkan keterlibatan keluarganya dalam struktur pejabat Tionghoa di bawah pemerintahan kolonial.[1]

Ia memperoleh pendidikan di sekolah dasar Eropa di Ambon.

Karier sebagai pejabat Tionghoa

sunting

Njio Tjoen Ean meniti karier dalam sistem pejabat Tionghoa (Chineesche Officieren) yang digunakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda:

  • Diangkat sebagai Letnan der Chinezen pada tahun 1891
  • Dipromosikan menjadi Kapitein der Chinezen pada tahun 1905–1906
  • Diangkat sebagai Majoor der Chinezen pada tahun 1918

Sebagai Majoor der Chinezen di Ambon, ia merupakan pejabat tertinggi komunitas Tionghoa setempat dan bertugas sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan masyarakat Tionghoa.

Pelayanan publik dan kegiatan sosial

sunting

Laporan kontemporer dalam Het Weekblad voor Indië (1916) mencatat keterlibatan Njio Tjoen Ean dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan publik, termasuk:

  • Pengelolaan dan pengembangan dana bantuan bagi warga Tionghoa miskin
  • Prakarsa pembangunan kelenteng Tionghoa baru pada tahun 1892
  • Pembentukan dana pemakaman Tionghoa pada tahun 1893
  • Pemulihan kelenteng lama setelah kerusakan akibat gempa bumi tahun 1898
  • Keterlibatan dalam pendirian pemakaman umum Tionghoa di Urimessing

Pendidikan dan kebudayaan

sunting

Pada tahun 1903, di bawah kepemimpinannya, didirikan sekolah Tionghoa Poi Tek Hak Tong di Ambon, yang bertujuan memberikan pendidikan bahasa Belanda kepada anak-anak Tionghoa. Sekolah ini kemudian ditutup pada tahun 1911 setelah anak-anak Tionghoa diperbolehkan bersekolah di sekolah Eropa negeri.

Karya terjemahan

sunting

Njio Tjoen Ean menerjemahkan sejumlah teks klasik Konfusianisme ke dalam bahasa Melayu, terutama berdasarkan edisi berbahasa Belanda, di antaranya:

  • Soe Sie Pek Boen (1898)
  • Loen Gie (1899)

Peringatan 25 tahun masa jabatan

sunting

Pada tanggal 19 April 1916, Njio Tjoen Ean memperingati 25 tahun masa jabatannya sebagai pejabat Tionghoa di Ambon. Acara tersebut dilaporkan secara luas dan dihadiri oleh perwakilan komunitas Tionghoa serta pejabat pemerintah kolonial.[2]

Penghargaan dan status hukum

sunting

Njio Tjoen Ean menerima beberapa tanda jasa resmi, antara lain:

  • Silver Star for Loyalty and Merit (1905)
  • Small Gold Star for Loyalty and Merit (1912)

Pada tahun 1913, ia memperoleh status hukum yang disamakan dengan orang Eropa melalui keputusan resmi pemerintah kolonial.

References

sunting
  • Salmon, Claudine. Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, hlm. 261.
  • Het Weekblad voor Indië (1916).

Kehidupan awal dan keluarga

sunting

Njio Tjoen Ean lahir di Ambon sekitar tahun 1860. Ia merupakan putra dari Njio Tjang Tjoan, yang menjabat sebagai Kapitein der Chinezen di Ambon pada periode 1856–1891. Setelah wafatnya sang ayah, Njio Tjoen Ean melanjutkan tradisi kepemimpinan keluarga dalam struktur pejabat Tionghoa di Ambon.[3]

Ia menempuh pendidikan di sekolah dasar Eropa di Ambon.

Karier sebagai pejabat Tionghoa

sunting

Njio Tjoen Ean meniti karier dalam sistem pejabat Tionghoa (Chineesche Officieren) yang dibentuk oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda:

  • Diangkat sebagai Letnan Tionghoa pada tahun 1891
  • Dipromosikan menjadi Kapitein Tionghoa pada tahun 1905–1906
  • Diangkat sebagai Majoor Tionghoa pada tahun 1918

Sebagai Majoor der Chinezen, ia merupakan pejabat tertinggi komunitas Tionghoa di Ambon dan berperan sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan masyarakat Tionghoa.

