Brigadir
Aubertin Mallaby
CIE OBE
Delegasi dari Indonesia berbicara pada Mallaby (tengah)
Lahir12 Desember 1899
Perserikatan Kerajaan Britania Raya dan Irlandia
Meninggal30 Oktober 1945(1945-10-30) (umur 45)
Surabaya, Indonesia
DikebumikanEreveld Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Indonesia
PengabdianIndia Britania
 Britania Raya
Dinas/cabang Angkatan Darat India Britania
Lama dinas1918–1945
PangkatMayor Jenderal (anumerta)
KesatuanPunjabi ke-27
Resimen Punjab ke-15
KomandanBrigade Infanteri India ke-49
Perang/pertempuran

Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby CIE OBE (12 Desember 1899 – 30 Oktober 1945) adalah seorang perwira Angkatan Darat India Britania yang terbunuh dalam baku tembak saat Pertempuran Surabaya di wilayah yang saat itu baru saja diproklamasikan sebagai Republik Indonesia merdeka selama Revolusi Nasional Indonesia. Pada saat kematiannya, Mallaby adalah Komandan Militer dari Brigade Infanteri India ke-49. Kematian Mallaby menjadi peristiwa besar di Surabaya seputar kemerdekaan Indonesia, yang memicu serangan militer balasan oleh Divisi Infanteri India ke-5.[1]

Kematian dan pecahnya Pertempuran 10 November

sunting

Mallaby memimpin pasukannya memasuki Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang sesuai dengan isi Perjanjian Yalta. Tujuan ini mendapat perlawanan dari pasukan Indonesia karena AFNEI menuntut mereka menyerahkan senjata-senjata yang telah dirampas pihak Indonesia terlebih dahulu dari Jepang. Timbullah beberapa konflik bersenjata antara kedua pasukan, yang salah satunya terjadi pada 30 Oktober 1945 di dekat Jembatan Merah, Surabaya. Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby dicegat oleh pasukan dari pihak Indonesia sewaktu hendak melintasi jembatan dan mengakibatkan terjadi baku tembak yang berakhir dengan tewasnya Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil Mallaby akibat ledakan sebuah granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.[2]

Mobil Brigadir Mallaby yang terbakar di mana ia terbunuh pada 30 Oktober 1945.

Kematian Mallaby menyebabkan Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.

Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan tuduhan dan dugaan Inggris bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia dan Mallaby dibunuh secara licik. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak dengan pasukan pihak Indonesia, dimana mereka tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi dari Mallaby. Menurut Tom Driberg dalam debatnya di Parlemen Inggris, setelah memerintahkan penghentian baku tembak oleh pasukan India tersebut, dalam satu titik dalam diskusi gencatan senjata, Mallaby kembali memerintahkan untuk memulai tembakan kembali. Hal ini berarti gencatan senjata telah pecah karena perintah Mallaby dan Mallaby tewas dalam aksi pertempuran, bukan dibunuh secara licik.[2] Tepatnya, 27 Oktober 1945. Sekitar pukul 11.00, sebuah pesawat terbang Dakota yang datang dari Jakarta, menebarkan ribuan lembar pamflet di udara Kota Surabaya.

Pamflet itu berisi seruan kepada semua pihak termasuk kepada para warga Kota Surabaya agar melucuti senjata mereka atau mereka menghadapi dilumpuhkan dengan senjata.

“Persons beeing arms and refusing to deliver them to the Allied Forces are liable to be shot,” demikian bunyi pamflet itu.

Bagi para pejuang, isi pamflet tersebut jelas menunjukkan niat Inggris untuk mendudukkan Belanda kembali sebagai penguasa di Indonesia.

Seketika itu juga, sejumlah tokoh Surabaya pun mengadakan pertemuan. Mereka membahas berbagai pertimbangan dan memperhitungkan beberapa kemungkinan. Apabila mereka menyerahkan senjata kepada Sekutu, berarti pihak Indonesia akan lumpuh, karena tidak mempunyai kekuatan lagi. Apabila tidak menyerahkan senjata, ancamannya akan ditembak di tempat oleh pasukan Inggris/ Sekutu.

Kubu Indonesia memperhitungkan, pihak Inggris tidak mengetahui kekuatan pasukan serta persenjataan lawannya. Sedangkan telah diketahui dengan jelas, bahwa kekuatan Inggris hanyalah satu brigade, atau sekitar 5.000 orang. Selain itu mereka baru dua hari mendarat pada 25 Oktober 1945 dan dipastikan tak mengerti liku-liku Kota Surabaya.

Lokasi terbunuhnya Mallaby di Jembatan Merah.

Setelah pertemuan rupanya strategi Carl von Clausewitz, pakar teori militer sekutu, yang menjadi keputusan,”Angriff ist die beste Verteidigung” (menyerang adalah pertahanan yang terbaik). maka dengan suara bulat diputuskan tidak menyerah. Perintah diberikan langsung Komandan Divisi Surabaya, Mayor Jenderal Yonosewoyo.

Minggu 28 Oktober 1945, sekitar pukul 04.30 WIB.

Usai subuh, serangan besar-besaran pun mulai dilancarkan dengan satu tekad, tentara Inggris yang membantu Belanda harus dihalau dari Surabaya.

Serangan itu di luar dugaan pihak Inggris pimpinan Mallaby yang salah satunya melucuti tentara Jepang sesuai dengan isi Perjanjian Yalta. Pihak Inggris pun akhirnya meladeni serangan dan terjadi pertempuran kota.

