Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (September 2025) |
Revenge Bedtime Procrastination (disingkat RBP) atau Prokrastinasi Waktu Tidur adalah fenomena psikologis di mana individu secara sadar menunda waktu tidur untuk memperoleh waktu pribadi setelah hari yang dipenuhi tuntutan eksternal.[1] Meskipun sadar akan dampak negatif kurang tidur terhadap kesehatan, individu tetap memilih untuk mengorbankan jam tidur demi perasaan memiliki kendali atas waktu.[2] Fenomena ini banyak diamati pada kelompok dengan tingkat stres akademik atau pekerjaan yang tinggi.[3]
Latar Belakang
suntingIstilah revenge bedtime procrastination pertama kali populer di Tiongkok sekitar tahun 2018, berasal dari ungkapan “bàofùxìng áoyè” yang berarti “begadang sebagai bentuk balas dendam terhadap siang hari yang penuh tekanan.” Konsep ini kemudian menarik perhatian penelitian psikologi modern karena menunjukkan keterkaitan antara stres, kontrol diri, dan perilaku kompensatif pada malam hari.[1]
Akar Emosional dan Dinamika Psikologis
suntingFenomena ini berakar pada perasaan kehilangan otonomi diri akibat jadwal yang padat dan kurangnya waktu pribadi.[1] Ketika siang hari didominasi kewajiban akademik atau profesional, malam menjadi satu-satunya waktu untuk “merebut kembali” kendali atas diri. Studi oleh Kholilah dan Dalimunthe (2025) menunjukkan bahwa tingkat self-control yang rendah berkorelasi signifikan dengan peningkatan kecenderungan RBP, menandakan bahwa fenomena ini lebih merupakan reaksi emosional daripada kebiasaan perilaku semata.[4]
Mekanisme Psikologis
suntingRBP mencerminkan paradoks kontrol diri, di mana seseorang mengorbankan kebutuhan biologis (tidur) demi merasakan kebebasan sesaat.[4] Aktivitas seperti scrolling media sosial, menonton video, atau bermain gim sering dipersepsikan sebagai bentuk self-care, padahal justru menimbulkan siklus kelelahan baru.[1]
Burnout dan Ego Depletion
suntingKelelahan mental dan emosional akibat beban aktivitas harian berkontribusi besar terhadap munculnya RBP. Konsep ego depletion menyatakan bahwa kemampuan mengatur diri menurun seiring penggunaan berulang sepanjang hari.[5] Sumbaga et al. (2024) menambahkan bahwa kondisi kelelahan ini menurunkan fungsi kognitif dan mendorong perilaku impulsif menjelang tidur.[6]
Aspek Neurobiologis
suntingSecara neurologis, pelemahan aktivitas Prefrontal Cortex (PFC), pusat pengambilan keputusan rasional, membuat sistem limbik lebih dominan.[7] Akibatnya, otak cenderung mengejar kesenangan jangka pendek melalui mekanisme dopaminergik. Pola ini serupa dengan sistem penghargaan variabel pada media sosial, di mana ekspektasi kesenangan memicu dopamine spikes yang memperpanjang perilaku terjaga.[8]
Doomscrolling dan Umpan Balik Dopamin
suntingKebiasaan doomscrolling, yaitu konsumsi berlebihan terhadap konten negatif atau netral di media sosial, memperkuat RBP melalui dua mekanisme: variable reward loop dan stress amplification.[8] Proses ini menimbulkan ilusi relaksasi sementara, padahal secara fisiologis justru meningkatkan stres dan mengganggu regulasi tidur.
Dissonansi Kognitif dan Rasionalisasi
suntingMenurut teori Cognitive Dissonance (Festinger, 1957), individu yang sadar akan pentingnya tidur namun tetap menundanya akan mengalami konflik internal. Untuk mengurangi ketegangan ini, muncul rasionalisasi seperti “hanya sebentar lagi” atau “ini bentuk self-care”.[9] Rasionalisasi tersebut berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri yang memperkuat siklus RBP.
