Farisi פרושים | |
|---|---|
| Pemimpin sejarah |
|
| Dibentuk | 167 SM |
| Dibubarkan | 73 M |
| Kantor pusat | Yerusalem |
| Ideologi | |
| Agama | Yahudi Rabinik |
Kaum Farisi (/ˈfærəsiːz/; Ibrani: פְּרוּשִׁים, romanized: Pərūšīm, har. 'orang-orang yang terpisah') adalah sebuah gerakan sosial dan aliran pemikiran agama Yahudi di Levant pada masa Yudaisme Bait Suci Kedua. Kata Farisi berasal dari bahasa Ibrani פרושים p'rushim, dari perush, yang berarti penjelasan.[2] Jadi kata Farisi berarti "orang yang menjelaskan" (לפרש, "lefareish - menjelaskan").[2] Terjemahan harfiahnya "memisahkan", tidak begitu akurat, karena "memisahkan" adalah להפריש "lehafrish," dari akar kata yang terkait dengan kata dalam bahasa Aram, upharsin (dan membagi) dalam tulisan di dinding dalam Kitab Daniel 5:25.[2] Kaum Farisi, tergantung dari waktunya, adalah sebuah partai politik, sebuah gerakan sosial, dan belakangan sebuah aliran pemikiran di antara orang-orang Yahudi yang berkembang pada masa Bait Suci Kedua (536 SM–70 M).[2] Setelah kehancuran Bait Suci Kedua pada tahun 70 M, kepercayaan Farisi menjadi dasar liturgis dan ritualistik bagi Yudaisme Rabbinik yang akhirnya menghasilkan Yudaisme yang tradisional dan normatif, dasar dari semua bentuk Yudaisme pada masa kini, dengan pengecualian barangkali kaum Karait.[2] Hubungan antara kaum Farisi dengan Yudaisme Rabinik (yang dicontohkan oleh Talmud) adalah demikian erat sehingga banyak orang tidak membedakan keduanya.[2] Namun, kedudukan sosial dan keyakinan kaum Farisi berubah-ubah dalam perjalanan waktu, bersamaan dengan perubahan dalam kondisi politik dan sosial di Yudea.[2] Meskipun kelompok ini tidak lagi ada, tradisi mereka sangat penting bagi berbagai gerakan keagamaan Yahudi.
Konflik antara kaum Farisi dan Saduki terjadi dalam konteks konflik sosial dan keagamaan yang jauh lebih luas dan berlangsung lama di antara orang Yahudi (diperparah oleh penaklukan Romawi).[3] Salah satu konflik bersifat budaya, antara mereka yang mendukung Helenisasi (kaum Saduki) dan mereka yang menentangnya (kaum Farisi). Konflik lainnya bersifat yuridis-religius, antara mereka yang menekankan pentingnya Bait Suci dengan ritus dan ibadahnya (kaum Saduki), dan mereka yang menekankan pentingnya Hukum Musa lainnya (kaum Farisi). Salah satu poin konflik keagamaan yang spesifik melibatkan perbedaan interpretasi Taurat dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan Yahudi: kaum Saduki hanya mengakui Taurat Tertulis. (תּוֹרָה שֶׁבִּכְתָב, Tōrā šebbīḵṯāv, '"Hukum Tertulis"'), menolak Nevi'im, Ketuvim, dan doktrin-doktrin seperti Taurat Lisan dan kebangkitan orang mati.
Sejarawan Yahudi kontemporer Yosefus, yang diyakini oleh banyak sejarawan sebagai seorang Farisi, memperkirakan ada sekitar 6.000 pengikut gerakan Farisi sebelum jatuhnya Bait Suci Kedua.[4] Ia mengatakan bahwa pengaruh Farisi atas rakyat jelata begitu besar sehingga apa pun yang mereka katakan menentang raja atau imam besar dipercaya,[5] ampaknya berbeda dengan kaum Saduki yang lebih elit, yang merupakan kelas atas. Kaum Farisi mengklaim otoritas Musa untuk penafsiran mereka[6] terhadap hukum agama Yahudi, sementara kaum Saduki mewakili otoritas hak istimewa dan prerogatif keimaman yang telah ditetapkan sejak zaman Salomo, ketika Zadok, leluhur mereka, menjabat sebagai imam besar.