Kegiatan sosial dan pelayanan masyarakat

sunting

Menurut laporan Het Weekblad voor Indië (1916), Njio Tjoen Ean dikenal luas atas kontribusinya dalam pelayanan sosial, antara lain:

  • Pengelolaan dana bantuan bagi warga Tionghoa miskin
  • Pembangunan kelenteng Tionghoa baru pada tahun 1892
  • Pembentukan dana pemakaman Tionghoa pada tahun 1893
  • Pemulihan kelenteng lama setelah gempa bumi tahun 1898
  • Peran dalam pendirian pemakaman umum Tionghoa di Urimessing

Pendidikan dan kebudayaan

sunting

Pada tahun 1903, di bawah kepemimpinannya, didirikan sekolah Tionghoa Poi Tek Hak Tong di Ambon, yang bertujuan memberikan pendidikan bahasa Belanda kepada anak-anak Tionghoa. Sekolah ini ditutup pada tahun 1911 setelah anak-anak Tionghoa diterima di sekolah Eropa.

Karya terjemahan

sunting

Njio Tjoen Ean menerjemahkan beberapa kitab klasik Konfusianisme ke dalam bahasa Melayu, antara lain:

  • Soe Sie Pek Boen (1898)
  • Loen Gie (1899)

Peringatan 25 tahun jabatan

sunting

Pada tanggal 19 April 1916, Njio Tjoen Ean memperingati 25 tahun masa baktinya sebagai pejabat Tionghoa di Ambon. Acara tersebut dihadiri oleh komunitas Tionghoa serta pejabat pemerintah kolonial.[4]

Penghargaan

sunting
  • Bintang Perak untuk kesetiaan dan jasa (1905)
  • Bintang Emas kecil untuk kesetiaan dan jasa (1912)

Pada tahun 1913, ia memperoleh status hukum yang disamakan dengan orang Eropa.

Referensi

sunting
  1. ^ Het Weekblad voor Indië, “De feestdag van Tjoen Ean Njio – Kapitein der Chinezen alhier”, 1916.
  2. ^ Het Weekblad voor Indië, 1916.
  3. ^ Het Weekblad voor Indië, “De feestdag van Tjoen Ean Njio – Kapitein der Chinezen alhier”, 1916.
  4. ^ Het Weekblad voor Indië, 1916.


  • Salmon, Claudine. Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, hlm. 261.
  • Het Weekblad voor Indië (1916).

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

ISSN

diintegrasikan dengan pengelolaan ISSN. Sama dengan ISBN, kodebar untuk ISSN memakai EAN-13 yang terdiri dari 13 digit. Namun, nomor ISSN terdiri dari kombinasi 8

ISBN

Namun, sejak Januari 2007 penulisan ISBN terjadi perubahan mengikuti pola EAN, menjadi 13 digit nomor. Bedanya terletak di tiga digit nomor pertama ditambah

Kode batang

Eropa dan seluruh dunia kecuali Amerika dan Kanada adalah EAN (European Article Number) – 13. EAN-13 standar terdiri dari: Kode negara atau kode sistem:

Daftar lagu yang diproduseri oleh Suga

Templat:EAN. Big Hit Entertainment (2015). The Most Beautiful Moment in Life, Pt. 1 (CD booklet). BTS. South Korea: Big Hit Entertainment. Templat:EAN. Big

Daftar pulau di Indonesia menurut luas wilayah

1°21′59″N 120°53′09″E / 1.3665°N 120.8859°Ö / 1.3665; 120.8859 Kecamatan Dako Pemean (Dako Pamean) Kabupaten Toli-Toli Sulawesi Tengah Poelau Dalangan, Poelau

Perean, Baturiti, Tabanan

Perean adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, provinsi Bali, Indonesia. Penduduk desa Perean sampai dengan tahun 2016

Bookland

negara fiktif yang hanya ada di dalam sistem kode batang Nomor Artikel Eropa (EAN), tempat negara ini berfungsi sebagai awalan unik untuk buku-buku yang diterbitkan

Puputan Margarana

senjata. Pada tanggal 19 November, Brigade Y tiba di pos-pos tentara di Perean, Baha, Kediri, Tabanan, Penebel, dan Jatiluwih untuk mencapai Marga dan