Timbullah beberapa konflik bersenjata tak seimbang antara kedua pasukan, yang salah satunya terjadi pada 30 Oktober 1945 di dekat Jembatan Merah, Surabaya. Mobil Buick yang ditumpangi Mallaby dicegat oleh pasukan dari pihak Indonesia sewaktu hendak melintasi jembatan dan mengakibatkan terjadi baku tembak yang berakhir dengan tewasnya Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tidak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil Mallaby akibat ledakan sebuah granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Brigadir A.W.S. Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 pukul 20.30 WIB.

Kematian Mallaby inilah yang dianggap kemudian memicu terjadi peperangan lebih besar lagi. Mayor Jenderal E.C. Mansergh, pengganti Mallaby, mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 untuk menyerahkan senjata tanpa syarat. Pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.

Sejarawan Surabaya, Suparto Brata juga mengatakan, hingga detik ini siapa yang menewaskan Mallaby tetap menjadi misteri. “Tidak ada yang tahu atau saksi mata yang melihat siapa yang membunuh Mallaby,” ujar Suparto Brata.

Mengenaskannya kondisi Mallaby pun juga sempat menimbulkan perdebatan di internal pemerintahan Inggris kala itu. Dalam sejumlah literatur, Tom Driberg, seorang anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party), saat itu menyangkal terbunuhnya Mallaby dengan cara licik.

Ia mengatakan, baku tembak yang terjadi di dekat gedung Internatio dipicu kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak dengan pasukan pihak Indonesia.

“Mereka tidak tahu gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi dari Mallaby,” ujar Driberg. Menurut Tom Driberg, dalam debatnya di Parlemen Inggris, setelah memerintahkan penghentian baku tembak oleh pasukan India tersebut, dalam satu titik dalam diskusi gencatan senjata, Mallaby kembali memerintahkan untuk memulai tembakan kembali.

“Hal ini berarti gencatan senjata telah pecah karena perintah Mallaby dan Mallaby tewas dalam aksi pertempuran, bukan dibunuh secara licik,” lanjut Driberg.

Dalam ceritanya yang dituangkan dalam sebuah buku, almarhum Roeslan Abdulgani juga menceritakan, kalau pertempuran di depan gedung Internatio dipicu oleh tentara Inggris yang terkurung di dalam gedung melakukan tembakan membabi buta ke arah para pejuang.

“Namun siapa yang membunuh, belum pernah ada saksi mata,” ujar almarhum Roeslan. Kematian Mallaby tetap dalam misteri.

Karier militer

sunting

Kehidupan pribadi

sunting

Mallaby menikah dengan Margaret Catherine Jones (dikenal sebagai Mollie) pada tanggal 9 April 1935 di Gereja St Mark, North Audley Street, London.[4] Mallaby dimakamkan di Pemakaman Komisi Makam Perang Persemakmuran di Menteng Pulo, Jakarta.[5] Putranya, Sir Christopher Mallaby, kemudian menjadi Duta Besar Inggris untuk Jerman (1988-1992) dan Prancis (1993-1996).

Rujukan

sunting
  • Ensiklopedi Nasional Indonesia, Edisi 1990, Jilid 10
  • Batara R. Hutagalung: “10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?" Millenium Publisher, Jakarta Oktober 2001, xvi + 472 halaman

Referensi

sunting
  1. ^ "Anthony Brett-James. Ball of Fire. Fifth Indian Division in the Second World War. 1951. Chapter 32. Epilogue. Appendices". ourstory.info. Diarsipkan dari asli tanggal 14 February 2012. Diakses tanggal 15 January 2022.
  2. ^ a b Batara R. Hutagalung: "10 November ’45. Mengapa Inggris Membom Surabaya?" Penerbit Millenium, Jakarta Oktober 2001, cetakan xvi, 472 halaman
  3. ^ Profil di Generals.dk
  4. ^ "Marriages". The Times. 10 April 1935. hlm. 17.
  5. ^ Jakarta Post, Menteng Pulo, a graveyard.

Pranala luar

sunting

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Komune di departemen Pyrénées-Atlantiques

64260 Aste-Béon 64070 64450 Astis 64071 64390 Athos-Aspis 64072 64290 Aubertin 64073 64230 Aubin 64074 64330 Aubous 64075 64190 Audaux 64077 64450 Auga

Bernard-Nicolas Jean-Marie Aubertin

Bernard-Nicolas Jean-Marie Aubertin OCist (lahir 9 September 1944 di Épinal) adalah seorang rohaniwan Katolik Roma Prancis. Ia terakhir kali menjabat sebagai

Kota Surabaya

tercapai persetujuan antara Ario Soerjo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Aubertin Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata

Moestopo

negosiasi dengan pasukan ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby. Ketika hubungan memburuk dan Presiden Soekarno

Ario Soerjo

perjanjian gencatan senjata dengan komandan pasukan Inggris Brigadir Jenderal Aubertin Mallaby di Surabaya pada tanggal 26 Oktober 1945. Namun tetap saja meletus

Soekarno

Sekitar 300 tentara India terbunuh (termasuk komandan mereka Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby), begitu pula ribuan anggota milisi nasionalis dan

Revolusi Nasional Indonesia

Tentara Indonesia di jalanan, November 1949. Sisa-sisa mobil Brigadir Aubertin Mallaby, tempat ia gugur pada 30 Oktober 1945 selama Pertempuran Surabaya

Garis waktu sejarah Kota Surabaya

Surabaya, menyerah kepada sekutu. 30 Oktober – Perwira Angkatan Darat Inggris Aubertin Walter Sothern Mallaby terbunuh di mobilnya 10 November – Tentara Inggris