Latar belakang
suntingDari literatur rabinik, kaum Farisi digambarkan sebagai pengamat dan penegak hukum Taurat yang sangat teliti.[2] Dalam gulungan naskah-naskah Laut Mati, kaum Farisi dikatakan sebagai kaum yang suka mencari dan memperhatikan hal-hal yang sangat kecil.[2] Mereka menjadi pengamat pelaksanaan hukum yang sangat teliti, karena mereka memiliki kerangka berpikir bahwa Allah mencintai orang yang taat hukum dan menghukum yang tidak patuh.[2] Keprihatinan utama kaum Farisi adalah mengenai pembaruan Israel.[2]
Kaum Farisi adalah pemimpin spiritual Yahudi yang berkembang pada masa Bait Allah ke-2, sekitar abad ke 2 SM.[7] Menurut para ahli, kaum Farisi adalah perkembangan dari kelompok Hasidim.[7] Kelompok Hasidim adalah kelompok yang menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh.[7] Kelompok Hasidim memisahkan diri dari orang biasa.[7]
Menurut Yosefus Falvius, pada masa pemerintahan Yohanes Hirkanus (135-104 SM), kaum Farisi mulai menunjukkan pengaruhnya di kalangan masyarakat.[8] Kaum Farisi juga memiliki pengaruh di bidang politik, terutama pada masa Salome Alexandra (76-67 SM).[8] Namun, setelah Roma berkuasa pada tahun 63 M, kaum Farisi kembali pada peranan asli mereka sebagai kelompok yang menjelaskan hukum secara terperinci, dan arbitrator perselisihan-perselisihan dalam komunitas tersebut.[8] Sebenarnya mereka tidak sepenuhnya lepas tangan terhadap masalah-masalah politik.[8] R. Simeon ben Gamaliel I dan beberapa pemimpin Farisi lainnya memberontak terhadap Romawi pada tahun 66-70 M dan pada tahun 132-135 M saat pemberontakan Bar Khokba.[8]
Pemikiran dasar orang Farisi berakar pada zaman Ezra dan Nehemia.[8] Ezra dan Nehemia menguraikan secara rinci dan menafsirkan hukum yang tidak tertulis itu. Ezra dan Nehemia melarang perkawinan campuran.[8] Nehemia memberlakukan peraturan bagi sabat dan memberlakukan persembahan persepuluhan.[8] Dapat dikatakan bahwa kaum Farisi mengikuti jejak-jejak Ezra dan Nehemia.[8] Ezra dan Nehemia telah menetapkan ulang kedudukan Torah pada masyarakat Yahudi keturunan Yehuda.[8]
Ajaran tentang hukum
suntingKonsep dasar agama bagi kaum Farisi adalah kepercayaan.[8] Pembuangan ke Babel dipahami sebagai akibat dari kegagalan Israel mematuhi hukum Taurat.[8] Pelaksanaan Taurat adalah tugas perseorangan dan tugas nasional.[9]
Orang Farisi membedakan hukum tertulis dan hukum lisan.[8] Kaum Farisi menekankan ketaatan pada hukum tak tertulis (Oral Law).[8] Hukum tertulis harus dipelajari dan ditafsirkan dalam terang tradisi lisan untuk memenuhi konteks zaman yang berubah-ubah.[8] Jika Torah tidak ditafsirkan, maka hukum tersebut tidak akan kontekstual lagi.[8] Oleh karena itu, mereka juga memiliki kemampuan yang luar biasa dalam menafsirkan Torah.[8] Kaum Farisi membentuk sistem hukum yang diinterpretasikan dan harus dipatuhi oleh kelompoknya dengan tujuan untuk menjaga agar mereka tidak melanggar Torah.[8] Terkadang, muncul banyak perbedaan dalam tafsiran hukum yang sering menimbulkan perdebatan di antara kaum Farisi sendiri.[8] Kepandaian kaum Farisi dalam menafsir ini diperoleh dari proses pendidikan agama secara akademis.[8] Sekolah seperti Hillel dan Shammai mulai berkembang pada abad ke-1 SM di kota Yavneh.[8]
Tipe-tipe
