📑 Table of Contents

RODIYA merupakan sastra lisan Minangkabau berbentuk pendendangan pantun-pantun diiringi tabuhan rodiya dan tarian. Nama rodiya ini berasal dari nama instrumen tabuh yang digunakan dalam pertunjukkan ini yaitu rodiya juga. Instrumen ini sejenis rebana berukuran besar. Bagian yang ditabuh ditutupi kulit lembu. Permukaannya lebih besar dari bagian belakangnya. Permukaan instrumen berdiameter 65 cm sementara bagian belakangnya berdiameter 20 cm.[1]

Kelompok-kelompok adok banyak dijumpai di daerah Singkarak, seperti Nagari Koto Sani, Nagari Singkarak, Nagari Aripan, dan Nagari Saniangbaka.[2]

Adok dipelajari dengan berguru. Dalam tradisi lokal, untuk mendaftarkan diri sebagai pemain adok, peserta harus menyembelih ayam sebagai tanda sahnya ia menjadi murid.[3]

Pertunjukkan

sunting

Adok dipertunjukkan oleh 5 orang, 1 sebagai pendendang sekaligus penabuh adok dan 4 sebagai penari.[1] Seluruh penampil adalah laki-laki karena penampil perempuan belum begitu berterima di masyarakat umum. Meski demikian, penampil perempuan ada di Saningbakar dan diterima oleh masyarakatnya.[3] Pada permulaan pertunjukkan adok, 2 penari laki-laki tampil berpakaian hitam, disebut guntiang manih, dan bercelana galembong atau endong. Karakter wanita dalam adok, disebut biduan, diperankan oleh laki-laki. Laki-laki ini mengenakan pakaian selayaknya bundo kanduang, bersongket, berbaju kurung, dan batikuluak tanduk.[4][1]

Tarian dalam adok seperti randai, yaitu bergerak melingkar dengan dasar gerakan pencak silat.[1] Gerakan-gerakannya memiliki nama, seperti barabah pulang mandi,[5] tupai bagaluik,[6] barabah tabang duo,[7] dan batu alia[8].[3]

Pertunjukkan adok terdiri dari lima bagian yang disebut limo tunggak. Setiap tunggak memiliki dendang berirama berbeda dari tunggak yang lain. Tunggak pertama berirama pado-pado. Sementara itu, tunggak-tunggak selanjutnya berirama bebas antara adau-adau, dindin-dindin, dendang-dendang, dan buai-buai. Selaras dengan irama yang berbeda tiap tunggak, tarian pun berbeda menyesuaikan irama.[1]

Sastra lisan ini disampaikan dengan irama khas Solok, yaitu dendang Singkarak karena hanya terdapat di daerah Singkarak. Dendang ini berciri pemanjangan bunyi-bunyi vokal dengan bunyi sengau. Contohnya, buyuang akan didendangkan bu-ngu-ngu-ngu-yuang dalam dendang Singkarak ini.[1]

Adok biasanya ditampilkan dalam pesta perkawinan atau baralek, khususnya dalam alek marapulai katurun atau pesta di rumah mempelai laki-laki dan dalam upacara batagak pangulu atau upacara pengukuhan penghulu baru. Adok ini berfungsi sebagai puncak acara sehingga baru ditampilkan pada sore hari (pukul dua atau setelahnya).[3]

Oleh masyarakat lokal, adok dianggap pertunjukkan yang beradat. Adok afdal bila dipertunjukkan di rumah berlantai papan. Masyarakat akan menganggap adok berhasil bila terdapat satu atau dua papan lantai rumah yang patah selama pertunjukkan adok. Dengan demikian, didapatilah tuah adok menurut masyarakat setempat.[3]

Catatan kaki

sunting
  1. ^ a b c d e f Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 81.
  2. ^ Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 83.
  3. ^ a b c d e Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 82.
  4. ^ batikuluak tanduk: selendang tenun bercorak songket dilipat hingga menyerupai tanduk sebagai tutup kepala wanita.
  5. ^ barabah pulang mandi: berabah pulang mandi.
  6. ^ tupai bagaluik: tupai berkelahi.
  7. ^ barabah tabang duo: berabah terbang dua.
  8. ^ batu alia: batu licin.

Referesi

sunting
  • Amir, Adriyetti; Anwar, Khairil (2006). Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press. ISBN 979109708-9.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Ngamai adok

Ngamai adok adalah pemberian gelar yang dilakukan dalam upacara adat Lampung, ngamai adok juga merupakan salah satu tardisi yang ada didaerah Lampung Pepadun

Suku Lampung

datang di dalam kehidupan. Keberanian adalah bagian dari harga diri. Juluk-Adok, mengandung ajaran: Selalu menggunakan nama-nama panggilan yang baik terhadap

Zulkifli Hasan

Pada tahun 2011, Zulkifli Hasan bersama istrinya Soraya mendapat gelar adat ADOK dari Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL), Zulkifli Hasan mendapatkan gelar

Sastra Lampung

pasangan pengantin itu diberi adek/adok sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Pemberian adek/adok dilakukan dalam upacara adat yang

Pulau Adonara

mengatakan bahwa nama Adonara terbentuk dari dua kata Lamaholot yaitu adok dan nara. Adok artinya mengadu, menyuruh berkelahi dan nara artinya saudara. Berdasarkan

Begawi

pesisir Lampung. Upacara adat besar yang disertai pemberian gelar atau juluk adok memang menjadi ciri khas dari adat Lampung Pepadun. Setiap orang memiliki

Suku Komering

rendah dari Tawak-Tawak, dipakai saat pencanangan Jajuluk (Julukan) atau Adok (Gelar). Baju dalam Bahasa Komering disebut kawai, sedangkan pengantin mempelai

Dendi Ramadhona

2021–2025. Bupati Kabupaten Pesawaran Dendi Ramadhona dianugerahi gelar adat (adok) Umpu Bukuk Jadi oleh masyarakat adat Makhga Bukuk Jadi, Desa Gedung Gumanti