Dampak terhadap Kesehatan dan Kognisi
suntingRBP berkontribusi terhadap gangguan tidur kronis, menurunkan sleep efficiency, dan mengganggu siklus REM yang penting untuk memori dan kestabilan emosi.[3] Penelitian oleh Khou et al. (2024) menunjukkan bahwa 59,5% mahasiswa mengalami RBP tingkat tinggi, dengan implikasi langsung terhadap performa akademik dan kesejahteraan psikologis.[2]
Pendekatan Intervensi
sunting1. Rebalancing Reward System
Menyediakan ruang mikro untuk rekreasi emosional di siang hari dapat mengurangi kebutuhan kompensasi malam hari. Terapi self-love terbukti efektif dalam menurunkan perilaku RBP.[1]
2. Sleep Hygiene
Praktik sleep hygiene, seperti menjauhkan perangkat digital sebelum tidur dan menjaga rutinitas tidur tetap konsisten, meningkatkan durasi serta kualitas tidur.[2]
3. Regulasi Berbasis Self-Compassion
Pendekatan self-compassion mendorong penerimaan diri tanpa rasa bersalah, membantu individu keluar dari pola self-sabotage.[6]
4. Implementation Intention
Merumuskan niat konkret, seperti “pukul 22.30 saya matikan layar dan membaca buku,” memperkuat keterlibatan PFC dan menurunkan impulsivitas malam hari.[10][5]
Referensi
sunting- ^ a b c d e Alqo'idah, Wardah; Nabila, Tsania Zahrotun; Ar-raza, Muhammad Firdaus; Supradewi, Ratna (Desember 2023). "Revenge Bedtime Procrastination: A Self-Love Phenomenon or Revenge Against Yourself?". Jurnal Psikologi Perseptual. 8 (2): 138–148.
- ^ a b c Khou, Meryl Adelyn; Sahrani, Riana; Marella, Bianca (2024-05-15). "GAMBARAN REVENGE BEDTIME PROCRASTINATION PADA MAHASISWA". Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan (dalam bahasa Inggris). 17 (1): 39–51. doi:10.24912/provitae.v17i1.29995. ISSN 2716-019X.
- ^ a b Sofyan, Dhesta Salsabella Azzahra; Purwanto, Purwanto (2023). "Hubungan Penundaan Waktu Tidur dengan Kualitas Tidur pada Mahasiswa" (PDF). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
- ^ a b Kholilah, Lu’lu; Dalimunthe, Hanifa Laura (2025-08-01). "Hubungan Self-Control dengan Bedtime Procrastination pada Mahasiswa Pengguna TikTok di Kota Padang". Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin (dalam bahasa Inggris). 1 (5): 2688–2698. doi:10.63822/6s998j24. ISSN 3089-7734.
- ^ a b Mursita, Lufi; Mustafida, Nurul; Rachmadia, Rizki (2019-12-31). "EGO DEPLETION AND ITS EFFECT ON AUDITORS' JUDGMENT AND DECISION-MAKING QUALITY". Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. 16 (2). doi:10.21002/jaki.2019.12. ISSN 2406-9701.
- ^ a b Sumbaga, Marchelina Febe (2024-04-29). "PENGARUH EGO DEPLETION TERHADAP KREATIVITAS MAHASISWA". Proyeksi: Jurnal Psikologi (dalam bahasa Inggris). 19 (1): 76–85. doi:10.30659/jp.19.1.76-85. ISSN 2656-4173.
- ^ Maharani, Satia Nur (2014). "Menelusuri Mekanisme Kerja Syaraf Otak Untuk Membuka Kotak Hitam Bias Psikologis Di Pasar Keuangan". Jurnal Keuangan dan Perbankan. 18 (3): 108040. doi:10.26905/jkdp.v18i3.822. ISSN 1410-8089.
- ^ a b Syakira, Naila Rinanda; Ifdil, Ifdil; Khairati, Annisaislami (2025-08-06). "Analisis doomscrolling pada mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, usia, dan intensitas penggunaan media sosial". Jurnal Konseling dan Pendidikan (dalam bahasa Inggris). 13 (2): 561–577. doi:10.29210/1164100. ISSN 2337-6880.
- ^ Athaya, Fadhila Hasna (2022-06-22). "Cognitive Dissonance pada Konteks Berkomunikasi dan Mencari Informasi di Ruang Digital: Fenomena Selective Exposure". JURNAL LENSA MUTIARA KOMUNIKASI (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 61–72. doi:10.51544/jlmk.v6i1.2535. ISSN 2579-8332.
- ^ Baumeister, R. F.; Bratslavsky, E.; Muraven, M.; Tice, D. M. (1998-05). "Ego depletion: is the active self a limited resource?". Journal of Personality and Social Psychology. 74 (5): 1252–1265. doi:10.1037//0022-3514.74.5.1252. ISSN 0022-3514. PMID 9599441.