suntingDi dalam Talmud, dituliskan tentang beberapa tipe orang Farisi.[10] Ada jenis orang Farisi yang menyombongkan kebaikan-kebaikannya.[10] Ada juga orang Farisi yang memalingkan wajahnya untuk menghindari melihat perempuan.[10] Ada orang Farisi yang sering mengangguk-anggukan kepalanya seolah-olah bijaksana.[10] Ada orang Farisi yang menghitung kebaikannya, Ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena takut.[10] Ada orang Farisi yang mematuhi Allah karena mengasihi Allah.[10]

Perbedaannya dengan Saduki
suntingKaum Farisi meyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya malaikat, kedatangan mesias yang diutus Allah pada masa yang akan datang untuk membebaskan mereka dari belenggu penjajahan Roma.[11] Akan tetapi, kaum Saduki tidak mengakui kekekalan jiwa manusia dan kuasa takdir.[9] Pada dasarnya, Saduki menganggap bahwa ibadah di bait suci adalah pusat dan tujuan utama dari hukum Taurat.[9] Farisi menekankan kewajiban seseorang dalam melakukan setiap segi hukum Taurat, ibadah di bait suci hanyalah sebagian saja dari hukum Taurat.[9]
Referensi
sunting- ^ Roth, Cecil (1961). A History of the Jews. Schocken Books. hlm. 84. Diakses tanggal 6 October 2018.
- ^ a b c d e f g h i j k (Inggris) R. J. Zwi Werblowsky & Geofrrey Wugoder (Ed.), The Oxford Dictionary of Jewish Religion, (New York: Oxford University Press, 1997). Hal 528.
- ^ Sussman, Ayala; Peled, Ruth. "The Dead Sea Scrolls: History & Overview". www.jewishvirtuallibrary.org. Diakses tanggal 6 October 2018.
- ^ Antiquities of the Jews, 17.2.4
- ^ Josephus, Flavius. The Antiquities of the Jews, 13.288.
- ^ Ber. 48b; Shab. 14b; Yoma 80a; Yeb. 16a; Nazir 53a; Ḥul. 137b; et al.
- ^ a b c d (Inggris) George Foot More, Judaism. USA: Hendrickson Publisher, 1960. Hal 59.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u (Inggris) Werblowsky, The Encyclopedia of Jewish Religion. New York, Adama Books, 1986. Hal 550-551.
- ^ a b c d Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jakarta: Yayasan Bina Kasih OFM, Hal 299.
- ^ a b c d e f (Inggris) Hans Kung, Judaism: The Religious Situation of Our Times. Munich: SCM Press LTD, 1991. Hal. 327.
- ^ Albert Nolan, Yesus Sebelum Agama Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 1991. Hal 23-24.
Rujukan
sunting- Boccaccini, Gabriele 2002 Roots of Rabbinic Judaism ISBN 0-8028-4361-1
- F.F. Bruce, The Book of Acts, Revised Edition (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1988)
- Cohen, Shaye J.D. 1988 From the Maccabees to the Mishnah ISBN 0-664-25017-3
- Fredriksen, Paula 1988 From Jesus to Christ ISBN 0-300-04864-5
- Neusner, Jacob Torah From our Sages: Pirke Avot ISBN 0-940646-05-6
- Neusner, Jacob Invitation to the Talmud: a Teaching Book (1998) ISBN 1-59244-155-6
- Roth, Cecil A History of the Jews: From Earliest Times Through the Six Day War 1970 ISBN 0-8052-0009-6
- Schwartz, Leo, ed. Great Ages and Ideas of the Jewish People ISBN 0-394-60413-X
Pranala luar
sunting- Resources > Second Temple and Talmudic Era > Jewish Sects Diarsipkan 2006-05-07 di Wayback Machine. The Jewish History Resource Center - Project of the Dinur Center for Research in Jewish History, The Hebrew University of Jerusalem
- Jewish Encyclopedia: Pharisees Diarsipkan 2011-06-06 di Wayback Machine.










