Abū Naṣr Manṣūr
Lahirca 960
Gilan
Meninggal1036
Ghazni
Dikenal atasTrigonometri, Aturan sinus
Karier ilmiah
BidangAstronom, Matematikawan

Abū Naṣr Manṣūr bin ʿAlī bin ʿIrāq al-Jaʿdī (bahasa Persia: ابونصر منصور بن علی بن عراق جیلانی; c. 960 – 1036) adalah seorang matematikawan dan astronom Muslim dari Persia.[1] Ia adalah salah satu ilmuwan terkemuka dalam bidang matematika dan astronomi pada Zaman Kejayaan Islam.[2] Ia terkenal karena karyanya dengan aturan sinus bola.[3][4]

Abu Nashr Mansur lahir di Gilan, Persia, dari keluarga penguasa Khwarezmia, Afrighiyah.[5] Dengan demikian, ia adalah seorang pangeran dalam bidang politik. Ia adalah murid Abu'l-Wafa dan guru serta rekan penting matematikawan, Al-Biruni. Bersama-sama, mereka bertanggung jawab atas penemuan-penemuan besar dalam matematika dan mendedikasikan banyak karya untuk satu sama lain.

Sebagian besar karya Abu Nasri berfokus pada matematika, tetapi beberapa tulisannya membahas astronomi. Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting tentang trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolemeus. Ia juga melestarikan tulisan Menelaos dari Aleksandria dan mengolah ulang banyak teorema Yunani.

Ia meninggal di Kekaisaran Ghaznavid (sekarang Afganistan) di dekat kota Ghazna.

Lihat pula

sunting

Catatan kaki

sunting
  1. ^ Sajjadi, Sadeq; Rahimi, Simin (16 October 2015). "Abū Naṣr Manṣūr b. ʿIrāq". Dalam Madelung, Wilferd; Daftary, Farhad (ed.). Encyclopaedia Islamica.
  2. ^ Armi, Andi Nurfadilah; Nursalam, Nursalam; Mardhiah, Mardhiah; Kamal, St Ibrah Mustafa (2022-06-27). "KONTRIBUSI PEMIKIRAN ABU NASR MANSUR IBN 'ALI IBN 'IRAQ AL-JA'DI(960 M – 1036 M) PADA MATERI TRIGONOMETRI". Muslim Heritage (dalam bahasa Inggris). 7 (1): 217–234. ISSN 2502-5341.
  3. ^ Juga 'aturan sinus' (dalam geometri dan trigonometri, berlaku untuk trigonometri bola) dikaitkan antara lain dengan Alkhujandi. (Tiga lainnya adalah Abul Wafa Bozjani, Nashiruddin ath-Thusi and Abu Nashr Mansur). Razvi, Syed Abbas Hasan (1991) A history of science, technology, and culture in Central Asia, Volume 1 University of Peshawar, Peshawar, Pakistan, page 358, OCLC 26317600
  4. ^ Bijli memperkirakan ada tiga matematikawan yang bersaing untuk mendapatkan kehormatan tersebut, Alkhujandi, Abul-Wafa dan Mansur, tanpa Nashiruddin ath-Thusi. Bijli, Shah Muhammad and Delli, Idarah-i Adabiyāt-i (2004) Early Muslims and their contribution to science: ninth to fourteenth century Idarah-i Adabiyat-i Delli, Delhi, India, page 44, OCLC 66527483
  5. ^ Bosworth, C. E. "ĀL-E AFRĪḠ". Encyclopædia Iranica. Columbia University. Diarsipkan dari asli tanggal 16 November 2015. Diakses tanggal 17 January 2013.

Referensi

sunting

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Kekhalifahan Fathimiyah

Abū'l-Ḥasan 'Alī al-Ẓāhir li-I'zāz Dīn Allāh (1021-1036) Abū Tamīm Ma'add al-Mustanṣir bi-llāh (1036-1094) al-Musta'lī bi-llāh (1094-1101) pertikaian atas

Nāmarūpa

spesifik ayat-ayat ini: Snp 5.2, Pārāyanavagga, "The Questions of Ajita," ayat 1036-1037 Thanissaro (1994). Diarsipkan 26-12-2014 di Wayback Machine. Dalam menjelaskan

Isma'ilisme Musta'li

Fathimiyah kesembilan belas yang sah dan penerus ayahnya, al-Mustansir Billah (m. 1036–1094/1095). Sebaliknya, cabang Nizari—cabang lain dari Isma'ilisme yang saat

Nasir al-Dawla bin Hamdan

pemuda, Nasir al-Dawla diterima oleh khalifah Fathimiyah al-Zahir (m. 1021–1036) di Kairo. Ia kemudian diangkat menjadi gubernur Aleksandria, di mana ia

Distrik Don Mueang

Don Mueang (bahasa Thai: ดอนเมืองcode: th is deprecated , RTGS: Don Mueang, pelafalan [dɔ̄ːn mɯ̄a̯ŋ]; terj. har. 'dataran tinggi tempat kota tersebut berada';

Daftar Ash'aris

Al-Akhdari (d. 953 AH) Al-Hattab (d. 954 AH) Ahmad Baba al-Timbukti (d. 1036 AH) Al-Maqqari al-Tilimsani (d. 1041 AH) Ibrahim al-Laqani (d. 1041 AH) Muhammad

Lemon

for Hindu Women. Motilal Banarsidass Publishers. hlm. 116. ISBN 978-81-208-1036-5. Pal, Pratapaditya (1997). Divine Images, Human Visions: The Max Tanenbaum

Angka Jepang

perkataan oh. Namun, sebagai satu nomor, ia hanya ditulis sebagai 0 atau rei (零code: ja is deprecated ). Nomor 4 dan 9 dianggap sebagai membawa sial dalam budaya