Regina Barzilay (lahir 1970) adalah ilmuwan komputer berdarah Israel-Amerika yang dikenal atas kontribusinya di bidang pemrosesan bahasa alami dan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam ilmu kedokteran, khususnya kimia dan onkologi. Ia merupakan profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan memimpin riset kecerdasan buatan di MIT Jameel Clinic.
Kehidupan awal dan pendidikan
suntingBarzilay lahir di Chișinău, Moldova, dan pindah ke Israel bersama keluarganya pada usia 20 tahun. Ia memperoleh gelar sarjana dan magister dari Ben-Gurion University of the Negev masing-masing pada tahun 1993 dan 1998. Gelar doktor di bidang ilmu komputer diperolehnya dari Columbia University pada tahun 2003 di bawah bimbingan Kathleen McKeown.[1]
Karier dan penelitian
suntingSetelah menyelesaikan studi doktoralnya, ia melanjutkan penelitian pascadoktoral selama satu tahun di Cornell University.[2] Pada tahun 2016, ia ditunjuk sebagai Delta Electronics Professor of Electrical Engineering and Computer Science di MIT.[3] Diagnosis kanker payudara yang dialaminya pada tahun 2014 menjadi titik balik dalam arah penelitiannya, mendorongnya untuk menerapkan kecerdasan buatan dalam pengembangan teknologi medis, khususnya untuk deteksi dan pengobatan kanker.[4] Pada tahun 2017, Barzilay dianugerahi MacArthur Fellowship atas kontribusinya di bidang sains dan teknologi.[5]
Dalam disertasi doktoralnya, Barzilay mengembangkan sistem bernama Newsblaster, yang mampu mengidentifikasi berita dari berbagai sumber sebagai satu topik utama dan kemudian menghasilkan ringkasan dengan memparafrase bagian-bagian informasi tersebut.[6] Di bidang linguistik komputasi, ia juga merancang algoritma yang dapat mempelajari anotasi dari bahasa yang telah banyak dipelajari, seperti bahasa Inggris, untuk diterapkan pada analisis bahasa yang belum banyak dipahami.
Barzilay juga aktif dalam penelitian penerapan machine learning dalam bidang onkologi. Bersama tim yang terdiri dari dokter dan mahasiswa, ia mengembangkan model pembelajaran mendalam yang mampu menganalisis citra medis, teks, dan data terstruktur guna mengidentifikasi pola yang berguna dalam proses diagnosis dini, pengembangan pengobatan, serta pencegahan penyakit.[7]
MIT Jameel Clinic
suntingPada 2018, Barzilay ditunjuk sebagai pemimpin bidang AI di MIT Jameel Clinic, pusat riset yang fokus pada ilmu kesehatan berbasis AI, meliputi deteksi penyakit, penemuan obat, hingga pengembangan alat medis.[8][9] Pada 2020, Barzilay bersama James J. Collins dan tim MIT Jameel Clinic berhasil menemukan senyawa antibiotik baru bernama halicin melalui deep learning. Halicin mampu membunuh lebih dari 35 bakteri berbahaya, termasuk tuberkulosis resisten antibiotik, superbug C. difficile, serta dua dari tiga bakteri paling mematikan versi Organisasi Kesehatan Dunia.[10][11][12] Tahun yang sama, Barzilay, Collins, dan MIT Jameel Clinic menerima pendanaan dari The Audacious Project untuk memperluas penelitian mereka dalam mengatasi krisis resistensi antibiotik dengan mengembangkan kelas antibiotik baru menggunakan AI.[13][14]
Daftar Referensi
sunting- ^ "Regina Barzilay, a BGU CS Alumna and an MIT Professor, wins MacArthur "genius grant"". Ben-Gurion University Dept. of Computer Science. Diakses tanggal 24 September 2020.
- ^ "'Genius grants' to Israeli computer linguist, opera kingpin with Israeli parents". Times of Israel.
- ^ "Regina Barzilay named Delta Electronics Professor". MIT News. Diakses tanggal 2017-11-23.
- ^ "MIT Professor, MacArthur Genius Fellow, Uses Computer Learning To Predict Cancer Risks". WBUR. Diakses tanggal 2017-11-21.
- ^ "Regina Barzilay". Diakses tanggal 2017-11-21.
- ^ "The Push for News Returns". WIRED. Diakses tanggal 2017-11-21.
- ^ "Putting data in the hands of doctors". MIT News. Diakses tanggal 2017-11-21.
- ^ "Regina Barzilay, James Collins, and Phil Sharp join leadership of new effort on machine learning in health". MIT News | Massachusetts Institute of Technology (dalam bahasa Inggris). 3 October 2018. Diakses tanggal 2020-11-13.
- ^ "People". J-Clinic (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-11-30. Diakses tanggal 2020-11-13.
- ^ Stokes, Jonathan M.; Yang, Kevin; Swanson, Kyle; Jin, Wengong; Cubillos-Ruiz, Andres; Donghia, Nina M.; MacNair, Craig R.; French, Shawn; Carfrae, Lindsey A.; Bloom-Ackermann, Zohar; Tran, Victoria M. (20 February 2020). "A Deep Learning Approach to Antibiotic Discovery". Cell. 180 (4): 688–702.e13. doi:10.1016/j.cell.2020.01.021. ISSN 1097-4172. PMC 8349178. PMID 32084340.
- ^ "Artificial Intelligence Yields New Antibiotic". The MIT Campaign for a Better World (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-11-13.
- ^ Marchant, Jo (2020-02-20). "Powerful antibiotics discovered using AI". Nature (dalam bahasa Inggris). doi:10.1038/d41586-020-00018-3. PMID 33603175. S2CID 214135545.
- ^ "Jim Collins receives funding to harness AI for drug discovery". MIT News | Massachusetts Institute of Technology (dalam bahasa Inggris). 23 April 2020. Diakses tanggal 2020-11-13.
- ^ Plato, Republished by (22 April 2020). "짐 콜린스, 약물 발견을 위해 AI를 활용하기위한 자금 지원 |" (dalam bahasa Korea). Diakses tanggal 2020-11-13.